Global-News.co.id
Ekonomi Bisnis Indeks Utama

Dihantam Pandemi, Pertamina Pertahankan 1,2 Juta Pekerjanya (1-Bersambung)

 

Istimewa
Aktivitas pembangunan kilang di Tuban. Di tengah hantaman pandemi Covid-19, PT Pertamina (Persero) tetap mempertahankan lebih dari 1,2 juta tenaga kerja yang berpengaruh langsung terhadap aktivitas bisnisnya.

Saat perusahaan lain memilih melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) untuk menekan biaya operasional di tengah hantaman pandemi Covid-19,  PT Pertamina (Persero) tetap mempertahankan lebih dari 1,2 juta tenaga kerja yang berpengaruh langsung terhadap aktivitas bisnisnya.

 

Pandemi Corona yang terjadi di Indonesia sejak Maret  lalu telah meluluhlantakkan seluruh sektor usaha. PHK menjadi jurus pamungkas yang dipilih banyak perusahaan agar tetap survive di tengah kelesuan usaha imbas dropnya penjualan seiring lemahnya konsumsi dan daya beli masyarakat.

Hantaman Corona juga berimbas di Pertamina. Penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di berbagai daerah yang diambil pemerintah dan pemerintah daerah guna menekan penyebaran virus Covid-19  berimplikasi pada anjloknya penjualan BBM dan produk lain Pertamina.

Pertamina MOR (Marketing Operation Manager) V Jatimbalinus juga merasakan getirnya tekanan bisnis imbas pandemi. Penjualan BBM dan elpiji drop saat ada pemberlakuan PSBB di Surabaya dan berbagai daerah di Jatim.

Pada Mei 2020, Pertamina setempat mencatat rata-rata harian konsumsi BBM jenis Gasoline  (Premium, Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo) sebesar 9.700 KL/hari dan BBM jenis Gasoil (Solar, Biosolar, Dexlite, Pertamina Dex) sebesar 3.800 KL/hari. Namun sejak dibukanya kembali perekonomian dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, terjadi tren kenaikan konsumsi BBM untuk BBM jenis Gasoline sebesar 18% dan BBM jenis Gasoil sebesar 60% dibandingkan konsumsi Mei.

September 2020, rata-rata harian penyaluran BBM di  Jatim naik menjadi 11.500 KL/hari untuk Gasoline dan 6.100 KL/hari untuk Gasoil.

Pertamina juga mencatat adanya kenaikan konsumsi elpiji di wilayah Jawa Timur. Menjelang akhir September 2020, konsumsi  rata-rata harian sebesar 3.600 MT/hari atau naik 5% dibandingkan konsumsi  Mei 2020 saat PSBB diberlakukan dengan rata-rata harian sebesar 3.400 MT/hari.

“Semenjak dibukanya kembali kegiatan perekonomian dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, menjadi salah satu faktor kenaikan konsumsi BBM saat ini,” kata Unit Manager Communications, Relations & CSR MOR V Jatimbalinus Rustam Aji.

Hantaman pandemi yang terjadi sejak hampir 8 bulan lalu hingga saat ini  menjadi salah satu faktor pemicu kerugian di tubuh banyak perusahaan, termasuk Pertamina. Hingga semester 1 2020 Pertamina mengakui telah merugi sebesar Rp 11,13 triliun.  Namun perusahaan pelat merah ini tak pantang menyerah. Perusahaan bertekad terus mengakselerasi kinerja demi mengejar keuntungan di akhir tahun 2020. Efisiensi seluruh bidang menjadi kata kunci untuk mencapai target tersebut.

“Kami telah lakukan efisiensi belanja operasional (opex) dengan memotong anggaran hingga 30%. Selain itu juga melakukan prioritasi belanja modal (capex) dengan selektif hingga bisa lebih efisien 23%,” kata  Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman dalam satu kesempatan.

Fajriya  menegaskan ada sederet kebijakan yang sudah dijalankan dan akan terus dilanjutkan Pertamina untuk adaptasi dengan kondisi terkini. Mulai melakukan renegosiasi kontrak, memitigasi rugi selisih kurs, tetap menjalankan operasional dan investasi untuk mempertahankan produksi hulu, meningkatkan strategi marketing dengan program diskon dan loyalty customer untuk meningkatkan pendapatan serta mereview dan memperbaiki model operasi kilang dan lain-lainnya.

Di sisi lain, prioritas Pertamina adalah penyediaan dan pelayanan energi bagi seluruh masyarakat Indonesia, mulai dari sektor hulu sampai dengan pendistribusian BBM dan elpiji ke pelosok Tanah Air, termasuk program BBM 1 Harga.

