Global-News.co.id
Nasional Utama

Asosiasi Travel Haji Temui Menag Minta Penjelasan soal Haji 2021

PARA anggota Forum SATHU menemui Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas di Kantor Kementerian Agama Jakarta.

SURABAYA (global-news.co.id) – Sejumlah asosiasi pengusaha penyelenggaraan ibadah haji dan umrah menemui Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas untuk meminta penjelasan tentang penyelenggaraan ibadah haji 2021. Mereka antara lain dari Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) dan Forum Silaturahmi Asosiasi Travel Haji dan Umrah (Forum SATHU).

Anggota Dewan Kehormatan Amphuri, Zainal Abidin SE, membenarkan AMPHURI sudah melakukan pertemuan dengan Menag Yaqut Cholil Qoumas . “Tentu sudah. Tapi saat materi bahasannya belum konkret, jadinya hanyalah asumsi-asumsi dan sejumlah daftar usulan,” kata Zainal Abidin kepada Global News di Surabaya Rabu 24 Februari 2021.

Usulan itu, kata dia, antara lain, agar kebijakan tentang haji diharapkan tidak bersifat dadakan. Hal ini agar sosialisasi dan persiapan penyelenggaraan haji bisa lebih optimal. Selain itu Amphuri juga usul agar batasan usia calon jamaah lebih dilonggarkan mengingat daftar tunggu jamaah haji Indonesia persentasenya lebih banyak usia di atas 65 tahun. Hal ini terkait ada batasan usia jamaah untuk umrah antara 18-50 tahun. “Lalu alokasi vaksin agar diprioritaskan bagi jamaah calon haji,” katanya.

Saat ini Amphuri menunggu kepastian pemerintah Arab Saudi untuk bisa membuka ibadah haji khusus. Ketua Umum Amphuri, Firman M. Nur, dalam diskusi webinar “Umrah Anti-Mainstream” beberapa waktu lalu tetap optimistis Arab Saudi akan membuka penyelenggaraan haji di tahun ini meski di tengah pandemi Covid-19. Hanya saja belum dapat dipastikan mengenai kuota hajinya.

Dia mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara pengirim jamaah terbanyak ke Tanah Suci. Karena itu jamaah Indonesia mendapatkan perhatian khusus dari Arab Saudi.

“Kemarin saat umrah dibuka, ada batasan usia jamaah antara 18-50 tahun. Sementara Januari 2021 kemarin jamaah kita ada yang usia 60 tahun. Ini dalam arti Arab Saudi semaksimal mungkin memberi kesempatan bagi orang datang ke Tanah Suci, meski secara regulasi mereka ketat,” katanya.

Forum Silaturahmi Asosiasi Travel Haji dan Umrah (Forum SATHU) juga telah menemui Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, di Kantor Kementerian Agama, pada Senin (14/2/2021). Pertemuan ini dilakukan untuk berdiskusi terkait langkah apa yang akan diambil pemerintah maupun penyelenggara ibadah haji dan umrah dalam persiapan haji 2021.

Anggota Dewan Pembina Forum SATHU, Muhammad Ali Amin, mengatakan, dalam pertemuan itu, Forum SATHU dan Kemenag sepakat bersinergi saling menguatkan koordinasi antara pemerintah dan swasta dalam penyelenggaraan haji dan umrah. Terlebih di tengah masa pandemi saat ini.

“Kehadiran kami selain untuk bersilaturahmi dengan Pak Menteri, kami sebagai pelaku usaha yang menjadi mitra kerja Kemenag dalam penyelenggaraan haji dan umrah ingin mendapatkan arahan dari Pak Menteri terlebih di situasi dan kondisi pandemi saat ini,” kata Muhammad Ali Amin menyampaikan hasil pertemuannya kemarin.

Ali yang juga Ketua Umum Gabungan Pengusaha Haji dan Umrah Nusantara (Gaphura) mengapresiasi Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas telah banyak melakukan pendekatan dan bernegosiasi dengan pihak Arab Saudi. Menurutnya, langkah itu bisa menjadi pertimbangan Saudi dalam penyelenggaraan haji untuk Indonesia.

“Kami yakin sekali dengan semangat Pak Menteri dalam negosiasi, insya Allah tahun ini penyelenggaraan haji bisa terlaksana, meski kita belum tahu berapa kuotanya,” ujarnya.

Ali mengatakan, dalam pertemuan itu Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan, bahwa Kemenang telah berdiskusi dengan tim bahwa penyelenggaraan haji ini tidak bisa hanya diurusi oleh pemerintah, tapi harus ada kolaborasi dengan swasta. Belum lagi soal penyelenggaraan umrah yang pelaksanaannya sepanjang tahun, sehingga tantangan yang harus dihadapi dalam penyelenggaraan haji dan umrah semakin berat.

Ali memastikan Kemenag sangat serius mempersiapkan penyelenggaraan haji. Untuk itu pihaknya dapat meneruskan kerjasama yang lebih baik lagi dengan tantangan yang lebih berat dalam persoalan haji. Apalagi Indonesia tidak memiliki pengalaman memberangkatkan haji di tengah pandemi.

