Global-News.co.id
Metro Raya Utama

Ribetnya Bepergian Saat Tahun Baru di Masa Pandemi Covid-19: Dua Hari Panik Berburu Kuota Rapid Antigen

Penulis bersama petugas KAI di Stasiun Gambir yang ternyata dulu muridnya di SMAN 1 Cerme Gresik.

Libur sekolah biasanya disambut dengan suka cita. Berbagai destinasi wisata telah diagendakan jauh sebelumnya. Tapi libur Natal dan Tahun Baru kali ini tidak seperti biasanya bagiku, karena acara yang telah direncanakan nyaris gagal gegara pandemi Covid-19. Aturan pemerintah mewajibkan bagi mereka yang akan bepergian ke luar kota dengan angkutan umum, khususnya kereta api maupun pesawat terbang, harus dilengkapi dengan surat hasil rapid antigen. Berikut kisah keluarga Sri Rahayuningsih, guru bidang studi ekonomi SMA Negeri 1 Cerme Gresik, saat pergi ke Jakarta naik kereta api.

Oleh: Sri Rahayuningsih*

AYAH sudah membeli tiket kereta api (KA) tujuan Jakarta untuk tanggal 22 Desember 2020. Tepat setelah urusan rapor semester ganjil selesai di pagi hari, sorenya bisa langsung cuuz… melaju ke Jakarta dengan kereta api.

Libur akhir tahun, Abang biasanya pulang kampung, tapi kali ini gantian. Giliran aku, ayah dan ibu pergi sambang Abang ke Jakarta.

Beberapa hari sebelum keberangkatan, situasi sudah mulai tidak kondusif. Pemberitaan di televisi menyebutkan bahwa kasus Covid-19 meningkat setiap harinya baik skala nasional maupun regional sehingga pemerintah, dalam hal ini Satgas Penanganan Covid-19, menerapkan kebijakan mewajibkan untuk rapid antigen bagi mereka yang akan bepergian selama libur Natal dan Tahun Baru. Kebijakan ini mulai diberlakukan sejak tanggal 22 Desember 2020 hingga 8 Januari 2021.

Kami sekeluarga pun sedikit cemas. Kami gerak cepat. Tanggal 21 Desember atau H-1 keberangkatan, kami mencoba untuk melakukan rapid antigen di rumah sakit atau klinik di kotaku, tapi ternyata kuota hari itu sudah penuh. Kami langsung menuju Stasiun Pasar Turi untuk rapid di stasiun saja. Tapi sesampai di Stasiun Pasar Turi kami ditolak karena jadwal keberangkatan kami tanggal 22 Desember 2020, sehingga rapid antigen baru bisa dilayani keesokan harinya karena rapid antigen pada hari itu khusus untuk rapid antibodi, sedangkan pemberangkatan mulai tanggal 22 Desember wajib rapid antigen. Artinya, ada beda perlakuan rapid meski hanya selisih sehari saja.

Dan karena rumah kami jauh, sekitar 35 km dari stasiun, maka ayah mencoba untuk telepon ke klinik di sekitar Stasiun Pasar Turi yang melayani rapid antigen. Hasilnya, ternyata semua sudah tutup. Artinya kuota pelayanan rapid antigen hari itu sudah penuh. Maka kami pun kembali pulang tanpa membawa hasil apa pun.

Selama perjalanan pulang ibu mencoba untuk daftar online untuk besok pagi di RS dan klinik swasta di kota kami, tapi ternyata kuota untuk besok juga sudah penuh. Karena itu, kami memutuskan untuk berangkat lebih awal agar bisa langsung rapid antigen di stasiun.

Kereta api yang akan kami naiki adalah Argo Bromo dengan pemberangkatan malam pukul 20.00 WIB. Kami sengaja berangkat lebih awal. Bahkan enam jam sebelum jadwal keberangkatan, kami sudah tiba di stasiun, tapi lagi – lagi kami belum beruntung. “Maaf, Pak, kuota hari ini sudah habis,” kata Satpam menjelaskan pada kami.
Kepanikan mulai terasa. Jika kami tidak membawa surat rapid antigen otomatis kami tidak bisa berangkat naik kereta api ke Jakarta. Dalam suasana panik, kami menelepon semua klinik yang ada di sekitar Stasiun Pasar Turi tapi semua menyebutkan bahwa kuota hari itu sudah penuh. Semakin panik. Kami semakin cemas. Sebab kami tidak berhasil rapid antigen.

Maka ayah pun kemudian melapor ke customer service untuk mencari solusi. Salah satunya mengubah jadwal keberangkatan menjadi besoknya lagi atau tanggal 23 Desember 2020. Petugas customer service (CS) di Stasiun Pasar Turi menyarakan agar keberangkatan dibatalkan.

” Lebih baik bapak batalin aja dari pada mundur, sebab kalau mundur kena biaya 25%, tapi kalau dibatalin uang bisa kembali penuh. Selanjutnya, nanti bapak beli tiket lagi untuk besok, untuk rapid bapak datang pagi biar kebagian kuota, ” begitu saran petugas CS.

Ayah pun setuju dengan saran petugas CS tersebut, sehingga kami pun membatalkan tiket dan pulang ke Cerme Gresik. Sampai di rumah Ayah langsung pesan tiket melalui aplikasi. Ayah memilih KA Sembrani dengan jadwal keberangkatan sore pukul 17.30 tanggal 23 Desember 2020. Urusan tiket sudah beres, tinggal berjuang agar bisa ikut rapid antigen besok pagi.

