2021, Perbankan di Jatim Diproyeksi Tumbuh 6 %

Kinerja Dana Pihak Ketiga (DPK) di Jatim tahun depan diperkirakan akan melandai seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi.

 

SURABAYA (global-news.co.id)  – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 Jawa Timur memproyeksikan Rencana Bisnis Bank (RBB) di Jatim pada tahun depan akan meningkat di kisaran 5 persen – 6 persen seiring dengan terus berjalannya proses pemulihan ekonomi.

Ketua OJK Regional 4 Jatim Bambang Mukti Riyadi mengatakan proyeksi RBB tersebut sejalan dengan prediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan yang diperkirakan mencapai 4,5 persen – 5,5 persen (Yoy). Sedangkan untuk tahun ini terkontraksi -1,7 persen sampai -0,06 persen akibat dampak pandemi.

“Untuk kinerja Dana Pihak Ketiga (DPK) di Jatim tahun depan diperkirakan akan melandai seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi,” katanya, Rabu (2/12/2020).

Menurutnya proyeksi DPK tahun depan itu bisa dilihat kondisi tahun ini yang diperkirakan malah tumbuh solid di kisaran 7 persen – 11 persen (yoy). Hingga Oktober 2020 saja, kinerja DPK Jatim Sudah tumbuh 8 persen (yoy), atau naik 7,9 persen jika dibandingkan September 2020.

“Sampai kuartal III, pertumbuhan DPK di tengah pandemi terus meningkat karena ada fenomena cash is the king in the uncertainty situation,” imbuhnya.

Begitu juga dengan kinerja piutang pembiayaan, lanjut Bambang, pada tahun ini diperkirakan terkontraksi di atas 10 persen, kemudian pada 2021 akan melanjutkan kontraksi ke arah yg lebih baik yakni -1 persen sampai dengan -5 persen (yoy).

“Penghimpunan dana tahun ini juga diperkirakan berada di kisaran Rp 110 triliun – Rp 120 triliun dan tahun depan diperkirakan meningkat di kisaran Rp 150 triliun – Rp 180 triliun,” imbuhnya.

Dia menambahkan pertumbuhan positif DPK tersebut berbanding terbalik dengan pertumbuhan kredit yang terus menurun karena lemahnya permintaan kredit dan kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit.

“Kredit perbankan di Jatim sendiri telah terkontraksi -2,3 persen pada Oktober 2020, turun lebih dalam dibandingkan September 2020 yang terkontraksi -1,8 persen. Lalu rasio NPL naik akibat menurunnya kegiatan ekonomi masyarakat yaitu menjadi 3,8 persen, tapi masih di bawah threshold 5 persen,” ujarnya.

Bambang mengatakan memang sinyal pemulihan ekonomi domestik mulai terlihat tahun ini atau sejak re-opening ekonomi pasca pandemi, tetapi intermediasi industri keuangan masih rendah. “Jika dilihat indikator ekonomi Jatim, PMI manufaktur naik tipis dari 47,2 persen pada September menjadi 47,8 persen pada Oktober, inflasi naik 0,07 persen, penjualan motor naik 20 persen (mtm), permodalan stabil naik, tetapi kredit turun, NPL bank naik jadi 3,3 persen dan NPF pembiayaan naik jadi 4,9 persen,” imbuhnya. ret, tri