Global-News.co.id
Indeks Madura Utama

Pesona Pulau Gili Iyang dan Gili Labak Bagaikan ‘Surga’ Terpendam

Tak kalah indahnya dengan Pulau Gili Iyang, tampak pula keelokan Pulau Ropet yang berdekatan dengan Pulau GiliIyang, sayangnya pulau ini belum digarap secara maksimal.

Sumenep merupakan Kabupaten yang berada paling timur di Pulau Madura. Meski kota ini, berpenduduk tak lebih dari 1,5 juta jiwa, tetapi memiliki obyek dan daya tarik wisata yang sangat luar biasa.

Magnet pariwisata yang ada di Sumenep memang lebih didominasi oleh wisata perairan, dan gugusan pulau yang tersebar di seantero timur Pulau Madura. Seperti, Pulau Gili Raja, Gili Iyang, Pulau Gili Genting, Pulau Sapeken, Pulau Sembilan, wisata religi Karaton Sumenep dengan Labeng Mesem-nya, Pulau Kangean, Pulau Raas, dan tentu saja, ‘surga’ indah yang satu ini, Pulau Gili Labak.

Sabtu (9/9/2017) pagi lalu, wartawan media ini berkesempatan mengikuti travelling atau berwisata ke Kabupaten Sumenep, khususnya Pulau Gili Iyang dan Pulau Gili Labak bersama pegawai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, dan stakeholder dengan jumlah rombongan sekitar 22 orang yang dipimpin oleh Robert Siregar.

Perjalanan wisata kemarin di awali dari kantor Disbudpar Jatim di Jl. Wisata Menanggal Surabaya sekitar pukul 03.00 WIB. Jalan raya Surabaya menuju Jembatan Suramadu terasa agak sepi karena memang masih sangat pagi, sehingga tak ada hambatan kemacetan seperti saat siang atau sore hingga malam hari.

Kami menikmati perjalanan malam yang dingin dengan canda tawa, gurauan, dan sesekali membicarakan tentang spot wisata yang akan kami jujuki nanti, yaitu Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Tak terasa perjalanan sampai di kota Sampang. Malam itu suasana kota terlihat agak sepi senyap. Bahkan ada sebuah sudut di dalam kota yang benar-benar dirayapi suasana lengang, tak terbilang. Namun, saat kami melintasi pasar perkotaan, geliat orang-orang tampak telah menyibukkan diri mempersiapkan dagangan mereka, membuka lapak barang, ataupun menurunkan berkilo-berkilo sayur-mayur dari atas bak mobil pickup. Kesibukan yang memecah keheningan kota, di pagi buta itu.

Jalan raya yang menjadi trek perjalanan kami, merupakan jalur selatan dan langsung terhubung antara Bangkalan hingga Sumenep di belahan timur sana. Sejauh mata memandang, hanya kegelapan malam nan kelam yang tampak, lalu seketika tersibak sorot-sorot nyala lampu mobil rombongan kami, hingga sekian detik kemudian kembali menjadi gulita seperti semula.

Mobil HiAce dan mobil Innova yang kami tumpangi melaju cukup cepat. Tak banyak kendaraan yang melintasi jalan provinsi Bangkalan-Sumenep yang beraspal mulus itu meski terdapat beberapa jembatan yang lagi diperbaiki. Namun demikian masih terdapat beberapa kendaraan yang berlalu lalang di sepanjang perjalanan. Hingga tak terasa jam tangan kami menunjukkan angka delapan lewat seperempat berhenti di hotel Garuda Sumenep untuk istirahat dan sarapan pagi.

Setengah jam  berlalu, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini tujuan utamanya ke Pulau Gili Iyang. Yaa, di sanalah, merupakan titik awal kami berlayar mengarungi lautan biru, pun melewati hadangan gulungan ombaknan eksotis. Deburan ombak tersebut menambah suasana riang gembira sambil berfoto, berselfi ria bersama rombongan di tengah lautan.

 

Butuh Sentuhan Tangan Pemerintah Pusat dan Investor

Peserta travelling foto bersama di Pulau Gili Labak

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan sekaligus menyenangkan, akhirnya rombongan sampai di Pulau Gili Iyang. Tak hanya pulau Lombok yang tampil dengan sejuta gili yang mengitarinya, akan tetapi Gili Iyang merupakan sebuah wisata Gili yang indah dengan pemandangan alami yang masih alami dan belum terjamah oleh banyak wisatawan.

Pesona air laut jernih dan terumbu karang yang indah membuat wisata Gili Iyang sangat menarik untuk dieksplor lebih jauh lagi. Ketenangan, kejernihan dan pesona alam di Gili Iyang yang membuat suasana wisata Pantai ini seolah seperti surga yang tiada tara indahnya.

