Global-News.co.id
Indeks Mataraman Utama

116 Hektare Sawah di Tulungagung Gagal Panen

Tampak sawah milik warga di Tulungagung yang terendam banjir dan gagal panen.

 

TULUNGAGUNG (global-news.co.id) – Intensitas tingginya hujan di Tulungagung membuat ratusan hektare sawah terendam banjir. Hal ini disebabkan tidak lancarnya saluran pembuangan air, sehingga membuat genangan di area persawahan warga. Kejadian ini menyebabkan 116 hektare sawah dinyatakan gagal panen.

Koordinator Pengendalian Organisme Penggangu Tanaman (POPT) Dinas Pertanian Tulungagung Gatot Rahayu menerangkan, total luas area sawah yang terendam banjir mencapai 876 hektare. Luasan sawah ini tersebar di 8 Kecamatan, di antaranya Kecamatan Boyolangu, Gondang, Pakel, Campurdarat, dan Ngunut.

Dari jumlah tersebut, terdapat 116 hektare yang dinyatakan gagal panen. Banjir merendam tanaman padi berusia 21-35 hari hingga rusak. “Estimasi kerugian yang dialami petani per hektarenya mencapai Rp 6 juta,” terangnya, Rabu (10/2/2021).

Banjir yang menggenangi area sawah petani ini rata-rata berasal dari gunung. Air tidak bisa langsung surut karena saat bersamaan terjadi luapan sungai. Selain itu, di beberapa titik terdapat tumpukan sampah yang menutup aliran pembuangan sungai. Sampah ini terbawa oleh banjir dan membuat aliran sungai tidak lancar. Untuk mempercepat keluarnya air dari sawah, Dinas Pertanian telah mengirim petugas guna memastikan aliran sungai pembuangan berjalan lancar.

“Mereka akan membersihkan sepanjang aliran dari sampah agar air bisa segera keluar dari sawah,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Suprapti saat dikonfirmasi mengatakan, ada sekitar 876 hektare lahan pertanian yang terendam banjir selama sepekan terakhir, sehingga menyebabkan tanaman pertanian berpotensi rusak dan bahkan gagal panen.

“Ini data setelah kami melihat langsung kondisi di lapangan saat banjir beberapa waktu lalu,” kata Suprapti.

Secara teknis penentuan kerusakan tanaman baru bisa ditentukan jika terendam selama lima hari. Jika terendam selama sehari saja, tanaman belum bisa dikatakan rusak.

Saat ini Dinas Pertanian sudah menjamin kerusakan dari tanaman petani dengan asuransi petani. Program tersebut sudah berjalan selama beberapa tahun terakhir, dan terus diperluas. “Kalau petani ikut (asuransi petani) maka ada penggantian dari kerusakan,” katanya.

Sedang untuk yang belum ikut asuransi pertanian, jika tanaman padi yang terendam benar-benar rusak dan harus tanam ulang, maka akan diusahakan bantuan benih.

Kondisi ini mendapat tanggapan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo. Ia mengatakan langkah yang diambil Pemkab Tulungagung sudah tepat. “Sosialiasi asuransi pertanian di Tulungagung berjalan baik. Sehingga sejumlah lahan pertanian sudah diasuransikan. Upaya Tulungagung ini turut menjaga ketahanan pangan,” katanya.

Pernyataan tersebut diperkuat Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy. “Di tahun 2021 ini, kita akan genjot pemanfaatan asuransi pertanian. Karena dengan asuransi, pertani bisa beraktivitas dengan tenang meski dalam cuaca buruk,” ujarnya.

Sarwo Edhy menjelaskan, asuransi memiliki klaim yang akan diberikan saat gagal panen. “Klaim asuransi sebesar Rp 6 juta perhektare. Dengan klaim tersebut petani tetap memiliki modal untuk tanam kembali dan produksi tetap terjaga,” katanya. sir, ina, lpt

baca juga :

Antisipasi Keresahan Masyarakat, Guru di Surabaya Ikuti Sosialisasi Virus Corona

Redaksi Global News

Penembak 51 Jamaah Masjid di Selandia Baru Dipenjara Seumur Hidup

Redaksi Global News

Pemerintah Didesak Sahkan Perppu Penundaan Pilkada Sebelum Akhir April