Vaksinasi Covid-19, Ratu Elizabeth II Siap SusuI Margaret Keenan

Margaret Keenan saat menjalani vaksinasi Covid-19, Selasa (8/12/2020).

Ketika kita di Indonesia masih menunggu hasil analisa data-data dari uji klinis tahap 3-nya, Inggris telah mulai menyuntikkannya pada mereka yang diprioritaskan yakni lanjut usia (lansia). Pemberian vaksin memang tak bisa grasa-grusu, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menjamin kesehatan, keselamatan, dan efektivitasnya

Selasa (8/12/2020) kemarin, Inggris memulai program vaksinasi Covid-19 perdana yang dikembangkan Pfizer dan BioNTech. Penyuntikan ini hanya selisih sehari dari kedatangan vaksin Covid-19 buatan perusahaan farmasi Tiongkok, Sinovac, di Indonesia pada Minggu malam.

Suntikan pertama vaksin virus corona diberikan kepada Margaret Keenan, yang akan berusia 91 tahun pada pekan depan. Penyuntikan dilakukan di University Hospital Coventry, satu dari beberapa rumah sakit yang ditunjuk oleh pemerintah Inggris untuk menangani vaksinasi tahap awal atau “V-Day”.

“Saya merasa sangat terhormat, karena menjadi orang pertama yang divaksinasi Covid-19,” kata Keenan, perempuan yang dulunya bekerja sebagai asisten toko perhiasan.

Dia menyebut vaksin Covid-19 ini adalah hadiah ulang tahun terbaik yang bisa diharapkannya. “Karena itu artinya, saya akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman pada saat Tahun Baru nanti, setelah menghabiskan waktu sendirian sepanjang tahun,” katanya.

AFP melaporkan, Ratu Elizabeth II bersama suaminya, Pangeran Philip, juga ikut antre dalam mendapatkan suntikan tahap awal. Usia menjadi pertimbangan utama keduanya untuk menerima vaksin virus corona pada gelombang awal.  Selain mereka, tokoh terkenal di Inggris juga disebut telah berkomitmen secara terbuka untuk mengikuti vaksinasi, di antaranya bintang Monty Python, Michael Palin, dan Bob Geldof.

Pada tahap awal, 800.000 dosis vaksin Covid-19 diberikan kepada orang-orang yang berusia di atas 80 tahun, yang dirawat di rumah sakit atau sudah memiliki jadwal rawat jalan. Selain penghuni panti jompo, vaksinasi tahap awal juga diberikan kepada orang-orang yang bekerja di panti jompo dan para petugas medis. Prioritas pemberian vaksin ini lebih didasarkan pada usia.

Direktur Medis Layanan Kesehatan Nasional (NHS) Inggris, Stephen Powis, mengatakan, penyuntikan pertama vaksin Covid-19 adalah momen yang mengharukan. “Ini benar-benar terasa seperti awal dari akhir. Tahun 2020 benar-benar mengerikan, semua hal yang biasa kita lakukan, bertemu teman dan keluarga, pergi ke bioskop, tidak bisa lagi dilakukan,” kata Powis. “Namun, kini kita akan bisa mendapatkannya kembali,” imbuhnya.

Diakui persoalan logistik memperlambat distribusi vaksin Pfizer-BioNTech, karena vaksin yang diproduksi di pabrik Pfizer di Puurs, Belgia tersebut harus disimpan pada suhu minus 70 derajat Celcius. Ketentuan harus disimpan dalam suhu yang sangat dingin itu pula yang menjadi salah satu pertimbangan pemerintah Indonesia untuk memilih vaksin buatan Sinovac di saat sekarang. Vaksin Sinovac sendiri bisa disimpan dalam ruangan dengan suhu minus 2 – 8 derajat celcius.

