Global-News.co.id
Utama

Jatim Kembangkan Pelabuhan Perikanan Berstandar Internasional

GN/Istimewa Foto udara pelabuhan Muncar Banyuwangi
GN/Istimewa
Foto udara pelabuhan Muncar Banyuwangi

SURABAYA (global-news.co.id)-Karena tuntutan keadaan, khususnya permintaan Uni Eropa, Pemprov Jatim melalui Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) Provinsi Jatim mengucurkan anggaran hampir Rp 240 miliar. Dana tersebut diperuntukkan untuk pengembangan pelabuhan dan pembangunan pelabuhan perikanan baru di wilayah Jatim.

Kepala DPK Pemprov Jatim Heru Tjahjono mengatakan, anggaran Rp 240 miliar itu meliputi anggaran untuk pengembangan pelabuhan Rp 190 miliar dan pembangunan pelabuhan baru Rp 50 miliar.

“Pelabuhan perikanan baru yang akan dibangun, yakni berada Popoh Tulungagung dan Grajagan Banyuwangi. Sementara pelabuhan perikanan yang akan dikembangkan berstandar internasional sesuai permintaan Uni Eropa, di antaranya, Pelabuhan Muncar Banyuwangi, Tamperan Pacitan, Tambak Rejo Blitar, Bulu Tuban, Mayangan Probolinggo, Pasongsongan Madura, Pelabuhan Paiton dan Pondok Dadap Blitar,” kata Heru Tjahjono, Rabu (15/2/2017).

Menurut Heru, anggaran sebesar Rp 240 miliar itu tidak bisa menuntaskan keseluruhan pembangunan pelabuhan perikanan yang direncanakan. “Makanya akan diselesaikan secara bertahap. Pelabuhan-pelabuhan itu sudah dibangun sejak 2008 dan 2010. Sekarang akan diperbaiki sesuai standar internasional. Kalau mau ideal, satu pelabuhan perikanan butuh anggaran perbaikan Rp 150 miliar,” katanya.

Perbaikan fasilitas di pelabuhan perikanan itu meliputi gedung pengepakan ikan, pengadaan cold storage, rumah singgah nelayan, kantor pelabuhan itu sendiri dan pasar ikan. Nantinya akan didesain selain pelabuhan itu sendiri, juga bisa menjadi destinasi wisata.

Berdasarkan data, kata Heru, ada 11 pelabuhan perikanan besar di Jatim. Dari jumlah itu, yang sudah memenuhi standar baru 6 meliputi pelabuhan Muncar Banyuwangi, Tamperan Pacitan, Tambak Rejo Blitar, Bulu Tuban, Mayangan Probolinggo dan Pondok Dadap Blitar. Sedangkan 5 pelabuhan sisanya masih dalam proses pembenahan.

“Untuk memenuhi pelabuhan ikan berstandar internasional minimal Tempat Pelelangan Ikan (TPI) lantainya harus bersih, alat angkut keranjang dari plastik standar Uni Eropa, cold storage, kelengkapan nelayan dan airnya bersih,” tambah mantan Bupati Tulungagung ini.

Dia mengatakan, produksi ikan di Jatim berasal dari ikan tangkap dan ikan budidaya. Produksi ikan tangkap tahun 2016 sebesar 363 ribu ton dan ditarget naik menjadi 417 ribu ton pada tahun 2017. Sedangkan untuk produksi ikan budidaya, mencapai sebesar 973 ribu ton pada 2016 dan ditarget meningkat menjadi 1,1 juta ton pada 2017.

Pada musim paceklik (cuaca buruk dan nelayan tidak melaut) seperti saat ini dari September 2016 sampai Februari 2017, nelayan akan dibantu pelatihan untuk mengolah ikan menjadi bakso, nugget, siomay dan abon. “Ini namanya program diversifikasi produk ikan saat musim paceklik. Ikan ketika harga tidak bagus bisa diolah. Kalau memasuki bulan Maret-Agustus baru memasuki musim ikan,” katanya.

Tambah Armada

Sementara itu berkait dengan pengawasan laut, DKP Jatim menambah armada kapal atau speed boat. Dari 7 armada kapal pengawas yang dimiliki, tahun 2017 pemprov kembali melakukan tambahan 4 armada.

Sekretaris DKP Jatim, Asmuri Syarif,  mengatakan, dari 22 kabupaten yang memiliki wilayah laut dengan 7 armada kapal yang dipunyai, selama ini 1 kapal harus melakukan pengawasan 3-4 kabupaten. “Harapannya tahun ini 1 kapal bisa mengawasi 2-3 kabupaten dan tahun depan 1 kapal mengawasi 2 kabupaten,” katanya beberapa waktu lalu.

Bukan hanya melakukan penambahan 4 armada kapal. DKP Jatim juga merekrut anak buah kapal (ABK) pada masing-masing kapal pengawas. Setiap kapal sedikitnya membutuhnya 4 ABK. Sulitnya mencari tenaga ABK yang profesional sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan, menjadi kendala pada perekrutan itu. “Apalagi saat ini kami harus dihadapkan masih adanya moratorium rekrutmen ASN dan juga tidak boleh merekrut pengawai PTT,” katanya.

Empat kapal tambahan nantinya akan memiliki spesifikasi dan ukuran yang berbeda. Hal ini menyesuaikan dengan lokasi penempatan kapal. Empat kapal itu memiliki dua ukuran, yakni 2 unit masing-masing berukuran 14 meter dan 2 unit berukuran 20 meter.

Kapal yang memiliki panjang 14 meter akan ditempatkan pada perairan pantai utara, yakni di perairan Bulu, Tuban dan untuk ukuran 20 meter akan ditempatkan di perairan pantai selatan tepatnya di Blitar dan Jember.(fan/*)

baca juga :

13 Juni: Tambah 1.014 Pasien, Kini 37.420 Orang Indonesia Positif Corona

Hadang Wabah Pneumonia, AS Perketat Pemeriksaan di Tiga Bandara

Redaksi Global News

Nayla Badrut Tamam: Covid-19 Ladang Juang Kartini Modern

gas