Musim Pancaroba, Waspadai Beberapa Penyakit Penyerta

SURABAYA (global-news.co.id) – Masa pancaroba ke musim penghujan yang terjadi saat ini, memunculkan sejumlah penyakit. Penyakit-penyakit ini harus diwaspadai, selain penyakit Covid-19 yang hingga kini masih terus meningkat kasusnya.

Beberapa penyakit yang rentan menyerang tubuh di musim penghujan, seperti diare, selesma, batuk, sesak napas, pilek, demam berdarah dan penyakit kulit yang diakibatkan kencing tikus (leptospirosis), gatal, dan ruam.

“Di musim penghujan, tubuh dipaksa untuk beradaptasi dengan suhu dan kelembaban yang berbeda dari cuaca sebelumnya. Sehingga kalau tidak mendapatkan perhatian dan penanganan yang tepat kita mudah  terjangkit penyakit,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dr Herlin Ferliana, menanggapi penyakit-penyakit yang harus diwaspadai di masa pancaroba.

Demam Berdarah Dengue (DBD). Terkait DBD, Herlin mengakui kondisi saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saat itu kader-kader kesulitan menekan kasus kematian akibat DBD. Apalagi di era pandemi ini, karena kader-kader tidak bisa selincah dulu karena ada prosedur-prosedur yang harus dijalankan demi menghindari terjadinya penularan Covid-19.

Karena itulah Herlin mengajak serta masyarakat untuk bergerak bersama-sama dalam menanggulangi penyakit DBD ini.

Mendasarkan data Dinkes Jatim, sepanjang tahun 2020 (bulan Januari- 9 November 2020) jumlah penderita DBD di Jatim mencapai 7.535 orang dengan kematian sebanyak 63 orang.  Kasus tertinggi terjadi di Kabupaten Malang (1.265 kasus) dan terendah di Kota Mojokerto (11 kasus). Di Surabaya sendiri terdapat 69 kasus.

Untuk menekan angka kasus tersebut sekaligus untuk mencegah DBD, Herlin mengimbau masyarakat untuk rajin melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) yaitu dengan 3M Plus. Kegiatan 3M meliputi Menguras (membersihkan)  bak mandi, vas bunga, tempat minum binatang peliharaan, tatakan dispenser, Menutup rapat tempat penampungan air (TPA) atau berikan larvasida pada TPA yang tidak mungkin dikuras atau ditutup, serta Menyingkirkan/mendaur ulang  barang bekas seperti ban bekas, botol plastik, dan kaleng bekas. Plus memberantas larva nyamuk dengan larvasida atau dengan memelihara ikan pemakan jentik atau memasang ovitrap, serta menghindari gigitan nyamuk dengan cara memasang kelambu, menanam pohon pengusir nyamuk atau membubuhkan losion.

Untuk mendukung kegiatan PSN, saat ini digiatkan  Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik. “Kalau biasanya kader jumantik secara rutin dan berkala melakukan pemeriksaan jentik di rumah warga, nah karena masih pandemi Covid-19, pemantauan pemeriksaan jentik di rumah diharapkan dilakukan oleh penghuni rumah sendiri,” kata Herlin.

DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk ini mendapatkan virus dengue sewaktu menggigit atau mengisap darah orang yang sakit DBD  atau yang di dalam darahnya terdapat virus dengue, tapi tidak menunjukkan gejala sakit.

Virus dengue yang terisap akan berkembang biak dan menyebar ke seluruh tubuh nyamuk, termasuk kelenjar liurnya.  Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap darah orang lain, virus akan dipindahkan bersama air liur nyamuk.  Virus dengue akan menyerang sel pembeku darah kecil (kapiler), akibatnya terjadi pendarahan dan kekurangan cairan bahkan bisa mengakibatkan syok.

Gejala penyakit ini meliputi demam tinggi (mencapai 40 derajat Celsius) 2-7 hari, nyeri kepala berat, nyeri pada sendi, otot, dan tulang, nafsu makan menurun, serta mual dan muntah. Bila merasakan ada gejala-gejala demam berdarah, segera konsultasi dokter atau langsung ke rumah sakit terdekat agar bisa langsung dilakukan diagnosis.

