Global-News.co.id
Indeks Metro Raya Utama

Jatim Sisakan Tiga Daerah Zona Merah Covid-19

Dok GN
Razia patuh masker yang dilakukan Pemkot Surabaya dalam menekan penyebaran virus Covid-19. warga yang tidak memakai masker disanksi.

SURABAYA (global-news.co.id) – Sebanyak tiga daerah di Provinsi Jawa Timur tercatat berstatus zona merah atau berisiko tinggi penularan virus corona jenis baru atau Covid-19.
“Pekan lalu ada delapan daerah, kemudian berkurang dan pekan ini menyisakan tiga daerah yang berstatus zona merah,” ujar anggota Satgas Kuratif Covid-19 Jatim dr Makhyan Jibril di Surabaya, Kamis (7/1/2021) malam.

Berdasarkan data nasional yang diterima Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Jawa Timur, hari ini pukul 16.00, tiga daerah berisiko tinggi penularan itu meliputi Kabupaten Blitar, Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Lamongan.

Secara rinci, per hari ini tambahan kasus yang terjadi di daerah tersebut, yakni Kabupaten Blitar bertambah 57 kasus, Kabupaten Ngawi bertambah tiga kasus, serta Kabupaten Lamongan bertambah 35 kasus.

Selain itu, di Jatim saat ini tidak ada satu pun daerah berstatus zona kuning atau berisiko rendah, sebab 35 kabupaten/kota lainnya masuk zona oranye atau berisiko sedang.

Daerah zona oranye tersebut, yakni Kota Surabaya, Kota Batu, Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Kabupaten Malang, Kediri, Jember, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Kota Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun dan Magetan.

Selain itu, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Kota Kediri, Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Banyuwangi, Tulungagung, Bojonegoro, Tuban, Kota Malang, Lumajang, Kota Blitar, Mojokerto serta Kota Madiun.

“Yang perlu diingat, sekarang meski zona merah turun, belum ada zona kuning apalagi zona hijau di Jatim. Maka dari itu kita harus tetap waspada dengan mematuhi protokol kesehatan,” ucapnya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi turunnya zona merah di Jatim, kata dia, yakni adanya operasi yustisi masif dalam sepekan terakhir. “Penegakan protokol kesehatan harus semakin digencarkan sehingga masyarakat mulai mau memakai masker lagi,” kata dr Jibril.

Yang menarik, lanjut dia, apabila ada operasi yustisi masif maka pemakaian masker meningkat, namun biasanya bukan karena takut Covid-19, melainkan karena didenda atau ditilang.

“Padahal seharusnya sebelum mendapatkan vaksin, patuh memakai masker adalah vaksin yang bisa melindungi kita maupun orang di sekitar kita,” kata dokter muda lulusan S2 di Bidang Healthcare Enterpreneurship di University College London Inggris tersebut.

Dia berharap seluruh masyarakat di Jatim tidak berhenti menerapkan protokol kesehatan ketat dan pandemi belum berakhir. ret

baca juga :

Disdik Pamekasan Gelar Diklat Guru Inklusif

Redaksi Global News

3.806 Gardu Listrik PLN di Jabodetabek Sudah Menyala

Redaksi Global News

Paguyuban Sopir Taksi Ancam Mogok Lebih Besar

Redaksi Global News