Berbeda dengan Inggris, otoritas Moskow di Rusia  baru sampai mendistribusikan vaksin Sputnik V. Distribusi vaksin buatan Rusia, Sputnik V, ke sedikitnya 70 klinik setempat itu dimaksudkan untuk memvaksin 7 juta warganya.

Seperti diberitakan Reuters, Senin (7/12/2020), pendistribusian Sputnik V di ibukota Moskow sejak Sabtu (5/12/2020) waktu setempat menandai dimulainya program vaksinasi Corona berskala besar yang pertama di Rusia. Vaksinasi Corona di Moskow diprioritaskan bagi kelompok yang paling terpapar. “Prospeknya, kita harus memvaksinasi enam hingga tujuh juta orang,” tutur Walikota Moskow, Sergei Sobyanin, kepada televisi setempat, Rossiya-1.

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo mengatakan, kehadiran vaksin Sinovac merupakan kabar baik untuk seluruh rakyat Indonesia. “Kita amat bersyukur, alhamdulillah vaksin sudah tersedia, artinya kita bisa segera mencegah meluasnya wabah Covid-19. Tapi untuk memulai vaksinasi masih memerlukan tahapan-tahapan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” ujarnya saat mengumumkan kedatangan vaksin yang diangkut menggunakan pesawat Garuda Indonesia Boeing 777-300 ER rute Jakarta-Beijing-Jakarta, Minggu (6/12/2020).

Selain 1,2 juta dosis vaksin yang sudah datang, pemerintah masih mengupayakan 1,8 juta dosis vaksin untuk tiba di awal Januari 2021. Sementara dalam bulan Desember ini juga akan tiba 15 juta dosis vaksin dan sebanyak 30 juta dosis vaksin di Januari 2021 dalam bentuk bahan baku curah yang akan diproses lebih lanjut oleh PT Bio Farma.

Presiden Jokowi juga menegaskan, sebelum melakukan vaksinasi ke masyarakat, seluruh prosedur harus dilalui dengan baik untuk menjamin kesehatan dan keselamatan masyarakat serta efektivitas vaksin.  “Seluruh prosedur harus dilalui dengan baik dalam rangka menjamin kesehatan dan keselamatan masyarakat serta efektivitas vaksin. Pertimbangan ilmiah, hasil uji klinis ini akan menentukan kapan vaksinasi bisa dimulai,” ujar Presiden.

Selain itu, sistem distribusi ke seluruh daerah juga harus diperhatikan. Termasuk pula peralatan pendukung, SDM dan tata kelola vaksinasi.  Menurut Jokowi, sistem distribusi vaksin sangat penting, sebab jika vaksin tak disimpan dengan baik maka tak akan bisa disuntikkan ke masyarakat. “Kita tahu telah disiapkan dalam beberapa bulan yang lalu lewat simulasi-simulasi di beberapa provinsi dan saya yakin setelah diputuskan vaksinasi dimulai, semua sudah dalam keadaan siap,” ujarnya.

Terkait kesiapan daerah, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pihaknya menyiapkan sebanyak 2.404 orang tenaga kesehatan sebagai vaksinator Covid-19. “Ribuan vaksinator yang terdiri dokter, perawat, dan bidan tersebut telah mendapatkan pelatihan penyuntikan vaksin Covid-19 dan disebar di 968 Puskesmas di seluruh Jatim,” katanya di Gedung Negara Grahadi, Senin (7/12/2020).

Pemprov Jatim juga telah membentuk satuan tugas (Satgas) vaksinisasi Covid-19 dari tingkat Provinsi dan sebagian besar Pemkab/Pemkot juga segera membentuk. Tugas dari satgas ini menghitung kebutuhan, distribusi vaksin, serta  melihat respons pasca divaksin.

Selain SDM, telah disiapkan pula tempat penyimpanan khusus mengingat vaksin harus disimpan di dalam ruangan dengan suhu minus 2 – 8 derajat celcius.

