Global-News.co.id
Koperasi dan UKM

Kegigihan Antar Uyud Jadi  Raja Dodol

GN/IST Uyud sukses menjadi raja dodot Garut berkat kegigihan dan keuletan.
GN/IST
Uyud sukses menjadi raja dodot Garut berkat kegigihan dan keuletan.

BANDUNG (Global News)-Dodol Garut merupakan salah satu komoditas yang telah mampu mengangkat citra Kabupaten Garut sebagai penghasil Dodol yang berkualitas tinggi dan beraneka ragam jenis Dodol yang diproduksi. Dodol Garut ini dikenal luas karena rasanya yang khas dan kelenturan yang berbeda dari produk yang sejenis dari daerah lain. Situs resmi Pemerintah Kabupaten Garut mengisahkan bahwa industri dodol ini berkembang sejak tahun 1926, saat seorang pengusaha yang bernama Ibu Karsinah memulai proses pembuatan yang sangat sederhana dan terus berkembang hingga saat ini.

 ini dapat bertahan karena Dodol Garut memiliki cita rasa yang berbeda dan mampu bersaing dengan jenis dodol yang berasal dari daerah lain. Selanjutnya, dari harganya terjangkau dan merupakan makanan yang sangat digemari oleh masyarakat. Proses pembuatannya sangat sederhana dan bahan bakunya mudah diperoleh,  tidak  menggunakan bahan pengawet dan tambahan bahan makanan yang bersifat sintetis serta  Memiliki daya tahan cukup lama ( 3 bulan). Komoditas ini mudah dikembangkan dengan memodifikasi bahan baku utamanya yaitu dengan memanfaatkan bahan lain buah waluh, kentang, kacang, pepaya, nenas, sirsak dan lain-lain

Kelenturan Itulah  juga yang dicapai Haji Uyud (60), ayah empat anak, dalam merasakan manisnya hasil kerja keras dengan bisnis usaha dodol.  Meski tidak dididik sebagai pengusaha, namun Haji Uyud sangat lentur dalam membuat dodol. Uyud dan keluarganya memiliki sejumlah aset seperti beberapa kendaraan, rumah tempat usaha. Ia pun sudah beberapa kali berhaji dan umroh. “Alhamdulillah saya bisa mencapai semua ini,” tutur nya saat dikunjungi media, di pabriknya, di Kampung Ngamplang, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Sabtu (16/4/2016).

Sebagai mitra usaha Bank Negara Indonesia (BNI), Uyud mendapat kucuran KUR (kredit usaha rakyat) sebesar Rp 500 juta dengan suku bunga 9 persen. Dengan demikian, Uyud termasuk salah satu debitor BNI yang memperoleh manfaat langsung dari program KUR bersuku bunga singel digit yang didorong pemerintah.

Lantaran usahanya terus berkembang, ia juga mencari tambahan modal dengan meminjam ke perusahaan leasing yang agunannya adalah BPKB mobil. “Ini mobil-mobil semua ‘disekolahin’ ke leasing. Semua masih atas nama saya. Nanti mah anak-anak biar cari sendiri,” tuturnya menunjuk mobil-mobilnya sambil terkekeh.

Dalam usaha dodol, Uyud bisa mempekerjakan sekitar 40 orang tetangganya. Belum lagi empat anaknya pun masing-masing memiliki usaha serupa dengan merek berbeda masih di sekitar Kampung Ngamplang. Berarti ada ratusan orang bisa bekerja dan mendapat penghasilan dari usaha dodol keluarga Uyud.

Uyud tadinya hanya seorang caddy di padang golf Ngamplang. Tentu penghasilan dari profesinya itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, dalam perjalanan itu ia diberi modal oleh bosnya Rp 500.000 untuk mulai berusaha. Pilihannya adalah menjadi pedagang yang memasok tepung dan beras ketan bagi pembuat dodol pada tahun 1990-an.

Pada tahun 1997, Uyud tidak puas hanya menjadi pedagang tepung dan beras ketan, menambah usaha turunan dari beras ketan yakni membuat rengginang. Namun, usaha tersebut tidak berjalan mulus. Gagal pada usaha rengginang tidak membuat Uyud patah arang. Ia terus mengembangkan usaha menjadi pengusaha dodol. Garut selama ini memang dikenal sebagai sentra produksi dodol.

Ia tidak dididik khusus untuk menjadi pengusaha, tapi waktu dan kesempatan terus menempanya agar bisa bertahan dalam kondisi perekonomian yang berat. Segmen dodol yang diambilnya adalah dodol kelas curah dengan harga murah. Ternyata usaha baru yang ditekuni tersebut cukup memiliki prospek yang bagus, di mana hingga saat ini usaha pembuatan dodol tersebut masih bertahan dan terus berkembang.

Inovasi yang dilakukan, Uyud tidak berhenti di situ saja, di tahun 2009, dia mampu memproduksi sendiri bahan baku dodol yakni tepung ketan. Dengan begitu harga dodol yang diproduksi menjadi lebih kompetitif dan bahkan margin keuntungan menjadi lebih baik.

Hingga saat ini tepung ketan yang diproduksi Uyud tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dalam memproduksi dodol curah, namun juga dijual pada beberapa pengrajin dodol. Saat ini, Uyud juga menjual bahan-bahan lainnya untuk produksi dodol ke beberapa perajin dodol antara lain gula, minyak, dan juga gas elpiji.

Siapkan KUR Rp 29 M

Pemimpin Cabang BNI Garut, Syaiful Jamal mengatakan, pihaknya siap membantu modal usaha dengan menyalurkan KUR. Untuk tahun ini, target KUR BNI di Kabupaten Garut sebesar Rp 29 miliiar. Sampai dengan Maret 2016 total penyaluran KUR sudah sebesar 50,8 persen. Dari jumlah tersebut dominan kredit disalurkan ke sektor perdagangan seperti dodol dan kulit. “Saya kira pengembaliannya lancar. Bagusnya NPL (kredit macet) 0 persen. Sementara debitor total ada 200. Kemungkinan target tahun ini bisa mencapai 130 persen,” jelas Syaiful.

Syaiful pun membeberkan pendekatan pihaknya dalam mennyalurkan KUR. Pertama ia melihat jenis usahanya.Jika jenis usaha masuk kategori bagus, langkah selanjutnya yakni melihat kemampuan pelaku usaha dalam menghasilkann pendapatan.Hal ini bisa dilihat dari catatan pembukuan perdagangan dan melihat transaksi rekening buku tabungan. “Setelah itu kita lihat apa sih yang dibutuhkan mereka, dan kita siap membantu dalam pemasaran dan lain-lain,” ujarnya. djauhari effendi

 

baca juga :

BIC Dukung Penetrasi Pasar UKM di Korsel

Redaksi Global News

Dukung UMKM Go Global, BNI Dukung Bazaar UMKM untuk Indonesia

Rumah BUMN BNI Hadirkan UMKM Berkelanjutan di Inacraft On October 2023

Redaksi Global News