Global-News.co.id
Indeks Kesehatan Utama

Begini Cara Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi

Psikiater dr Nalini Muhdi SpKJ dalam webinar bertajuk Kesehatan Jiwa Jurnalis di Tengah Pandemi yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Rabu (10/2/2021).

 

SURABAYA (global-news.co.id) – Masa pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan berakhirnya ini tak hanya membawa dampak bagi kesehatan fisik tapi juga kesehatan mental. Karena tidak kelihatan, sakit mental ini kerap dilupakan. Kesehatan mental ini justru berdampak dan potensi membuat seseorang mengakhiri hidupnya.

Padahal sebagaimana dikatakan psikiater dr Nalini Muhdi SpKJ, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Siapa termasuk WHO mengatakan, yang terdampak Covid-19 ini kesehatan fisik, tapi kesehatan mental ikut berperan dalam kehidupan individu, dan itu harus dijaga.

Nalini mengungkap rasa sedihnya saat membaca Whatsapp temannya yang mengatakan, awalnya orang yang dicover meninggal lantaran Covid-19, menyusul teman-temannya, lalu keluarganya. Disebutkan, kendati sudah dilatih menghadapi orang yang meninggal, tapi seorang dokter mengalami kengerian juga saat menghadapi pandemi Covid-19. “Ngeri karena yang dihadapi ketidakpastian. Dulu pada awal diumumkan pandemi pada Maret 2020 ada prediksi akan berakhir pada Mei. Kemudian diprediksi lagi sampai September akan berakhir, ternyata setelah itu semua jadi serba tidak pasti. Ada yang menyebut akan berlangsung hingga 7 tahun, sementara survei yang dilakukan Bloomberg menyebutkan setelah 10 tahun baru hilang,” ujarnya Nalini dalam webinar bertajuk Kesehatan Jiwa Jurnalis di Tengah Pandemi yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Rabu (10/2/2021).

Diungkapkan, apa yang dihadapi dokter itu juga yang dialami kalangan jurnalis. Mereka harrus berada di depan untuk menginformasikan kondisi yang terjadi dengan risiko terpapar Covid-19. Di banyak negara, mereka seperti dokter, takut tidak bisa memberikan hasil yang bagus. “Di sini butuh kualitas personal dan profesional,” ujar Nalini yang mengaku pernah akti terlibat di bidang jurnalistik.

Akibat pandemi, 60% jurnalis harus bekerja lebih lama dalam jam. Karena WFH, dari rumah dia harus cerita tentang pandemi setelah melakukan liputan. Sebagai orang yang bekerja di RS, Nalini mengaku jam jadi masalah, karena sewaktu-waktu jadi ada kegiatan mengingat zoom tidak lagi “melihat” jam. “Jadi lebih capek karena zoom kan tidak ada waktu. Nah kombinasi ketegangan untuk mencover berita ini dramatik. Ini memberikan kecemasan tingkat tinggi,” lanjut psikiater dari RSUD dr Soetomo ini.

Menyangkut humanity, Covid-19 lebih berdampak pada perempuan ketimbang laki-laki. Mereka bekerja dari rumah, dia juga harus mengawasi anaknya yang belajar dari rumah, mengerjakan tugas rumah tangga, tapi dia juga harus ke luar rumah untuk mencari berita. Kondisi ini menggelisahkan. Ini sama dengan dokter yang setiap saat mengalami kelelahan mental.

Dia menggambarkan sebelum pandemi, banyak perempuan yang kurang memiliki waktu untuk menyenangkan diri sendiri, karena tugas rumah tangga, menemani anak. “Dan itu bisa 24 jam,” ujarnya.

Pandemi ini memberikan beberapa dampak, seperti financial insecurity kalau dia tidak punya gaji tetap, isolasi sosial, isolasi isik, lockdown with abuser karena KDRT jadi meningkat, konlik dengan teman kerja, serta social instability.

Isolasi sosial dirasakan menyakitkan perempuan. Seorang pria hanya butuh waktu 3 menit untuk telepon, sementara wanita bisa lebih lama karena itu merupakan cara dia bersosialisasi. Isolasi  fisik bisa jadi masih bisa diterima ketimbang harus isolasi sosial.

Kondisi pandemi itu, diungkapkan Nalini berpotensi meningkatkan kecenderungan bunuh diri. Di Korea Selatan terjadi peningkatan 20%, di Jepang meningkat 2-3 kali dibanding biasanya. Sedang di Inggris, saat diberlakukan lockdown pertama, banyak yang mengatakan lebih baik mari kalau kondisi terus-terusan seperti ini. “Jadi wanita itu lebih rentan terhadap dampak isolasi sosial dan kesepian. Dampaknya lebih ke mentalnya,” ujar Nalini.

Untuk mengatasi, lanjutnya, dalam situasi apa pun perempuan harus melakukan me time untuk quality of life-nya. “Bisa dengan ngobrol sejenak dengan sahabat via zoom, bila perlu ngakak. Tidak perlu jadi orang lain, karena itu juga me time. Jangan merasa bersalah. Ini bukan egois atau lupa pada tugas yang lain tapi demi kualitas hidup. Yang penting asal dikomunikasikan dengan pasangan,” pungkas Nalini.

Sementara Nova Riyanti Yusuf SpKJ mengatakan, berdasarkan survei yang dilakukan 2-10 April 2020, sebanyak 45,92% jurnalis mengalami depresi akibat pandemi Covid-19 dan 57,14% mengalami kejenuhan umum. “Jurnalis tetap keluar rumah meliput berita lebih banyak mengalami gejala depresi dan memiliki peluang 1,65X mengalami depresi dibandingkan dengan wartawan yang tidak keluar rumah untuk meliput,” ujar mantan anggota DPR RI ini. ret

baca juga :

Menelurkan Peningkatan Prestasi, Bupati Puji KONI Pamekasan

Redaksi Global News

Hadiri Peringatan HPN Tahun 2020 di Banjarbaru, Gubernur Khofifah Imbau Masyarakat Tetap Jadikan Produk Pers sebagai Referensi Utama

Redaksi Global News

Sambut HPN, Siwo PWI Jatim Gelar Liga Futsal Wartawan

Rofiq