Global-News.co.id
Indeks Kesehatan Utama

Kekurangan Zat Besi Jadi Ancaman Generasi Emas Indonesia

Aneka bahan pangan penambah zat besi.

SURABAYA (global-news.co.id) – Kurangnya  konsumsi  makanan kaya zat besi, terutama dari sumber hewani seperti daging merah, hati, ikan, dan ayam menyebabkan satu dari tiga anak usia di bawah lima tahun (balita)  Indonesia mengalami anemia. Jika kekurangan zat besi ini tidak ditangani berpotensi membuat Generasi Emas Indonesia tidak tumbuh optimal dan menghambat mimpi bangsa untuk menjadi negara maju pada perayaan 100 tahun Indonesia di tahun 2045.

“Zat besi memiliki peran penting pada tubuh anak, terutama untuk mendukung tumbuh kembangnya. Asupan zat besi yang tidak adekuat dapat menyebabkan menurunnya kecerdasan, fungsi otak, dan fungsi motorik anak, sehingga dalam jangka panjang dapat berakibat menurunnya performa di sekolah, perubahan atensi dan sosial akibat tidak tanggap terhadap lingkungan sekitar, serta perubahan perilaku pada anak,” kata dokter spesialis gizi klinik dr Nurul Ratna Mutu Manikam, MGizi, SpGK dalam diskusi virtual bertajuk “Kekurangan Zat Besi sebagai Isu Kesehatan Nasional di Indonesia dan Dampaknya terhadap Kemajuan Anak Generasi Maju”  yang digelar Danone Specialized Nutrition, Kamis (17/12/2020).

Kekurangan zat besi adalah kondisi ketika kadar ketersediaan zat besi  dalam tubuh lebih sedikit dari kebutuhan harian.  Sebagai bagian dari hemoglobin, fungsi utama zat besi adalah mengantarkan oksigen dari paru-paru untuk digunakan oleh bagian-bagian dalam tubuh anak. Tanpa zat besi, organ-organ tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup sehingga menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak baik secara kognitif, fisik, hingga sosial.

Nurul yang juga Ketua Departemen Ilmu Gizi Klinik FKUI tersebut menegaskan, jika kekurangan zat besi ini tidak ditangani, bisa menimbulkan gangguan permanen.

Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Ariani SPsi, Msi, menambahkan, kekurangan zat besi tidak hanya memiliki dampak bagi pertumbuhan, tetapi juga pada perkembangan anak. Kondisi ini menghambat kemampuan anak untuk berkonsentrasi.  “Jika konsentrasi tidak optimal, maka daya tangkap anak menurun, daya ingatnya kurang optimal, dan rentan mengalami masalah kognitif lain seperti kesulitan menganalisa dan mengambil kesimpulan, sulit memecahkan masalah, dan kurang kreatif,” ujarnya.

Jika ini terjadi, kelak saat memasuki usia sekolah, dia rentan mengalami kesulitan belajar dan saat dewasa rentan jadi sulit bersaing di dunia kerja. “Hambatan ini nantinya juga dapat membuat anak menjadi tidak percaya diri, murung, dan sulit bersosialisasi,” kata Anna.

Oleh karenanya, menjadi penting bagi orangtua untuk memastikan kebutuhan gizi harian anak terpenuhi.  Yang juga tak kalah penting, senantiasa memberikan stimulasi yang tepat untuk bisa mendorong pertumbuhan anak menjadi anak generasi maju yang berpikir cepat, tumbuh tinggi, tangguh, aktif bersosialisasi, dan percaya diri.

Nurul menambahkan,  kekurangan zat besi dapat dicegah dengan memberikan anak makanan yang kaya zat besi seperti daging merah, hati, ikan, ayam, bayam, dan susu pertumbuhan yang difortifikasi. Selain itu, orangtua juga harus memerhatikan asupan vitamin C pada anak, karena vitamin tersebut membantu tubuh menyerap zat besi dengan lebih baik.

“Jeruk, stroberi, tomat, dan brokoli merupakan sumber vitamin C, dan sebaiknya dimakan bersama dengan makanan yang kaya zat besi untuk mengoptimalkan penyerapan. Tambahkan pula makanan dan minuman yang difortifikasi zat besi dan vitamin C untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi harian anak,” katanya.

Aktris Alyssa Soebandono yang juga menjadi nara sumber menyatakan kekhawatirannya terhadap dampak kekurangan zat besi pada anak.  Karena selalu mendampingi dua buah hatinya yang sudah memasuki usia sekolah, dia mengakui bisa melihat bagaimana anak berjuang untuk tetap berkonsentrasi ketika belajar.  “Dengan situasi pembelajaran jarak jauh (PJJ), tantangan anak jadi lebih berat lagi. Maka dari itu, saya selalu mendampingi  Rendra dan Malik ketika belajar untuk membantu mereka tetap berkonsentrasi,” ujarnya.

Selain itu. Allyssa juga berusaha menyediakan asupan gizi yang cukup dan memastikan tidak ada tanda-tanda awal kekurangan zat besi pada mereka. “Saya bersyukur mereka tetap dapat terus belajar aktif dan memenuhi rasa ingin tahunya meskipun tidak ada kegiatan tatap muka dengan guru dan teman-teman sekolahnya,” tambah Alyssa.

Untuk membantu orang tua bisa melakukan tes risiko terjadinya kekurangan zat besi pada si Kecil, Danone Specialized Nutrition Indonesia menyediakan sebuah platform daring melalui fitur di dalam situs www.generasimaju.co.id. Pada situs ini, orangtua juga dapat menemukan serangkaian artikel terkait topik nutrisi termasuk kekurangan zat besi dan bagaimana cara mengatasinya, serta berbagai artikel mengenai tips untuk mendukung anak menjadi Anak Generasi Maju. “Fitur ini diharapkan dapat membantu orang tua mendeteksi kekurangan zat besi pada anak sejak dini dan bagaimana stimulasi yang perlu dilakukan agar dapat mendukung mereka menjadi generasi maju,” kata Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin.ret

baca juga :

Matangkan PEK Madura, Badrut Tamam Kembali Temui Menko Ekuin

gas

Sambut Hari Pahlawan, Pemkot Surabaya Bebaskan Denda PBB Selama November 2020

Redaksi Global News

UU Minerba Baru Disebut Untungkan 7 Perusahaan Tambang