Global-News.co.id
Indeks Metro Raya Utama

Dewan Jatim Akan Berjuang Obat Tradisional Masuk Katalog BPJS

Wakil Ketua DPRD Jatim Anik Maslachah

SURABAYA (global-news.co.id) — Tak disangka, Indonesia termasuk negara pemasok bahan baku obat-obatan terbesar di dunia. Dari sekitar 40 ribu jenis obat tradisional yang telah dikenal di dunia,  sekitar 70 persennya bahan bakunya dipasok dari di Indonesia. Tapi sangat disayangkan penggunaan obat tradisional di Indonesia kurang booming seperti di Tiongkok. Karena itu dewan berharap ke depannya jamu tradisional masuk dalam katalog di BPJS.
Wakil Ketua DPRD  Jatim Anik Maslachah menegaskan jika obat tradisional di Indonesia mengusai bahan baku di dunia. Tapi sayangnya Indonesia justru impor dalam pemenuhan obat-obatan dengan harga yang cukup mahal. Ke depannya dengan adanya Perda Jamu Tradisional ini, Jatim akan menjadi pilot project dalam mengembangkan sejumlah obat tradisional dalam pengobatan di rumah sakit. Bahkan dewan melalui Menkes berjuang agar obat tradisional bisa masuk dalam katalog di BPJS.
“Kita tahu mengapa obat tradisional belum diminati oleh masyarakat dan namanya kurang populer seperti obat kimia. Ini karena hampir sebagian besar masyarakat kita yang ikut BPJS merekomendasikan pemakaian obat kimia. Tak heran jika obat tradisional kurang mendapat perhatian. Untuk itu dengan Perda Obat Tradisional ini, bersama Pemprov Jatim dan sejumlah ahli farmasi dan obat-obatkan kita akan mendesak Menkes agar nantinya obat tradisional mampu masuk di katalog BPJS’,”tegas politisi asal PKB, Senin (8/6/2020).
Ditambahkabnya, jika Jatim akan meniru berdirinya rumah sakit yang nantinya pengobatannya dan resepnya menggunakan obat tradisional seperti yang ada di Tawangmangu DIY. Namun untuk mendirikannya butuh kerjasama dengan Departemen Kesehatan RI.
Hal senada juga diungkapkan oleh anggota Komisi E DPRD JatimHari Putri Lestari. Dijelaskan politisi asal PDIP Jatim ini jika kondisi BPJS sejak didirikan mengalami defisit. Ini karena beban obat yang ditanggung cukup besar. Dan ini menjadi momen bagus masuknya obat tradisional sebagai solusi untuk menekan harga obat-obatan yang terus melambung.
“Memang untuk masuk ke katalog milik BPJS tidak semudah membalik tangan. Perlu ada penelitian dan kerjasama dengan para ahli dan sejumlah perguruan tinggi, jika obat tradisional  aman dikonsumsi. Bahkan dari statement Bu Khofifah dikatakan jika bahan baku untuk obat dunia 75 persen didatangkan dari Indonesia, kemudian kita impor lagi dengan harga yang mahal. Bukankah dari sini kita manfaatkan sendiri untuk pengobatan di masyarakat. Toh sudah puluhan masyarakat kita telah memanfaatkan obat tradisional untuk pengobatan,”lanjutnya.
Untuk itu, Komisi E akan berjuang keras agar obat tradisional masuk dalam Perda. Selanjutnya dewan akan mendesak Menkes lewat Pemprov Jatim agar obat tradisional masuk dalam katalog BPJS. Selain harganya murah, bahan bakunya mudah dicari. Bahkan masyarakat Indonesia banyak menanam di pekarangan rumah lewat tanaman toga. cty

baca juga :

Lawan COVID-19, Pemkot Surabaya Ajak Warga Senam Wani Sehat

Redaksi Global News

Atasi Persoalan Sungai Brantas, Pemprov Kolaborasi dengan 16 PTN Lewat Format KKN

Redaksi Global News

Bandel Ogah Pakai Masker, Siap-siap Sanksi Baru Menanti di Liponsos