GeNose C19, Harapan Baru Hadapi Varian Baru

GeNose C19, alat pendeteksi Covid-19 melalui embusan napas karya tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) ditargetkan bisa diproduksi massal sehingga bisa dilakukan tes pada 1,2 juta orang per hari.

Seolah berpacu, ketika alat deteksi Covid-19 bikinan tim Universitas Gadjah Mada yang diklaim tidak rumit beres perizinannya, muncul varian baru virus corona Covid-19 yang menggemparkan sejumlah negara. Meski disinyalir belum masuk ke Indonesia, semua pihak tetap harus waspada mengingat penularan varian baru itu lebih cepat.

Oleh: Retno Asri

Selama ini, untuk memastikan seseorang terkonfirmasi Covid-19, digunakan swab test-PCR.  Pengambilan bahan sampel pada rongga hidung atau tenggorokan dengan alat seperti kapas lidi khusus kerap menimbulkan rasa tidak nyaman, di samping harganya yang mahal. Lewat GeNose C19 yang diproduksi tim UGM, selain mudah karena pengambilan sampelnya lewat embusan nafas, biaya tes-nya pun relatif terjangkau.

“Lewat hembusan nafas, GeNose sudah bisa mendeteksi Covid-19 sangat cepat, sekitar 2 menit tanpa memerlukan reagen maupun bahan kimia lainnya,” kata Menristek Bambang Brodjonegoro, melansir laman UGM, Selasa (29/12/2020).

Sejak Maret 2020, lanjut Bambang, alat GeNose C19 ini terbukti memiliki tingkat sensitivitas 90% dan spesifisitas hingga 96%.  Kecepatan dan sensivitas GeNose ini setidaknya akan sangat membantu seandainya varian virus corona yang dilaporkan di Inggris, disebut mutasi B117, lolos masuk ke Indonesia. Varian baru ini diketahui memiliki penularan lebih cepat dari virus corona pada umumnya.

Sejauh ini, varian baru tersebut dinilai belum masuk Indonesia. Untuk mengantisipasi, pemerintah memutuskan menutup sementara masuknya warga negara asing (WNA) dari semua negara ke Indonesia dari tanggal 1 sampai 14 Januari 2021.

“Kami belum menemukan varian yang dari Inggris itu di Indonesia. Jadi strain B117 itu belum ditemukan. Saya tidak bilang tidak ada, tapi belum ditemukan,” ujar Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof dr Amin Soebandrio PhD SpMK (K), sebagaimana dikutip Kompas.com, Senin (28/12/2020).

Anggota tim pengembang GeNose, dr Dian Kesumapramudya Nurputra SpA, MSc, PhD, mengungkap, selain mudah digunakan, pemeliharaan alat ini juga sangat mudah. Sebab mesin bisa didekontaminasi dengan menggunakan disinfektan usab.

Menurut Ketua Tim Pengembang GeNose, Prof Dr Eng Kuwat Triyana, setelah mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan pada 24 Desember lalu, pihaknya melakukan penyerahan GeNose C19 hasil produksi massal batch pertama yang didanai oleh Badan Intelejen Negara (BIN) dan Kemenristek/BRIN.

Menanggapi inovasi yang dibuat UGM Yogyakarta tersebut, Presiden Joko Widodo berharap karya itu dapat diproduksi secara massal dan tak berhenti pada tahap purwarupa saja. Bahkan, diharapkan inovasi-inovasi ini bisa dijadikan investasi. “Saya berharap, karya-karya para inovator ini tak berhenti pada tahap purwarupa saja, tapi dapat berlanjut ke produksi massal, dan bahkan investasi komersial,” ujarnya.

Menurut Kuwat, ada 100 unit batch pertama yang akan didistribusikan. Diharapkan, dengan jumlah GeNose C19 yang masih terbatas ini dapat memberikan dampak maksimal.

Sebagaimana yang diharapkan Presiden Jokowi, alat ini juga segera diproduksi massal. Targetnya pada akhir Februari 2021 telah ada 10.000 unit, sehingga bisa melakukan tes pada 1,2 juta orang per hari.  “Dengan 100 unit batch pertama, kami berharap dapat melakukan 120 tes per alat atau atau totalnya 12 ribu orang sehari,” urai Kuwat.

Angka 120 tes per alat itu dari estimasi didasarkan,  setiap tes membutuhkan 3 menit termasuk pengambilan nafas. Sehingga satu jam dapat mentes 20 orang dan bila efektif alat bekerja selama 6 jam diperoleh 120 orang.

GeNose menggunakan embusan napas untuk penentuan infeksi Covid-19 atau tidak.   Kuwat memaparkan, GeNose –yang menggunakan embusan nafas untuk penentuan infeksi Covid-19 atau tidak– dilengkapi beberapa sensor yang bisa membentuk pola tertentu saat mendeteksi senyawa organik mudah menguap dari embusan napas.

Pola yang terbentuk itu bisa dibedakan berdasarkan kondisi kesehatan seseorang. Oleh karena itu, pola yang terbentuk dari embusan napas seorang yang terinfeksi Covid-19 akan berbeda dengan pola embusan napas orang sehat. Pola yang dihasilkan sensor tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan sistem kecerdasan buatan, lalu bisa disimpulkan terinfeksi Covid-19 atau tidak.

Dari 10 ribu unit yang ditargetkan, Menristek Bambang, memastikan sebanyak lima ribu unit  GeNose siap didistribusikan ke seluruh Indonesia pada pertengahan Februari 2021.

GeNose yang per unitnya dibanderol Rp 62 juta, dapat memperkuat sistem surveillance 4T yakni testing, tracing, tracking, serta treatment.

Dian mengakui, kendati memiliki keunggulan, posisi GeNose sebagaimana rapid test sama juga,  yaitu sebagai skrining.  Untuk menjaring orang-orang  yang diduga positif Covid-19.

Validitas data untuk mengetahui apakah seseorang benar terkena Covid-19 masih bergantung dari tes PCR. Sebab tes PCR merupakan tes standar dan diakui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).  “Namun, dengan kita menggunakan rapid test yang akurat, yang baik, maka kita bisa menghemat sumber daya PCR, sehingga PCR bisa dipergunakan benar-benar yang mengarah pada pasien-pasien yang mengarah ke positif. Perkara kemudian nanti didapatkan PCR negatif, ya itu lebih baik,” katanya.

Saat ini GeNose C19 telah digunakan di sejumlah rumah sakit. Beberapa di antaranya adalah RS Bhayangkara Yogyakarta, RS Karyadi Semarang, RS Moewardi Solo, dan RS UNS. Seiring produksi yang semakin meningkat, diharapkan GeNose dapat didistribusikan lebih luas lagi. Dengan begitu, bisa membantu penanganan Covid-19 terutama dalam deteksi cepat virus corona saat tracing dan tracking.

Kendati ada alat tes yang relatif lebih mudah dan tak lama lagi dilakukan vaksinasi Covid-19, para ahli tetap meminta masyarakat tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M.”Gerakan 3 M tetap perlu dilakukan, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak guna meminimalkan penyebaran virus corona baru,” kata Menristek Bambang.*