Sambut Kebijakan Merdeka Belajar, ITS Optimistis Indonesia Panen Lompatan Inovasi

Dirjen Pendidikan Tinggi Dikti Prof Ir Nizam MSc, DIC PhD (kiri atas) bersama para panelis yang-hadir dalam acara launching program Kebijakan Merdeka Belajar Episode Keenam.

SURABAYA (global-news.co.id) – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI kembali meluncurkan program Kebijakan Merdeka Belajar episode ke-6 dengan tajuk Transformasi Dana Pemerintah untuk Pendidikan Tinggi secara virtual, Rabu (4/11/2020) lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng turut hadir sebagai panelis bersama dengan perwakilan beberapa instansi terkait.

Kebijakan tersebut diluncurkan dalam rangka mendukung visi Presiden RI Joko Widodo dalam mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Salah satunya melalui transformasi pendidikan tinggi agar mampu mencetak lebih banyak lagi talenta yang mampu bersaing di tingkat dunia. “Pandemi dapat menyadarkan bahwa kita butuh SDM yang mampu beradaptasi cepat untuk bertahan menghadapi kesulitan dan menang dalam persaingan,” tutur Presiden.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menjelaskan bahwa Kebijakan Merdeka Belajar episode ke-6 ini mencakup tiga terobosan pendanaan yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan tinggi Indonesia. “Yakni, insentif berdasarkan capaian Indikator Kinerja Utama (IKU), dana penyeimbang atau matching fund untuk kerja sama dengan mitra, serta program Kompetisi Kampus Merdeka atau competitive fund,” jelasnya.

Menyambut baik hal tersebut, Rektor ITS yang biasa disapa Ashari tersebut meyakini, tiga transformasi baru dana pemerintah akan membawa perguruan tinggi lebih cepat bergerak karena dirasa sesuai dengan kebutuhan selama ini. “Matching fund adalah metode yang benar-benar kami tunggu karena perguruan tinggi tidak dapat berjalan sendirian (dalam berinovasi, red),” terangnya.

Guru Besar Teknik  Elektro ITS ini menceritakan, salah satu pengalaman ITS terkait dengan hilirisasi produk inovasi yang membutuhkan skema pendanaan tersebut adalah saat peluncuran Garansindo Electric Scooter ITS (GESITS) pada tahun 2016 lalu. “Karena inovasi ini adalah produk motor listrik lokal pertama, kami merasakan kesulitan dalam beberapa hal. Perlu dedikasi tinggi yang sepenuh hati dari pihak terkait agar tetap bisa diproduksi,” ungkapnya saat menjadi panelis.

Berkenaan dengan problema tersebut pada kala itu, lanjut Ashari, ITS harus mampu membuat purwarupa produk yang komersial dengan sertifikasi sesuai standar. Ashari mengatakan, tentunya hal ini bukanlah sesuatu hal yang murah dan mudah. “Selain itu, produk tersebut belum serta merta dapat digunakan di masyarakat karena belum ada regulasi yang mengatur terkait dengan kendaraan komersil bertenaga listrik,” aku lelaki kelahiran Sidoarjo tersebut.

Ashari menyampaikan bahwa masalah ini kembali terjadi saat ITS mengembangkan ITS Autonomous Boat (i-Boat). Padahal, kapal pintar tanpa awak tersebut sudah diuji ketahanannya untuk keperluan logistik ke pulau-pulau saat badai gelombang laut menerjang. “Walaupun sudah mendapatkan mitra, produk masih belum dapat dioperasikan karena adanya regulasi yang menekankan bahwa kapal harus dikendarai pengemudinya,” paparnya.

Tak luput dalam pandangan, disebutkan juga Robot Medical Assistant ITS-Unair (RAISA) yang dalam produksinya pun mengalami beberapa kendala terkait pendanaan, apalagi dalam situasi pandemi saat ini. “Beberapa contoh ini memberikan gambaran bahwa perguruan tinggi sangat membutuhkan adanya program matching fund agar dapat bekerja sama dengan mitra menyelesaikan problema di masyarakat dan membawa produk inovasi sampai ke hilir,” tutur Ashari.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Presiden Joko Widodo bahwa perguruan tinggi harus lebih responsif terhadap tantangan dengan mengubah pendekatan teoritis menjadi pendekatan pemecahan masalah hingga mampu menciptakan dampak positif. Perguruan tinggi harus bertransformasi lebih dinamis dan menciptakan terobosan untuk meningkatkan daya saing. “Bersinergi dan berkolaborasi dengan BUMN dan industri untuk mendorong prestasi lebih baik,” pesan Presiden.

Ashari pun berharap dengan adanya tiga kebijakan tersebut dapat menghapuskan segala hambatan yang telah dihadapi selama ini,sehingga konsep pembangunan triple helix hingga penta helix pun dapat benar-benar terjadi. “Artinya, ketika perguruan tinggi sudah menyiapkan riset hingga produk jadi, pemerintah pun telah menyiapkan regulasi terkait dan dunia usaha telah menyiapkan kebutuhan manufakturnya agar produk tersebut dapat langsung diaplikasikan di masyarakat,” pungkasnya. tri