Khawatir Komnas HAM Terhambat Birokrasi, Pembentukan TGPF Terus Disuarakan

Langkah Komnas HAM dalam mengungkap fakta peristiwa di Tol Jakarta-Cikampek KM 50 dikhawatirkan terhambat sejumlah rintangan birokrasi.

JAKARTA (global-news.co.id) – Laju Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dalam mengungkap fakta peristiwa di Tol Jakarta-Cikampek KM 50 dikhawatirkan akan terhambat sejumlah rintangan birokrasi.

Atas alasan itu, Direktur Ekskutif Oversight of Indonesia’s Democratic Policy Satyo Purwanto kembali menyerukan agar pemerintah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

“Intinya pemerintah mesti terlibat dalam hal melakukan penyelidikan, mestinya inisiasi itu harus datang dari pemerintah, tidak cukup hanya Komnas HAM,” ujar Satyo Purwanto, Minggu (13/12/2020).

Karena kata mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDem) ini, Komnas HAM akan mengalami hambatan birokrasi saat melakukan penyelidikan. “Meskipun Komnas HAM sudah mulai bergerak cepat untuk memulai investigasi, akan tetapi itu belum cukup. Sebab dalam kasus-kasus tidak biasa seperti ini bukan tidak mungkin Komnas HAM akan menemui hambatan birokrasi.

Sehingga menurut Satyo, pemerintah yang harus segera membentuk TGPF yang melibatkan Komnas HAM, tokoh kredibel, lembaga Ormas yang independen, Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK), Kompolnas, Polri dan Kejaksaan Agung. “Contoh kasus kejadian terbunuhnya almarhum Pendeta Yeremia di Papua, mengapa pemerintah begitu cepat merespon dan membentuk TGPF? Menkopolhukam yang juga sebagai Ketua Kompolnas mengapa diam aja? kemana tanggung jawabnya?” pungkas Satyo.

Kompolnas Kawal Pengusutan
Sementara itu Mabes Polri menegaskan turun langsung melakukan pengusutan terkait peristiwa kontak tembak antara laskar FPI dengan anggota Polda Metro Jaya di Km 50 Tol Cikampek yang berujung 6 pengikut Habib Rizieq Shihab meninggal dunia. Kompolnas turut mengawal pengusutan yang dilakukan oleh Mabes Polri itu.
“Untuk kasus ini, kami akan mengawasi dan mengawal agar proses pemeriksaan dilaksanakan sesuai dengan scientific crime investigation, profesional, objektif dan transparan,” ujar Komisioner Kompolnas Poengky Indarty kepada wartawan, Sabtu (12/12/2020).

Poengky mengatakan sesuai kewenangan yang dimiliki, Kompolnas berwenang menerima saran dan keluhan dari masyarakat. Namun, kata dia, sejauh ini pihaknya belum menerima laporan dari keluarga korban atau tim pengacara.
“Tetapi karena kasus ini menjadi perhatian publik, maka Kompolnas proaktif langsung melakukan koordinasi dengan Polri, baik Mabes Polri maupun Polda Metro Jaya. Kami tidak membentuk tim khusus, sejauh ini Polri terbuka pada kami,” katanya.

Selaku pengawas fungsional Polri, pihaknya wajib mengawasi kinerja seluruh anggota Polri agar makin profesional dan mandiri.

Dia menyebut Bareskrim dan Propam Polri masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan anggota Polri yang terlibat. Hasilnya pun sangat diitunggu-tunggu oleh Kompolnas. “Kompolnas sedang menunggu hasil pemeriksaan Bareskrim dan Propam Polri. Kami akan mengawal prosesnya dan berharap semua pihak menghormati proses pemeriksaannya,” katanya.

Seperti diketahui, enam dari sepuluh laskar FPU pengawal Habib Rizieq tewas ditembak di Tol Jakarta-Cikampek. Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran mengatakan jajarannya terpaksa melakukan tindakan tegas dan terukur karena pengikut Habib Rizieq melakukan perlawanan.
“Sekitar pukul 00.30 di jalan Tol Jakarta-Cikampek Km 50 telah terjadi penyerangan terhadap anggota Polri yang sedang melaksanakan tugas penyelidikan terkait rencana pemeriksaan HRS yang dijadwalkan berlangsung hari ini jam 10.00 WIB,” jelas Fadil di Polda Metro Jaya Jakarta, Senin (7/12).

Kapolda Metro Jaya itu menyebut pelaku penyerangan menggunakan senjata api. Fadil menyatakan pelaku sudah menembakkan senjata sebanyak 3 kali. Senjata-senjata yang dipakai penyerang itu juga ditunjukkan di depan wartawan yang meliput.

Sementara itu, berdasarkan kronologi dari FPI, 6 pengikut Habib Rizieq yang berada dalam mobil Chevrolet warna hijau metalik bernomor polisi B-2152-TBN mencoba menjauhkan mobil penguntit dari mobil yang ditumpangi Habib Rizieq. Enam pengikut tersebut kemudian diserang, diculik dan menjadi korban pembantaian.
Ketika itu, salah seorang laskar yang berada di mobil Avanza yang tengah beristirahat di Km 57 terus berkomunikasi dengan Sufyan alias Bang Ambon, laskar yang berada dalam mobil Chevrolet B-2152-TBN. Telepon ketika itu terus tersambung.

Informasi dari laskar yang berada di mobil Chevrolet melalui sambungan telepon bahwa ketika Chevrolet B-2152-TBN dikepung, Sufyan alias Bang Ambon mengatakan ‘tembak sini tembak’ mengisyaratkan ada yang mengarahkan senjata kepadanya dan setelah itu terdengar suara rintihan laskar yang kesakitan seperti tertembak. dja, rmo, det