“Tenaga kerja yang langsung terlibat di dalamnya pun mencapai lebih dari 1,2 juta orang. Kendati harus menghadapi tekanan bisnis yang berat sepanjang pandemi, Pertamina berusaha untuk tidak melakukan PHK,” tegasnya.

Logistik Paling Rumit di Dunia

Saat diskusi virtual yang digelar JSK Petroleum dan Aspermigas dengan kalangan media belum lama ini, Direktur Logistik dan Distribusi Mulyono menjelaskan total pekerja organik dan anorganik Pertamina Group hingga saat ini mencapai 1.225.825 orang. Mereka bekerja di upstream, outlet lubricants, support, projects, international, intership/magang/PKL, Universitas Pertamina hingga mitra bisnis.

Banyaknya pekerja yang berpengaruh langsung terhadap aktivitas bisnis Pertamina karena logistik migas Pertamina rumit dan kompleks. “Kalau saya bilang, logistiknya Pertamina paling rumit dan kompleks di dunia karena itu melibatkan banyak pekerja,” katanya.

Direktur Logistik dan Distribusi Mulyono saat diskusi virtual yang digelar JSK Petroleum dan Aspermigas dengan kalangan media belum lama ini.

Mulyono membeberkan kerumitan ini karena cakupan wilayah yang dilayani Pertamina sangat luas, dari Sabang sampai Merauke. Energi yang ditangani jumlahnya besar, mencapai 140 juta KL/ tahun. Selain itu besarnya sumber daya yang dimiliki, mulai tanker, mobil tangki, pelabuhan dan sarana tambat, kapal, SPBU dan masih banyak lagi. “Bahan yang kami didistribusikan berbahaya dan menguasai hajat hidup orang banyak,” katanya.

Dijelaskan Mulyono di tengah pandemi, penurunan konsumsi BBM dan tekanan terhadap nilai kurs rupiah, Pertamina tetap mempertahankan aktivitas bisnis sektor hulu untuk tetap menjaga perekonomian nasional.

Dia menjelaskan di sektor upstream, mempertahankan  aktivitas upstream untuk menjaga kebutuhan  pasokan minyak mentah bagi kilang-kilang Pertamina serta menjaga  kegiatan perekonomian para mitra di tengah kondisi penurunan harga minyak dunia.

Pengelolaan  gas domestik oleh PGN di 17 provinsi dengan 98% penugasan infrastruktur dan 89% niaga gas bumi nasional dengan total panjang pipa 9.916 km dan pipa Jargas 3.838 km, lanjut Mulyono juga memberikan  dampak bagi para vendor dan pengusaha di bidang gas dapat bertahan. Selain itu berperan dalam mengamankan  ketersediaan pasokan agar PLN dapat terus beroperasi dengan baik.

Selain itu kata Mulyono ada 5.735 SPBU, 280 tangker Pertamina, 120 depo, 258.772 pangkalan PSO dan Non PSO tetap beroperasi selama pandemi dan kondisi ini memberikan  ketenangan bagi rakyat akan ketersediaan energi serta memastikan para pengusaha di sektor migas agar tetap hidup. “Semua ini butuh kerja ekstra keras di tengah pandemi. Namun tugas itu tetap kami jalankan dan komitmen tidak melakukan PHK,” katanya.

Di tengah pandemi, lanjut Mulyono, Pertamina juga tetap menjalankan proyek-proyek strategis yang menyerap ribuan tenaga kerja, seperti di proyek pembangunan kilang RDMP (Refinery Development Master Plan) dan GRR (Grass Roof Refinery) serta proyek infrastruktur hulu dan hilir lainnya untuk membangun ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Untuk diketahui, megaproyek kilang tersebut terdiri dari proyek pengembangan kapasitas untuk empat kilang dan pembangunan kilang baru. Pengembangan kapasitas kilang dilakukan di kilang Pertamina di Cilacap Jawa Tengah. Kemudian Balongan Jawa Barat. Dumai di Riau dan Balikpapan Kaltim. Adapun dua kilang baru dibangun di Tuban Jawa Timur. Kebutuhan tenaga kerja (manpower) dalam megaproyek pembangunan kilang terbilang cukup besar, kurang lebih 15 ribu tenaga kerja (per proyek) dengan berbagai kualifikasi. Serapan tenaga kerja itu pada fase konstruksi hingga pasca konstruksi. tis

baca juga :

Klien Lahirkan Bayi Tak Sesuai Program, Dokter Bayi Tabung Digugat

Tambah Sehat, Basofi Malah Diisukan Meninggal

Salman Abedi, Dicap Pecundang, tapi Dianggap Pahlawan