Dua Tahun Wafatnya Lao Shi, Amanah Harus Kita Laksanakan

SURABAYA (global-news.co.id) – Peringatan dua tahun wafatnya Sang Maestro Penemu Ling Tien Kung, almarhum Awiek Widjaya yang kita sebut sebagai Lao Shi (guru), diperingati oleh Puslatbang Ole-Ole, Jumat (8/1/2021) pagi di Lapangan Ole-Ole Surabaya. Setidaknya 84 anggota Ling Tien Kung hadir termasuk sejumlah pengurus MPET2, organisasi yang menaungi Ling Tien Kung.

 

Brigjen Pol (Pur) Drs. Edy Prawoto, SH, MHum, Ketua Umum MPET2, dalam sambutannya mengatakan, setiap tanggal 8, bagi anggota Ling Tien Kung di mana pun berada pasti mempunyai makna yang mendalam. Mengapa? Karena pada tanggal tersebut guru kita yang kita sebut Lao Shi meninggal dunia. Tepatnya, 8 Januari 2019.

 

“Kita sudah pasti kehilangan sosok panutan. Almarhum bersama Semu (istri Lao Shi) adalah guru kita semua. Mereka berdua yang mengajarkan Ling Tien Kung kepada kita, dan Ling Tien Kung hanya mengenal guru, yakni Awiek Widjaja (Lao Shi) dan Semu,” katanya.

Lao Shi, katanya, meninggalkan nilai-nilai yang bermakna bagi kita semua, karena almarhum memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi penyembuhan dan kesehatan. Karena Ling Tien Kung dengan gerakan yang sederhana, tetapi memberikan manfaat yang luar biasa.

 

“Saya 8 tahun bersama Lao Shi. Selama kurun waktu itu banyak hal-hal yang menjadi masukan (bermanfaat) bagi saya, terutama yang berhubungan dengan Ling Tien Kung. Lao Shi telah menginspirasi Indonesia, karena saat ini setidaknya 30.000 anggota Ling Tien Kung menyebar di seluruh Indonesia,” katanya.

 

Edy mengatakan, peringatan “Dua Tahun Wafatnya Lao Shi” mari kita jadikan momentum untuk memperbaiki diri, serta berintrospeksi. Ajaran Lao Shi, Making People Healty, merupakan aspek keikhlasan. Karena itulah, dia berharap seluruh anggota jangan pernah berhenti mensosialisasikan ajaran Ling Tien Kung. Jangan ditambah dan jangan dikurangi.

 

“Mari kita merenung kembali. Kita harus berterima kasih kepada Lao Shi. Mari para kader, keberadaannya untuk bermakna bagi orang lain seperti yang diajarkan Lao Shi. Mengapa? Supaya hidup kita bermakna pula,” kata Edy.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina MPET2, Shane Feldo Fuyi Widjaja dalam sambutannya mengatakan, kita semua patut bersyukur, karena kehadiran Ling Tien Kung di tengah-tengah masyarakat telah memberikan nilai positif, khususnya di bidang penyembuhan berbagai penyakit dan kesehatan.

 

“Ling Tien Kung ini merupakan warisan yang tak ternilai dari kakek saya. Ini amanah yang harus kita lestarikan dan kita jaga serta jangan pernah berhenti untuk menyebarluaskan, karena Ling Tien Kung itu amalan kita,” kata Shane.

 

Shane juga meminta kepada seluruh anggota Ling Tien Kung dimana pun berada, jangan pernah berhenti untuk menyebarkan ilmu Ling Tien Kung. Ling Tien Kung harus ada sepanjang masa, karena Ling Tien Kung misinya hanya untuk memberikan kebaikan manusia. Ini merupakan amanah Lao Shi. Mari kita laksanakan dan menjaganya.

“Terakhir saya mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh anggota Ling Tioen Kung yang hari ini telah memperingati “Dua Tahun Wafatnya Lao Shi”. Saya yakin, sejumlah sasana dan koordinator dimana pun berada, pagi ini juga memperingati wafatnya kakek saya,” pungka Shane.

 

Acara peringatan “Dua Tahun Wafatnya Lao Shi” di Puslatbang Ole-Ole ini dimulai dengan latihan bersama tingkat dasar yang dimulai pada pukul 05.30. Dilanjutkan serimonial, doa dipimpin oleh Prof. Didiek. Acara ditutup dengan pembagian nasi kotak. (Erfandi Putra)