Tuban Siaga Bencana Hidrometeologi

Petugas BPBD Tuban saat melihat kondisi rumah warga yang hancur akibat hujan deras disertai angina kencang.

TUBAN (global-news.co.id) – Cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini mulai menghantui warga Kabupaten Tuban dan Bojonegoro. Apalagi, saat ini wilayah Tuban masuk daerah rawan bencana hidrometeologi, seperti longsor, puting beliung, hingga banjir.

Siaga bencana ini mulai terjadi di wilayah Tuban. Selasa (17/11/2020) kemarin, hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur sebagian wilayah Kabupaten Tuban mengakibatkan sebuah rumah milik warga roboh. Rumah tersebut diketahui milik Munadi (62) warga Dusun Semutan, Desa Bulurejo, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.

“Hujan deras dan angin kencang mengakibatkan satu rumah warga roboh,” ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Yudi Irwanto, Rabu (18/11/2020).

Yudi mengakui akumulasi curah hujan bulanan di Indonesia diprediksi akan mencapai puncak pada November – Desember dan dapat berlanjut hingga awal tahun 2021. “Peta rawan sepanjang aliran bengawan solo menjadi perhatian khusus, serta bencana angin puting beliung yang sering melanda,” ungkapnya.

Yudi menyebutkan, dari peta kerawanan kebencanaan Hidrometeologi di wilayah 20 kecamatan kabupaten Tuban, titik rawan banjir, tanah lonsor antara lain, Kecamatan Parengan, Soko, Rengel dan Plumpang. Sedangkan untuk kecamatan rawan pohon tumbang di antara kota Tuban, Gragaban, Rengel dan Kecamatan lain.

BPBD Tuban mengimbau warga masyarakat wilayah bumi wali untuk segera melakukan pemangkasan pohon tinggi dan memotong ranting, akar pohon untuk menghadapi intensitas curah hujan tinggi. “Kami mengimbau pohon-pohon yang ranting atau akarnya tua segera dipangkas untuk menghindari pohon tumbang. Sebab bencana alam dapat terjadi bersamaan tingginya curah hujan disertai angin,” ucapnya.

Kapolres Tuban, AKBP Ruruh Wicaksono mengatakan, telah mempersiapkan pasukan kesiapsiagaan dan perlengkapan mitigasi penanggulangan bencana hidrometeologi banjir, dan tanah longsor. Ia mengatakan bahwa parameter meteologi dalam setiap tahun curah hujan tinggi mitigasi bencana alam harus dilaksanakan oleh semua instansi terkait.

“Sinergitas bersama instansi, kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolabarasi dan kerjasama bersama dalam persiapan diri menghadapi bencana alam penting dilakukan,” terangnya.

Kewaspadaan akan bencana juga dilakukan BPBD Bojonegoro. Di wilayah ini, tercatat ada 107 desa di 16 kecamatan yang terancam banjir dari sungai Bengawan Solo. Air sungai Bengawan Solo sendiri diperkirakan akan meluap karena curah hujan yang turun lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini terjadi karena fenomena La Nina.

Sementara, hujan sendiri diperkirakan baru akan mulai turun pada akhir bulan November. Sementara puncaknya terjadi di bulan Januari hingga Februari 2021 mendatang. “Wilayah Bojonegoro memang tidak langsung terkena La Nina, hanya terkena dampaknya saja. Menurut kajian bencana yang sudah kita lakukan, ada 16 kecamatan yang dipastikan terkena banjir luapan sungai Bengawan Solo,” kata Kepala BPBD Bojonegoro Nadif Ulfia.

Tak hanya banjir luapan sungai Bengawan Solo saja, Ulfia juga meminta masyarakat mewaspadai ancaman banjir bandang, dan tanah longsor yang kerap terjadi di wilayah Bojonegoro bagian Selatan. “Salah satu pemicu yang patut diwaspadai apabila terjadi curah hujan lebat dengan durasi yang lebih lama. Maka warga yang rumahnya berada di kemiringan lebih dari 30 derajat atau rawan longsor untuk lebih berhati-hati. Bila perlu mengungsi ke tempat yang lebih aman,” jelasnya.

Dampak lain dari fenomena alam La Nina adalah angin kencang. Secara keseluruhan wilayah Bojonegoro berpotensi terkena angin puting beliung, seperti yang baru saja terjadi di Kecamatan Balen. “Warga dapat mempersiapkan itu semua dengan terus memantau prakiraan cuaca harian hingga ke tingkat kecamatan melalui aplikasi Info BMKG, yang dapat diunduh di google, sehingga dapat mempersiapkan atau mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi,” jelasnya.

Selain itu, bagi warga yang sedang mengendarai mobil atau sepeda motor saat badai, mereka diminta tidak berteduh di bawah pohon, baliho serta tiang listrik. Kencangnya angin dikhawatirkan membuat benda-benda tersebut roboh.

“Terkait persiapan fenomena La Nina, kami BPBD juga sudah bersurat kepada camat dan selalu bersinergi dengan beberapa instansi pemerintah lainnya,” pungkasnya.  hud, ins, bgs