Global-News.co.id
Ekonomi Bisnis Indeks Utama

Revisi APBN 2017, Kementerian ESDM Usul ICP Tetap 45 Dollar AS

GN
Menteri ESDM Ignasius Jonan tidak akan mengubah harga minya Indonesia dalam revisi APBN 2017.

JAKARTA (global-news.co.id) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi harga minyak Indonesia (Indonesia crude price/ICP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) 2017 sebesar US$ 45 per barel, masih relevan. Makanya, kementerian mengusulkan untuk tidak mengubah asumsi ICP dalam pembahasan APBN Perubahan 2017.

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan salah satu alasan untuk tidak mengubah asumsi ICP adalah tren harga minyak dunia yang cenderung turun dalam beberapa bulan terakhir. Harga ICP hanya naik di awal tahun, dari Januari sebesar US$ 51,88 per barel, ke Februari US$ 52,50 per barel.

Namun setelah itu, periode Maret harganya anjlok menjadi US$ 48,30 per barel. Pada April, ICP sedikit naik menjadi US$ 49,59 per barel. Lalu pada bulan lalu rata-rata harga ICP sebesar US$ 47,09 per barel. Jadi jika di rata-rata sejak Januari hingga Mei, ICP US$ 49,50 per barel, masih di bawah US$ 50 per barel.

Atas dasar itu, Jonan menilai asumsi ICP tahun ini tidak perlu diubah, meski secara rata-rata harganya masih di atas target APBN 2017. “Tidak ada perubahan, tetap US$ 45 per barel. Ini trennya turun,” kata dia di Jakarta, Senin (6/5).

Jonan mengakui harga minyak ke depan memang masih sulit untuk diprediksi. Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi harga minyak. Salah satunya adalah pengurangan produksi yang dilakukan negara OPEC dan Rusia hingga mencapai 3 juta barel. Namun, hal itu belum tentu menjamin harga-harga minyak akan turun.

Alasannya ada faktor lain yang bisa mempengaruhi harga minyak, seperti gejolak politik dunia. Baru-baru ini negara-negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Arab Saudi memutuskan hubungan diplomasi dengan Qatar. Hal ini dinilai bisa mempengaruhi tren harga minyak.

Menurut Jonan, harga minyak dunia yang rendah sebenarnya bisa berdampak positif bagi Indonesia. Alasannya Indonesia masih harus mengimpor minyak dan BBM untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Penurunan harga minyak akan membuat impor produk tersebut menjadi lebih murah.

Meski bisa mendapatkan minyak lebih murah, pemerintah belum memutuskan harga jual BBM penugasan jenis Premium dan Solar Subsidi untuk periode Juli sampai dengan September. “Tergantung arahan Presiden,” kata Jonan.  Rendahnya harga minyak juga dapat berpengaruh terhadap iklim investasi migas di tanah air. Investasi hulu migas terutama eksplorasi tidak akan bisa meningkat dengan harga minyak yang rendah, meskipun sudah ada skema gross split.(kdt)

baca juga :

GLOBAL NEWS Edisi 279 (14-20 Januari 2021)

Redaksi Global News

PLN, Perahu Listrik Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Redaksi Global News

PSBB Mau Dilonggarkan, Pemerintah Tepis Menuju Herd Immunity

Redaksi Global News