Tim TOLE ITS Gagas Inovasi Kurangi Kemacetan

Hasil pemrosesan gambar oleh sistem (kiri) dan prototipe pengendalian lampu lalulintas (kanan).

SURABAYA (global-news.co.id) –
Pesatnya perkembangan teknologi saat ini membutuhkan kolaborasi ilmu dari berbagai bidang sebagai terobosan baru untuk melahirkan produk teknologi yang inovatif. Hal ini dibuktikan oleh tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam Tim TOLE, yang mengusung produk inovatif bernama Sistem Transportasi Tjerdas.
Manajer utama tim, Aulia Rayimas Tinkar dengan latar belakang keilmuan Teknik Fisika dibantu oleh kedua rekannya yakni Habib Ihza Alamsyah dari Departemen Teknik Elektro dan Renaka Agusta dari Departemen Teknik Komputer. Ketiga penggagas Sistem Transportasi Tjerdas tersebut, tergerak untuk membantu mengurangi kemacetan lewat inovasi rambu lalu lintas.
Dalam melahirkan ide inovatifnya, tim mengaku awalnya melakukan penyerapan ide dari Dr Totok Soehartarto selaku dosen pembimbing. Kemudian, penggalian ide dilakukan secara mendetail, sehingga disetujui oleh Dr Dhany Arifanto selaku dosen pembimbing dalam lomba. “Dosen menyetujui dan memberi dukungan dari awal hingga akhir,” ungkap Aulia Rayimas Tinkar yang akrab disapa Ayik itu, Selasa (17/11/2020).
Ide inovatif tersebut diakui mampu mengatur perubahan lampu lalu lintas secara otomatis berdasarkan kondisi kemacetan jalan. “Sistem ini terdiri dari sensor yang dibekali Artificial Intelligence (AI), jaringan Internet of Things (IoT), dan big data,” jelasnya.
Dalam merancang ide tersebut, tim bekerja sesuai porsi tugasnya masing-masing. Habib, sebagai AI dan IoT engineer, bertugas merancang sistem untuk mendeteksi rasio kepadatan tiap jalan. Kemudian, data tersebut akan dihubungkan ke microcontroller sehingga dapat mengatur lampu lalu lintas.
Lebih lanjut, menurut Ayik, data hasil pemrosesan citra gambar itu nantinya juga akan terhubung secara real time di website dan dihimpun dalam suatu big data oleh Renaka, selaku web developer dan data scientist. Penghimpunan data ini diharapkan dapat membantu pertimbangan analisis pemerintah kota dalam menentukan suatu kebijakan.
Dalam waktu satu bulan perancangan karya, lanjut Ayik, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi tim untuk bekerja sama di kondisi pandemi yang serba daring. “Namun, lewat kondisi itulah kami membuktikan bahwa berkarya tetap dapat dilakukan di tengah keterbatasan yang ada,” tuturnya.
Meski demikian, Ayik mengungkapkan, tim justru mengaku senang sebab mendapatkan pengalaman untuk mengaplikasikan keilmuan mereka di dunia nyata. “Kami ingin membangun bangsa dengan porsi kami, sebagai engineer tentu kami ingin mengatasi permasalahan dengan teknologi,” ujar mahasiswa angkatan 2017 itu.
Solidaritas dan kolaborasi yang baik dari tim ini terbukti melalui keberhasilannya menyabet juara ketiga pada kompetisi Pagelaran Mahasiswa Nasional bidang Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Gemastik) XIII tahun 2020, beberapa waktu lalu, kategori Kota Cerdas. Tim pun berharap, sistem ini nantinya dapat diimplementasikan demi kebermanfaatan bagi masyarakat maupun pemerintah dalam membangun smart city ke depannya. tri