Kami berangkat pukul 07.00 dan sampai di Stasiun Pasar Turi Surabaya pukul 08.00 WIB. Begitu datang sudah terlihat antrean mengular, meliuk-liuk, mirip antrean sembako atau antrean BLT alias bantuan langsung tunai untuk warga penerima manfaat bantuan sosial. Kami pun berdoa mudah-mudahan masih mendapat kuota. Kami terus berdoa dalam hati. Dan, alhamdulillah, kami pun akhirnya mendapat antrean nomor 319, 320, dan 321 untuk rapid antigen.

Selama masa penantian rasa gelisah mulai menghantui. Terbayang rasa sakit ketika hidung harus dimasuki alat usap (swab) yang panjang yang sering kami lihat di pemberitaan televisi maupun media online. Ciut juga hati ini membayangkan betapa sakitnya saat menjalani rapid antigen ini.

Untuk mengurangi rasa takut, aku bermain game di ponsel. Setelah 3 jam menanti, kami pun dipanggil untuk rapid. Detak jantung semakin cepat, terasa mau copot ketika memasuki ruangan tempat rapid antigen. Aku sampai memegang tangan ibu untuk mengurangi rasa takut, karena ini pengalaman rapid pertama bagi kami sekeluarga.

Tiba di ruangan tempat tes usap itu, saya melihat petugas medis memakai APD (alat pelindung diri) berwarna putih. Hazmat. Semakin dag dig dug der rasanya. Petugas tersenyum melihat tampangku yang tegang, terlihat seperti orang ketakutan. Dia tersenyum ramah, lumayanlah hati lebih tenang, kemudian duduk di tempat yang telah disediakan dan mendongakkan kepala sesuai perintah petugas. Hidung terasa dimasuki alat dan ditusuk jauh ke dalam serasa sampai ke pangkal hidung.

Aku nyaris bersin bercampur rasa sakit, tapi kutahan. Tentu malu juga kalau sampai meneteskan air mata. Apalagi sampai bersin. Namun prosesnya cepat dan tidak sesakit yang kubanyangkan. Alhamdulillah, rapid antigen selesai.

Setelah rapid masih harus menunggu lagi untuk mendapatkan hasilnya, setelah penantian panjang yang melelahkan dan menjemukan sekitar 2 jam, tepat pukul 13.15 surat rapid antigen kami terima dengan hasil negatif. Alhamdulillah!

Kami menuju ke masjid untuk sholat dan istirahat, makan siang di warung dekat masjid bergantian karena harus menjaga barang bawaan. Sekitar pukul 17.00 WIB terdengar panggilan bagi penumpang kereta api Sembrani jurusan Jakarta untuk melakukan boarding. Sebelum boarding kami berwudhu dulu karena sholat Maghrib dan Isya akan kami jamak taqdim di kereta.

Kami lega. Perjuangan panjang selama dua hari terbayarkan setelah kereta api mulai bergerak merambat meninggalkan Stasiun Pasar Turi. Aku teringat syair lagu Kereta Malam yang dilagukan sang ratu dangdut Elvy Sukaesih. Lagu itu pun kami putar:

Pernah sekali aku pergi/Dari Surabaya ke Jakarta/Untuk menengok Abang di sana/Mengendarai kereta malam/Jug gicak gicuk gicak gicuk/Kereta berhenti/Jug gicak gicuk gicak gicuk/Hatiku gembira…

Penumpang Pesawat

Saat dalam perjalanan kereta api, aku membaca berita di media online, ternyata banyak penumpang pesawat terbang juga mengalami kejadian yang sama dengan keluarga kami. Harus rapid antigen. Sejumlah penumpang mengeluhkan kebijakan wajib rapid antigen yang diberlakukan oleh bandara. Keluhan tersebut, bahkan, diceritakan di media sosial Instagram oleh akun @miraindaah.

Melalui story instagramnya, Mira bercerita, dirinya kesal lantaran sudah bayar mahal untuk rapid antigen. Tetapi, sesampainya di bandara, ternyata tak satu pun petugas menanyakan dan memeriksa lembaran hasil rapid antigen tersebut.

Padahal, untuk melakukan tes rapid antigen itu, dia harus merogoh kocek sebesar Rp700 ribu untuk tes dua orang. “Sedikit ceritaku hari ini. Kesel nggak sih kita udah bayar Rp 350 ribu per orang, yang artinya aku berdua Aida Rp 700 ribu buat rapid test antigen. Terus nahan hidung yang harus diorek2!!!,” tulis Mira dengan akun instagramnya @miraindaah.

“Ternyata sampai bandara nggak diperiksa apa-apa! Jangankan periksa hasil rapidnya, bagasi mau keluar saja nggak ada yang jaga!” sambung Mira.
Mira menyayangkan, persyaratan rapid antigen hanya sekadar wacana. Tetapi, tidak dijalankan atau menerapkannya dengan memeriksa langsung kepada para calon penumpang. “Parah sih bikin peraturan tapi nggak dijalanin!!! Dikira duit datang dari langit apa ya!! Udah bisa dinilai sendiri lah,” tutupnya. Saat dikonfirmasi, pemilik akun tersebut membenarkan soal unggahannya di instagram tersebut. (*)

baca juga :

Pengawasan Lemah, Kinerja Inspektorat Disorot

Redaksi Global News

PSBB Jilid III Usai, Pemkab Gresik Gelar Apel Perdana dengan 7 OPD

Redaksi Global News

Pakde Karwo Ungkap Empat Strategi Tingkatkan Daya Saing Jatim