Khofifah menyebut, dari total 1,2 juta dosis vaksin yang telah datang, dirinya belum mengetahui persis berapa dosis vaksin yang dialokasikan untuk Jatim. Pengadaan vaksin tersebut dilakukan sepenuhnya oleh Pemerintah Pusat. “Saya sudah koordinasi dengan Pak Terawan Menteri Kesehatan, saat ini sedang dibahas segala sesuatunya termasuk jumlah yang akan didistribusikan ke Jawa Timur” ujarnya.

Berbeda dengan Inggris yang memprioritaskan lansia, di Indonesia ada 6 kelompok yang diprioritaskan untuk divaksin. Pertama tenaga kesehatan (nakes), menyusul tokoh agama/masyarakat, guru, aparatur pemerintah, peserta BPJS PBI, dan pelaku ekonomi.

Untuk nakes, di Jatim sendiri terdapat sekitar 130 ribuan. Pihak Dinkes Jatim sendiri sudah melakukan sosialisasi kepada organisasi profesi kelompok prioritas (Ikatan Bidan Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia, Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia)  sambil menunggu Permenkes dan Petunjuk Teknis Pelaksanaaan Imunisasi Covid 19 yang menjelaskan secara detail.

Untuk tahap awal vaksinasi, Khofifah mengatakan akan memprioritaskan Kabupaten/Kota dengan jumlah penambahan kasus positif tinggi, berisiko tinggi penularan, dan populasi padat.  “Untuk kapan akan dimulai, sepenuhnya menunggu aba-aba pemerintah pusat. Yang pasti dari sisi infrastruktur dan SDM Insya Allah Pemprov  Jatim telah siap. Mudah-mudahan semua berjalan sesuai dengan rencana dan Indonesia bisa bebas dari Pandemi Covid-19,” imbuhnya.

 

WHO Imbau Jangan Wajibkan Vaksin

Sementara itu Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengimbau agar pemerintah bisa memberikan pemahaman pada masyarakat akan manfaat dari vaksin Covid-19 yang nantinya disuntikkan, dibanding mewajibkannya sebagai bentuk undang-undang atau peraturan tertentu. Terlebih, WHO membebaskan tiap negara membuat peraturan sesuai dengan kondisi kasus Covid-19.

WHO bersikeras, mewajibkan imunisasi terhadap penyakit itu adalah jalan yang salah. Berkaca dari contoh di masa lalu yang mewajibkan penggunaan vaksin, nyatanya menjadi bumerang dengan perlawanan yang lebih besar dari masyarakat.

“Saya tidak berpikir bahwa mandat (peraturan) adalah cara yang harus ditempuh di sini, terutama untuk vaksin ini,” kata direktur departemen imunisasi WHO, Kate O’Brien.

Dia menyebut, mungkin saja ada rumah sakit tertentu di mana vaksinasi mungkin diperlukan atau sangat direkomendasikan untuk keselamatan staf dan pasien. Tetapi para ahli WHO mengakui ada hal yang harus diperjuangkan untuk meyakinkan masyarakat umum agar menggunakan vaksin saat tersedia.

“Kabar vaksin adalah kabar baik. Ini adalah kemenangan usaha manusia, berpotensi, atas musuh mikroba,” kata Direktur Darurat di organisasi itu, Michael Ryan.

“Kami perlu meyakinkan orang dan kami perlu meyakinkan,” sambungnya.

Mengenai kewajiban vaksin, menurut Ryan bukan cara yang tepat lantaran membuat orang malah akan menghindarinya mati-matian. Memberi edukasi akan jauh lebih baik agar masyarakat memiliki keinginan sendiri untuk divaksin.

“Jauh lebih baik disajikan kepada orang-orang dengan data dan manfaat dan membiarkan orang mengambil keputusan sendiri. Ada keadaan tertentu … di mana saya percaya bahwa satu-satunya hal yang bertanggung jawab adalah divaksinasi,” kata Ryan.Retno Asri