Diare. Penyakit ini bisa menyerang tubuh karena tercemarnya makanan oleh air hujan yang kotor atau air banjir yang sangat mudah terjadi hingga mengakibatkan gangguan di saluran pencernaan.

Diare biasanya hanya berlangsung selama beberapa hari. Namun pada sebagian kasus, penyakit ini bisa bertahan hingga berminggu-minggu. Jika sudah seperti ini, penderita dapat mengalami dehidrasi. Jangan diremehkan, bila tidak segera ditangani, bisa berujung pada kematian.

“Yang harus kita waspadai adalah balita yang terserang diare, karena mereka rentan mengalami dehidrasi dan tubuh semakin defisiensi zinc,” terang Herlin.

Masyarakat harus lebih memerhatikan dalam menjaga kebersihan makanan dan minuman karena ancaman terjadinya penyakit saluran napas dan infeksi melalui saluran cerna. Oleh karena itu, jangan sampai makanan dan minuman terkontaminasi air hujan.

Untuk menghindari terserang berbagai penyakit tersebut, setiap individu wajib menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti rajin mencuci tangan pakai sabun, kemudian menjaga daya tahan tubuh dengan cara mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang. Pastikan makanan yang hendak dikonsumsi sudah benar-benar matang dan tersaji dengan cara yang higienis.

Infeksi Saluran Napas (ISPA). Penyakit ISPA/Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia terutama pada balita. Penyakit ini berpotensi menyebabkan kematian bayi/balita. Selama tahun 2015 ada 922.000 balita meninggal karena pneumonia.

Data WHO menyebut, Pneumonia merupakan penyebab 15% kematian balita di dunia, sementara di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 2 terbesar setelah diare. Pneumonia masih menjadi penyebab kematian terbesar bayi dan balita lebih banyak dibanding dengan gabungan penyakit AIDS, malaria dan campak.

Menurut data Sistem Registrasi Sampel Indonesia, Balitbangkes, 2014, pneumonia merupakan penyebab 12,6% kematian balita. Diperkirakan 23 balita meninggal setiap jam dengan 2-3 orang di antaranya karena pneumonia.

Faktor risiko terhadap timbulnya ISPA, antara lain kurangnya pemberian ASI eksklusif, gizi buruk, polusi udara dalam ruangan, berat badan bayi lahir rendah (BBLR), kepadatan penduduk serta imunisasi campak.

Leptospirosis. Merupakan penyakit zoonosa yang disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira yang ditularkan secara langsung dan tidak langsung dari hewan ke manusia. Penyakit ini dilaporkan ditularkan terbanyak melalui air seni tikus yang mengandung kuman lepto dan berada pada daerah yang kurang bersih, kelembaban tinggi, becek dan banjir.

Risiko penularan: adanya luka pada kulit yang kontak dengan media yang terkontaminasi kuman leptospirosis (melalui banjir, genangan air sungai, selokan atau saluran air, sawah dan lumpur)

Gejala dan tanda klinisnya meliputi demam lebih dari 38,5 derajat Celcius, nyeri otot, lemah, mata merah (conjuctival suffion), sakit kepala, hingga aritmia jantung. Bila mengalami gejala ini, segera periksa ke dokter untuk memastikan, mengingat penyakit ini juga bisa merenggut nyawa.

Pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan menjaga kebersihan sanitasi lingkungan, menggunakan alat pelindung diri seperti memakai sarung tangan, sepatu boot saat beraktivitas di tempat yang faktor risiko leptonya tinggi. Yang juga tak kalah penting, mencuci tangan dengan sabun saat dan setelah beraktivitas, serta pengendalian populasi tikus.

Kasus leptospirosis di Jatim sampai saat ini sebanyak 252 kasus dengan kejadian tertinggi di Kabupaten Pacitan (104 kasus). Sementara korban meninggal sebanyak 11 orang.ret