Kehidupan penduduk di daerah ini masih sangat sederhana. Meski demikian, tak sedikit rumah penduduk yang saat ini dihuni oleh sekitar 2000 orang itu, terdapat rumah yang bagus nan megah layaknya rumah di kota besar seperti Surabaya. Menurut keterangan penduduk setempat, pemilik rumah megah tersebut merupakan milik warga yang bekerja sebagai TKI dan bekerja di Bali, serta Kalimantan. Sayangnya daerah yang dihuni oleh dua desa tersebut belum teraliri oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Tak jauh dari Pulau Gili Iyang, terdapat Pantai yang sangat indah, namanya Pantai Ropet. Pantai ini terdapat diujung timur desa Barna’as kecamatan Dungkek. Akhyak Umuluddin pengelola sekaligus pemandu wisatawan di Gili Iyang ini mengatakan, wisatawan yang datang ke Pantai ini disamping menikmati keindahan dan deburan pantai, juga disuguhi dengan buah siwalan yang masih segar.

Tak kalah dengan Pulau GiliIyang, tampak pula keelokan Pulau Ropet yang berdekatan dengan Pulau GiliIyang, sayangnya pulau ini belum digarap secara maksimal.

Daging buah dari pohon Lontar atau Borassus Flabellifer itu, disajikan olen pihak pengelola. Rasanya hampir menyerupai kolang-kaling, namun sebagian orang mengatakan buah siwalan lebih enak daripada kolang-kaling. Buah ini, memiliki sejumlah zat gizi penting, antara lain kadar karbohidrat yang cukup tinggi, sehingga cocok bagi yang sedang menjalankan program diet.

“Ini menu sajian yang beda dengan daerah lain. Buah siwalan dan legen ternyata sangat disukai saat kami mengantarkan tamu wisata dari Surabaya dan Jakarta,” terang Akhyak Umuluddin.

Dia menambahkan, Pantai Ropet merupakan salah satu destinasi wisata yang ada di Pulau Giliyang yang dikenal dengan Pulau Oksigen terbaik kedua di dunia setelah Yordania. Di pulau yang menjadi produk unggulan wisata Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam program Visit Sumenep 2018 itu, juga tersaji keindahan alam lainnya yang masih alami, seperti 10 gua yang tersebar di dua desa. “Salah satunya goa Mahakarya dan tebing unik menjulang dibagian timur pulau,” tutur Akhyak.

Akhyak berharap kepada pemerintah pusat dan investor, agar memperhatikan keberadaan Pulau Gili Iyang dan Pantai Ropet. Dengan demikian pengembangan pulau ini akan semakin maju, dan sudah barang tentu kunjungan wisatawan akan semakin meningkat.

“Dengan peningkatan kunjungan wisatawan, maka geliat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat juga meningkat,” pungkas Akhyak.

 

Menantang Maut Deburan Ombak Pulau Gili Labak

Setelah puas menikmati indahnya Pulau Gili Iyang dan Pantai Ropet, rombongan melanjutkan perjalanan ke Pulau Gili Labak. Menjelang magrib atau sekitar pukul 17.30 WIB, rombongan sudah ditunggu oleh Warno, pemilik perahu yang akan membawa rombongan berlayar ke Pulau Gili Labak.

Selama berlayar, tak satupun peserta yang terlihat ceria dan tak ada sepatah katapun dialog yang terucap dari peserta. Yang ada hanya terlihat bibir mereka komat-kamit memanjat doa dalam  kecemasan dan ketegangan.

Betapa tidak, dalam suasana malam yang gelap dibarengi dengan deburan ombak yang cukup tinggi, membuat perahu oleng ke kanan dan ke kiri. Tak sedikit air laut yang masuk dalam perahu, sehingga membuat crew pemilik perahu yang juga istri Warno jadi sibuk dibuatnya.

Peserta travelling Disbudpar Jatim sedang menaiki perahu menuju pulau GiliIyang Sumenep.

Satu jam perjalanan lewat laut yang cukup menegangkan karena di ombang-ambingkan oleh ombak laut. Angin kencang tetap tak mau berhenti, atap terpal perahu motor tak bisa dipasang bahkan mengibas-ibas keras, terpontang-panting oleh angin yang sedang memuntahkan “amarah”-nya. Suasana mencekam menghampiri kami, beruntung di atas awan terlihat jutaan bintang tepat di atas perahu kami.

Kita membayangkan hujan deras di tengah ombak air laut dalam, bergelayut dalam benak kami. Tetapi, untung saja, tak ada hujan dan tak ada gemuruh petir, ataupun sambaran kilat yang bisa mengagetkan kami semua. Guncangan ombak yang kian kuat telah membunuh ketenangan kami selama berlayar menuju Gili Labak.

Benar-benar pengalaman yang susah dilupakan. Tetapi, pengalaman berperjalanan seperti itu, memang mengasyikkan, adrenalin menjadi teruji, dan mental berlayar pada kondisi malam demikian bisa terlatih, akhirnya sampai juga di tempat tujuan, yakni Pulau Gili Labak.

Gili Labak memang hanya sebuah pulau kecil di perairan Selat Madura. Dari kejauhan, pulau ini menghadirkan rasa kagum. Sejauh mata memandang, Gili Labak bagai sebuah benda besar yang mengapung-apung di lautan lepas. Di bagian bawah, ada garis putih memanjang mengitari sekujur tubuhnya yang tampak mungil tersebut. Itulah padang luas yang berpasir putih nan indah.

