Global-News.co.id
Na Rona

Sehat Tanpa Nasi Putih

Soal jalan pagi, Mat Tadji tak mau ketinggalan alias tak mau absen. Dimana pun dan dalam keadaan apa pun selalu meluangkan waktu untuk yang satu ini. Seperti Jumat kemarin. Setelah melakukan peliputan pagi di Bandara Juanda, Mat Tadji yang ke bandara naik ojek, pulang berjalan kaki. Sudah sekitar 4 km dia berjalan.

“Lesssoh kanak. Cokop jeu sengkok ajelen (capek . Cukup jauh saya berjalan, Madura. RED). Baju basah karena keringat. Baunya??? Ameng tretan (kecut saudara, Madura.RED). Nanti ke kantor lanjut lagi dengan ojek,” kata Mat Tadji dalam hati.

Lalu dia melihat warung pecel di pinggir jalan menuju kawasan Aloha. “Pak saya pesan nasi pecel. Jangan banyak-banyak nasinya. Yang penting sayurnya. Ikannya pindang saja pak,” pinta Mat Tadji.

Setelah dua sendok dilahapnya, pembeli lainnya duduk di dekat Mat Tadji. “Lho pak, makannya kok sayur saja. Mana nasinya,”.

Orang yang memperkenalkan dengan nama Ismail Lisi itu mengatakan, “Saya sudah tiga tahun ini sudah tidak makan nasi pak. Lebih sehat. Saya setiap hari hanya makan sayur dan buah. Sesekali ubi-ubian,” kata Lisi yang menyinarkan kebugaran itu.

“Aneh juga bapak ini. Apa tidak lapar,” Tanya Mat Tadji.

Tentang ini, Lisi mengatakan, semuanya ini demi kesehatan. Lisi yang pegawai negeri itu bercerita, sebelum dirinya tidak makan nasi, berbagai penyakit menggrogoti dirinya. Dari asam urat, kolesterol hingga diabetes menumpuk dalam tubuhnya. Berobat ke dokter? Sudah. Hasilnya, sebentar saja. Obatnya habis, penyakitnya datang lagi.

Setelah mempelajari sejumlah literatur kesehatan, dia memutuskan untuk tidak makan nasi putih. Awalnya di makan nasi jagung bercampur nasi putih. Setelah itu, makan nasi jagung 100%, tanpa campuran nasi putih. Nasi jagung ditinggalkan, beralih ke beras merah (nasi merah). Setelah itu Lisi meninggalkan sepenuhnya makan nasi merah. Dia hanya makan sayur dan buah. Sesekali makan ubi-ubian seperti ketelah pohon. Itu pun hanya sekali-sekali.

“Rentang waktu pindah jenis makanan, seperti dari nasi jagung campur nasi putih ke nasi jagung 100% itu ya sekitar 3 bulanan. Jadi, sekarang saya pagi sarapan pecel hanya sayurnya ditambah dua iris tempe. Siangnya juga demikian. Malam lebih banyak makan buah. Buah jangan mahal-mahal. Cukup papaya, nanas dan lainnya. Kalau nyamil, ya bisa pohong, telo dan lainnya,” katanya.

Bagaimana kalau ke luar kota? Tentang ini, pria yang mengaku 53 tahun itu mengatakan, itu repotnya. Kalau ke luar kota dia pasti membawa roti gandum. Jaga-jaga tak ada orang jual pecel dan sayur lainnya. “Semuanya tergantung niat mas. Mau sehat tidak kita. Itu saja rumusnya. Nyatanya, setelah saya merubah pola makan, khususnya sudah tak makan nasi putih, badan saya sehat. Tak ada keluhan penyakit,” kata Lisi.

“Benar juga bapak ini,” guman Mat Tadji. Dirinya pernah membaca artikel akibat makan nasi putih, terutama yang sudah berumur. Sudah banyak pelaku tak makan nasi bisa hidup tenteram, sehat, dan bugar. Pagi, cukup hanya sarapan bubur oat secukupnya dengan teh hangat tawar. Satu sampai dua jam kemudian, mengudap buah. Makan siang dan malam hanya sayuran dan lauk-pauk. Camilan di kala sore biasanya buah atau kacang almond. Kalau ini dilakukan sehat akan ada di tubuh kita.

Dalam artikel tersebut disebutkan, seorang dokter ahli gizi merekomendasi pasien-pasiennya untuk berhenti mengonsumsi nasi. Tidak hanya pada orang yang berpenyakit, kepada orang yang merasa sehat-sehat saja, disarankan berhenti mengonsumsi nasi, gula, dan makanan berpati. Sang dokter itu berpendirian bahwa pola makan bagaimana pun adalah ”obat” yang fundamental dalam menyembuhkan penyakit.

Sumber karbohidratnya hanya dari sayuran mentah, seperti aneka selada, tomat, dan mentimun. Sumber karbohidrat terbaik bagi manusia sebenarnya adalah sayur-sayuran mentah dan buah-buahan. Kita selama ini tak menyadari bahwa sayuran juga merupakan sumber karbohidrat, bahkan yang terbaik.

Pola makan tanpa nasi, gula, tepung, atau sumber pangan berpati dengan indeks glikemik tinggi telah terbukti membuat orang hidup lebih sehat dan tenteram. Makanan terbaik adalah makanan paling alami yang telah diciptakan oleh Tuhan sebelum manusia ada. Nasi, gula, tepung adalah makanan dagangan yang sarat kepentingan ekonomi politik saja. Itu sekadar makanan budaya, bukan yang dibutuhkan oleh tubuh kita.

“Pak saya duluan. Sudah memasuki jam kerja,” kata Lisi kemudian membuat Mat Tadji sedikit kaget.

“Berapa pak. Saya dengan bapak itu,” kata Lisi sambil menujuk ke arah Mat Tadji. Tanda Mat Tadji makannya dibayari.

“Lho pak gak usah,” kata Mat Tadji.

“Sekali-sekali. Kan belum tentu kita bertemu lagi,” kata Lisi sambil berlalu.

“Alhamdulillah. Sudah dapat ilmu kesehatan. Makan gratis lagi. Ya…inilah karunia,” kata Mat Tadji.(*)

baca juga :

‘Pameran’ di Medsos

Redaksi Global News

Awas Maut di ATM

gas

Tak Punya E-Toll, Kok Masuk Jalan Tol

Redaksi Global News