Pentingnya Peran Keluarga dalam Penanganan Diabetes

Diabetes.co.uk – Sebagai caregiver, keluarga punya perang penting dalam penanganan diabetes.

Hingga saat ini dunia belum terbebas dari ancaman dan bahaya diabetes.  Yang memprihatinkan sebagaimana dilaporkan International Diabetes Federation (IDF), sebanyak 50,1% penyandang diabetes tidak terdiagnosis. Ini yang menjadikan  status diabetes sebagai silent killer masih menghantui dunia.

Peringatan Hari Diabetes Sedunia atau World Diabetes Day (WDD) pada 14 November kali ini ditekankan pada pentingnya peran caregiver, khususnya keluarga dalam manajemen, perawatan, pencegahan, dan pendidikan diabetes serta meningkatkan kesadaran tentang dampak diabetes.  “Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk melaksanakan upaya kesehatan. Upaya yang dapat dilakukan keluarga diabetesi (penyandang diabetes) antara lain melakukan perencanaan makan, perencanaan olahraga, pengaturan obat, dan edukasi,” kata Executive Committee Member IDF Western Pacific Region, Prof Dr dr Sidartawan Soegondo SpPD, KEMD, FACE dalam webiner untuk memperingati Hari Diabetes Sedunia.

Hal yang masih perlu ditingkatkan, lanjutnya, adalah upaya keluarga dalam mengatur pola makan sehat dan gizi seimbang, serta ajakan berolahraga. “Hasil penelitian terkait dukungan keluarga yang positif, mengarah pada kontrol gula darah yang lebih baik (42,2% memiliki gula darah yang lebih terkontrol),” tandas Sidartawan.

IDF melaporkan sebanyak 463 juta orang dewasa di dunia menyandang diabetes dengan prevalensi global mencapai  9,3%. Jumlah ini diprediksi meningkat 45% per tahun atau setara dengan 629 juta pasien pada 2045. Yang harus dicermati, sebanyak 75% pasien diabetes pada 2020 berusia 20-64 tahun.

Bagaimana di Indonesia?  Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof  Dr dr Ketut Suastika, SpPD-KEMD, mengatakan, data IDF menyebut Indonesia berstatus  waspada diabetes, karena menempati urutan ke-7 dari 10 negara dengan jumlah pasien tertinggi. Per tahun 2020 ini terdapat  10.681.400 pasien diabetes dengan prevalensi 6,2%.  Angka ini diperkirakan meningkat jadi 16,7 juta pasien per tahun 2045.

Dengan data tahun ini, 1 dari 25 penduduk Indonesia atau 10% dari penduduk Indonesia mengalami diabetes. “Yang paling banyak di Indonesia adalah kasus diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat. Dan melihat angka yang sangat besar, artinya setiap orang memiliki kerabat, teman, atau bahkan keluarga yang mengalami penyakit diabetes,” ungkapnya.

Kondisi ini pastinya dapat mempersulit proses pengendalian dan pengelolaan diabetes.  “Siapa pun harus aware dengan kondisinya. Harus ingat, gejala klasik diabetes yang bisa didiagnosa dari awal adalah banyak minum, banyak kencing, juga berat badan yang turun drastis,” tandas Suastika.

Bagi penyandang diabetes, lanjutnya, penting untuk mengecek kadar gula darah secara rutin dan melakukan pencegahan, terlebih saat pandemi Covid-19 sekarang ini. “Diabetes adalah salah satu komorbid atau penyakit penyerta yang banyak ditemukan pada pasien virus Covid-19 tepatnya di peringkat kedua, yaitu sebanyak 34,4% kasus di Indonesia,” jelasnya.

Untuk menyadarkan setiap individu kalau dunia belum terbebas dari ancaman dan bahaya diabetes, maka setiap 14 November diperingati sebagai Hari Diabetes Sedunia. Seperti diketahui, diabetes merupakan induk berbagai penyakit. Diabetes  dapat memicu penyakit berbahaya seperti stroke, hipertensi, jantung koroner, dan disfungsi ereksi. Komplikasi tersebut tentu akan memengaruhi kualitas hidup dan dapat menyebabkan kematian.

Tingginya angka prevalensi diabetes di dunia dan Indonesia, ditambah risiko yang bisa terjadi kepada para diabetesi saat pandemi ini, menunjukkan kalau diabetes perlu perhatian khusus dari semua kalangan. “Diabetes memang tidak bisa disembuhkan, tetapi manajemennya sangat perlu diperhatikan. Selain itu dukungan dari support system di sekitar diabetesi juga sangat dibutuhkan,” ungkap Director of Special Needs & Healthy Lifestyle Nutrition KALBE Nutritionals, Tunghadi Indra.

Presiden PB Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) menyebutkan, perencanaan pengelolaan diabetes harus dibicarakan antara diabetesi dan keluarganya. Diabetesi harus menerima perawatan medis secara terkoordinasi dan terintegrasi dari tim kesehatan, sehingga keluarga perlu menyadari pentingnya keikutsertaan dalam perawatan diabetesi melitus agar kadar gula darah dapat terkontrol dengan baik.

“Perencanaan pengelolaan diabetes melitus harus dilakukan secara bersama antara pasien dengan keluarga agar kadar gula darah dapat terkontrol. Diabetesi memerlukan diet gizi khusus untuk secara efektif mengatur kadar gula darah mereka serta memenuhi kebutuhan gizi mereka. Dan PERSADIA sebagai wadah untuk para diabetesi, terus mengedukasi bahkan bekerja sama dengan semua pihak yang ada sehingga dapat bersama-sama melakukan manajemen diabetes,” jelasnya.

Tunghadi menambahkan, di luar momen WDD, Diabetasol secara aktif melakukan edukasi penanganan diabetes bagi diabetesi dan keluarganya sebagai caregiver. Edukasi juga tidak sebatas offline berupa edukasi di rumah sakit, tetapi juga dalam bentuk online kepada masyarakat. Termasuk pula layanan konsultasi dengan dokter dan nutritionis. “Kami juga menyediakan informasi mengenai cara mengatasi diabetes dan menghindari risiko komplikasi. Semuanya bisa diakses melalui website http://diabetasol.com/id,” katanya.Retno Asri