Setiba di sana, hal pertama yang kami lakukan adalah mandi, terus makan malam dan dilanjutkan acara bakar jagung. Namun karena rombongan sangat lelah, maka pukul 23.00 WIB mereka sudah terlelap tidur. Hanya terdengar kemercik air laut dipinggiran yang mengiringi tidur malam para rombongan.

Meski begitu, pagi-pagi buta peserta travelling sudah bangun, dengan harapan segera menikmati indahnya matahri terbit. Mereka bergegas ke tepi laut untuk berfoto-foto bersama. Ada banyak titik yang bisa dijadikan jujukan obyek fotografi.

Titik paling riuh untuk bahan berfoto selfie, yaitu di bawah plakat tulisan “Gili Labak”, pada sebuah kayu berlukis warna, yang disusun secara berkait menjadi tiga buah menggunakan tali tampar dan saling terikat pada dua buah pohon. Saat kami tiba ditepi laut, waktu masih menunjukkan pukul 06.00 pagi. Langit di atas pun masih menyembunyikan pendaran mentarinya yang hangat.

Usai berfoto, kami melanjutkannya dengan menikmati indahnya dalam laut yang dihiasi dengan batu karang berwarna–warni, juga aneka ragam satwa ikan laut yang seakan menari menyambut kedatangan rombongan wisatawan dari kantor Disbudpar Jatim ini.

Suasana sekitar Gili Labak masih sepi, namun, beberapa jam kemudian, Gili Labak menjelma bak sebuah magnet besar, menarik kuat-kuat banyak orang untuk mendatanginya. Sebab meskipun kulihat ombak di tengah laut sedang bergelayut, tetap saja banyak perahu motor yang bersedia mengantarkan para penikmat wisata pantai itu mendatangi pulau yang berpenduduk tak lebih dari 35 kepala keluarga.

Di Gili Labak, kami bisa bersenang-senang dengan air pantainya yang bening hingga apapun yang ada di dasarnya, terlihat jelas. Kumpulan terumbu karang, ikan-ikan yang berwarna-warni, dan bintang laut yang menggemaskan. Kami pun bisa menikmati kesenangan itu bersama keluarga tercinta. Itu memang pengalaman luar biasa. Selain bermain air pantai bersama keluarga, di sana kami bisa pula berayun kaki mengelilingi pulau yang masih perawan tersebut. Gugusan pasir yang berwarna putih bersih, benar-benar memanjakan kami.

Di Gili Labak, tak lebih dari seratus orang warga yang mendiaminya. Sepanjang yang kami amati, memang terdapat permukiman penduduk. Beberapa di antaranya, dilengkapi pula dengan antena parabola yang dialiri arus listrik melalui sebuah piranti panel surya yang terpasang pada hampir rumah-rumah penduduk. Tak hanya berfungsi sebagai penghantar listrik bagi parabola. Alat tersebut juga berfungsi sebagai tenaga listrik untuk penerangan terutama saat malam hari. Maklum saja, di sana belum ada aliran listrik yang bisa mengakomodasi kebutuhan sehari-hari penduduknya.

Balai-balai bambu yang juga difungsikan untuk tempat bersantai wisatawan, sekaligus tempat alat melaut nelayan setempat ditempatkan. Sehari-hari, penduduk Gili Labak bekerja di sektor nelayan. Hasil tangkapan melaut mereka jual pada pengepul yang biasa datang ke sana.

Selain ikan, tentu saja ada rajungan sebagai hasil olah tangkap lautnya. Dalam sehari, enam hingga lima belas kilogram rajungan berhasil mereka tangkap. Sebagai alat tangkap, mereka menggunakan perangkap rajungan yang bernama bubu.Meski pekerjaan mereka sebagai pelaut, di beberapa tanah tegalan milik penduduk juga tertanami jagung, maupun buncis.

Gili Labak memang mempesona. Daya tariknya mampu membuat puluhan bahkan ratusan pasang mata yang ke sana, untuk tak tahan ingin memotret segala penjuru tempatnya. Surga di timur Madura itu kini menjelma sebagai ikon wisata Madura. Bukan hanya bukit kapur Jeddih dengan danau air birunya di Bangkalan, bukan pula Pantai Slopeng dan Pantai Lombang di Sumenep utara, atau air terjun Toroan di Ketapang, Sampang.

Gili Labak dengan segala potensi wisatanya, diharapkan bisa menjadi pemberdaya ekonomi penduduk sekitar, utamanya bagi mereka yang bekerja sebagai penyewa perahu motor yang bisa digunakan sebagai moda transportasi wisatawan menuju ke sana. * jto

baca juga :

Bupati Mas Tamam Beri Motivasi Santri Sebelum Berangkat ke Pondok

gas

Tingkatkan Layanan, RS Adi Husada Undaan Tambah Klinik Bedah

Redaksi Global News

23 Juni: Pasien Positif COVID-19 di Jatim Capai 10.092, Selisih 135 dari DKI Jakarta

Redaksi Global News