Pentingnya Skrining Diri Sejak Dini agar Segera Dapat Momongan

Dari kanan, Dr dr Amang Surya P SpOG, dr Ali Mahmud SpOG (K)FER, dan dr Benediktus Arifin MPH SpOG (K) di acara peluncuran buku HOPE, Kisah Perjuangan 8 Ibu Bayi Tabung, Minggu (8/11/2020).

SURABAYA (global-news.co.id) – Memiliki buah hati tentu menjadi dambaan setiap pasangan yang berumahtangga. Ada yang begitu mudah mendapatkan, tapi ada pula yang harus memperjuangkan secara khusus, seperti lewat proses bayi tabung.

Spesialis kandungan dan kebidanan Dr dr Amang Surya Priyanto SpOG F-MAS, mengakui, masyarakat kerap menempatkan bayi tabung sebagai upaya terakhir untuk mendapat momongan. “Padahal kalau menunda-nunda, dengan alasan masih mencoba upaya lain hingga ke orang pintar, usia akan terus bertambah. Semakin banyak umur, jumlah dan kualitas sel telur maupun sperma tentu menurun dan angka keberhasilan untuk hamil pun jadi semakin rendah,” ujarnya  dalam peluncuran buku HOPE, Kisah Perjuangan 8 Ibu Bayi Tabung, Minggu (8/11/2020).

CEO Klinik Morula IVF Surabaya ini mencontohkan kasus salah satu pasiennya yang berusia 25 tahun. Dari segi umur berpotensi untuk hamil. Tapi ketika melakukan skrining setelah 3 bulan menikah, baru ketahuan kalau dia tidak memiliki sel telur. “Setelah kami tangani dengan diberi obat, bisa dihasilkan 5 sel telur,” terang Amang.

Mendasarkan kasus-kasus yang ditangani bersama timnya di Morula IVF, Amang mengingatkan pentingnya melakukan deteksi dini. Di antaranya memeriksakan diri sebelum menikah, untuk memastikan kondisi sel telur, saluran indung telurnya, atau kondisi rahim bagi perempuan. Begitu pun bagi pihak pria, untuk memastikan kondisi spermanya. Karena dalam kasus yang pernah ditangani, pasangan suami istri sudah 6 tahun menikah dan tidak segera memiliki momongan, setelah dilakukan skrining ternyata si suami tidak memiliki sperma. “Jadi saat ejakulasi hanya semen saja yang keluar,” paparnya.

Dengan melakukan deteksi dini bisa segera  diketahui, apa yang harus dilakukan pasangan tersebut. Karena keberhasilan program bayi tabung juga tergantung pada usia. Di bawah 30 tahun atau masa usia subur, kualitas sel telur maupun sperma masih bagus sehingga bisa dihasilkan pula embrio yang bagus, kemampuan rahim untuk ditumbuhi embrio juga masih bagus. Seiring kemajuan teknologi, kini telah ada egg bank, di mana seseorang bisa menitipkan sel telur atau spermanya. Sehingga ketika usia sudah di atas 30 tapi ingin punya anak lagi, pasangan ini masih bisa punya stok sel telur atau sperma dengan kualitas bagus karena dihasilkan dan diambil saat mereka masih dalam masa usia subur.

Jangan terlena dengan istilah masih pengantin baru, masih muda, atau nanti saja masih sibuk bisnis lagi bagus. “Dan harus diingat, separo angka keberhasilan program bayi tabung adalah pria,” tambah dr Ali Mahmud SpOG (K)FER.

Gaya hidup seperti merokok, sering ke spa ikut memengaruhi kualitas sperma atau sel telur. Begitu pun pola hidup, pola makan. “Dan yang tak kalah penting manajemen stres,” ujar dr Benediktus Arifin MPH SpOG (K).

Berkaitan dengan buku HOPE, Amang mengungkap, “hope” –satu kata yang dipakai sebagai kata kunci dalam usia ke-8 Morula IVF Surabaya– adalah kata yang sangat menginspirasi dia dan tim-nya di klinik bayi tabung tersebut. Morula IVF Surabaya diawali dari hope atau harapan Amang yang ingin membantu banyak pasangan dengan masalah kesuburan. “Untuk mewujudkan harapan ini bukan sesuatu mudah, banyak rintangan yang dihadapi, tetapi harapan itu membuat kami yakin untuk terus melangkah,” ujarnya.

Buku HOPE ini berisi tentang kisah 8 pasangan dan perjalanan mereka mendapatkan buah hati di klinik Morula IVF Surabaya yang tahun ini tepat berusia 8 tahun. Ketegaran mereka untuk terus berjuang hingga berhasil. Sebuah perjuangan yang menguras energi, baik fisik maupun mental.

Setiap pasien itu menarik, tandas Amang. Sosok human yang punya cerita hidup penuh makna. Dia mencontohkan pasangan suami istri yang sudah menikah 8 tahun tapi belum memiliki momongan. Keinginan untuk ikut program bayi tabung muncul saat si istri berusia 34 tahun. Ternyata dari 17 sel telur hanya dihasilkan 2 embrio. “Nah saat akan transfer embrio, alhamdulillah kok Allah memberikan kejelian pada mata saya, terdeteksi ada noda kecil. Saya hentikan treatmen dan menyarankan melakukan papsmear terlebih dulu. Ternyata kanker mulut rahim dan ganas. Selama ini tak ada keluhan nyeri atau perdarahan saat berhubungan intim. Untuk membebaskan kanker, mulut rahimnya harus dipotong. Setelah bebas dari kanker, embrio baru bisa ditanamkan. Jadi masalah karena dia tak memiliki mulut rahim, edngan teknik laparoskopi embrio ditransfer dengan cara diikatkan pada perut. Alhamdulillah, setelah 11 tahun menunggu  bulan November ini dia akan melahirkan,” urai Amang.

Sengaja buku ini hanya menampilkan 8 pasangan karena sesuai dengan usia klinik tersebut. Mereka mewakili kasus yang bervariasi dengan memertimbangkan rentang usia. Sebut saja Eny (26 tahun) yang setelah 2 tahun berjuang bersama suaminya, Lenny Pasquini, akhirnya mendapatkan si kembar Morgan Pasquini dan Marcel Pasquini. Ada juga Yulia (40 tahun) yang menunggu harus sabar menunggu hingga 11 tahun bahkan janinnya sempat divonis down syndrom.

Pemilihan ini diharapkan dapat mewakili kondisi yang mungkin sedang dialami pembaca. Sehingga ada pemikiran, “Oh itu aku! Dia bisa kok, berarti aku juga bisa!”

“Kami berharap 8 kisah di buku ini bisa menginspirasi setiap pasangan yang mengalami masalah kesuburan. Kisah delapan pasangan ini bukan hanya tentang keberhasilan, tetapi juga kisah tentang kegagalan. Kegagalan bagi kami adalah evaluasi supaya kami dapat berjuang lebih baik. Kegagalan mereka menjadi pembelajaran bagaimana menjaga harapan tetap menyala di dalam kesulitan. Dan sebagai manusia, kita hanya bisa berikhtiar, Tuhan yang akan menentukan,” kata Amang.ret