Ali mengatakan, menurut Menag Yaqut, pemerintah dan pihak swasta tidak bisa lari dari masalah ini, karena tidak hanya menjadi tanggungjawab Arab Saudi, akan tetapi menjadi tanggungjawab semua. Menag menegaskan, bahwa pihaknya hampir setiap seminggu sekali berkoordinasi dengan pemerintah Arab Saudi. Bahkan pihaknya memberikan deadline hingga Maret 2021 kepada pemerintah Arab Saudi untuk memberikan kepastian penyelenggaraan haji tahun ini.

“Memang, kata Menag, pihaknya sejauh ini belum membicarakan soal berapa banyak kuota yang akan diberikan Arab Saudi kepada Indonesia. Hanya saja, Kemenag telah menyusun beberapa skenario haji 2021,” kata Ali menirukan Menag.

Ali mengaku senang dengan langkah yang dilakukan oleh Menteri Agama yang terus mendesak Saudi untuk segera memutuskan kepastian penyelenggaraan haji. Langkah Menag itu patut mendapat apresiasi, sehingga informasi soal kepastian haji dari Arab Saudi tidak didapat pada detik-detik terakhir (last minute).

Kendala Umrah

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Dewan Pembina Forum SATHU, Firman M. Nur, menyampaikan perkembangan usaha umrah yang sejak setahun terakhir di masa pandemi ini boleh dibilang vakum dan zero income. Kegiatan umrah, kata Firman, mulai dibuka kembali pada 1 November 2020 namun pada akhirnya ditutup kembali pada 4 Februari 2021.

Dalam kurun waktu tersebut, pihaknya mencatat hanya bisa memberangkatkan sekitar 3.500-an jamaah umrah. Hal ini jauh berbeda dengan pencapaian di tahun 2018-2019 yang mencapai 1 juta jamaah per tahun.

“Alhamdulillah umrah telah bisa kembali meski hanya empat bulan saja dan tanggal 27 Februari nanti genap setahun sudah terhenti. Semoga kami mohon arahan Bapak (Menag), agar kami sebagai usaha yang menginduk kepada Kemenag bisa tumbuh kembali,” pintanya.

Memang, lanjut Firman, untuk saat ini secara budget naik dari Rp 20 juta menjadi Rp 26 juta, jika merujuk pada harga referensi yang ditetapkan Kemenag. Di samping itu pihaknya juga diminta Kemenag untuk memberangkatkan jamaah yang tertunda terlebih dulu. Dalam pelaksanaannya, penyelenggara umrah selalu mematuhi regulasi yang dikeluarkan pemerintah Saudi maupun Indonesia, termasuk aturan protokol kesehatan mulai dari keberangkatan, selama perjalanan dan kepulangan.

“Hanya saja ada kebijakan yang memberatkan soal karantina dan tes PCR setibanya di tanah air, di mana biayanya dibebankan kepada jamaah. Kami harap Pak Menteri mendukung kami agar kebijakan tersebut dikecualikan, karena umrah ini perjalanan internasional yang dikontrol dari awal sampai kepulangan,” kata Firman yang tercatat sebagai Ketua Umum Amphuri.

Terkait hal ini, Menag Yaqut menegaskan, akan segera melakukan evaluasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Sementara untuk penyelenggaraan haji tahun ini, Kemenag juga telah menyusun skenario pelaksanaan haji, tak terkecuali soal vaksinasi bagi calon jamaah haji. “Soal kebijakan PCR dan karantina, kami coba akan berkoordinasi dengan Satgas Covid-19,” pungkasnya.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Sekjen Amphuri Farid Aljawi, Sekjen Gaphura Endi Sutono, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Haji Umrah dan Inbound Republik Indonesia (Asphurindo) Lukman Nyak Neh, Sekjen Asphurindo Iqbal Muhadjir, Ketua Dewan Pengawas Gaphura Herman Barata, perwakilan Kesatuan Tour Travel Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kesthuri) Hidayat, Direktur Bina Haji Umrah Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Arfi Hatim serta dua orang staf khusus Menteri Agama, Abdul Rahman dan Hasan.

Sebelumnya, Ketua Umum Amphuri Firman M. Nur juga optimistis Saudi akan tetap membuka penyelenggaraan haji tahun ini meski pandemi. Hanya saja belum dapat dipastikan mengenai kuota hajinya. Menurut dia, usaha travel umrah dan haji khusus kini memang sedang lesu seiring terjadinya pandemi COVID-19. Kendati begitu, asosiasi travel tetap optimistis wisata religi ke Tanah Suci, Arab Saudi, tetap akan diminati masyarakat.

Arab Saudi, kata dia, selalu memiliki daya tarik dengan adanya kota suci Makkah dan Madinah. Hal itu belum termasuk tujuan pariwisata lainnya yang sedang dikembangkan oleh negeri kerajaan Petro Dolar tersebut. Misalnya Madain Saleh (petilasan Nabi Saleh AS) dengan pesona keagamaan, sejarah dan bentang alamnya.

“Jangan takut. Makkah adalah magnet bagi umat Islam seluruh dunia. Ada ayat Al Quran yang menggaransi orang akan terus datang ke Tanah Suci dalam segala kondisi,” kata dia. (gas/rpk)

baca juga :

90 Persen Tenaga Kerja Konstruksi Belum Bersertifikat

nasir nasir

Ginjal dan Jantung Penyumbang Tingginya Angka Kematian karena Corona

Ini Daftar 10 Cakada Terkaya dan yang Termiskin Peserta Pilkada 2020

Redaksi Global News