Leluhur Orang Minahasa Adalah Penguasa Dinasti Han

Welliam H Boseke (kanan) saat memberikan sambutan, bersama moderator (tengah) dan Prof. Perry (kiri).

 
SURABAYA (global-news.co.id) – Leluhur orang Minahasa sejatinya berasal dari negeri Tiongkok. Tepatnya para penguasa yang berasal dari Dinasti Han yang kemudian menetap di Minahasa. 
 
Hal ini didasarkan pada temuan-temuan penting, di antaranya adalah kemiripan bahasa ritual dan tarian yang lama berakar dalam masyarakat Minahasa dengan bunyi bahasa Han.
 
Fakta-fakta tersebut mengemuka dalam acara Talk Show Sejarah dan Budaya, Penguasa Dinasti Han, Leluhur Minahasa, yang digelar oleh Kerukunan Keluarga Kawanua Surabaya (K3S), di Hotel Oval, Surabaya, Senin (9/11/2020).
 
Hadir dalam acara tersebut antara lain Soetiadji Yudho, Soetomo, dan Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, serta sejumlah undangan lainnya. Seperti Penasehat K3S Laksamana Madya TNI (Purn) Frits Mantiri, Laksamana Madya TNI ( Purn ) Frans Wuwung, Kolonel Marinir ( Purn ) Boy F. Malonda, Sami Ransun, Kolonel TNI ( Purn) Jootje Mewengkang, Dr. Tonny Parengkuan, Jootje Paoki, Eddy Baculu, dan
 Wenny Karow.
 
“Dalam tarian kabasaran dikenal istilah Wurenget, memiliki arti mata yang dibesar-besarkan dengan melotot sehingga menimbulkan rasa takut bagi yang melihatnya. Wurenget ini berasal dari bahasa Han, yaitu Nu Mu Er Ying  E De,” kata Welliam H Boseke, narasumber sekaligus penulis buku berjudul, Penguasa Dinasti Han, Leluhur Minahasa. 
 
Welliam melanjutkan, nyanyian dalam tarian kabasaran sebetulnya merupakan tarian perang.  Salah satu bagian dari tarian kabasaran ada yang dibawakan sambil bernyanyi yang berbunyi, ko-ya ke ya i ko-ya ke. Menurutnya nyanyian yang didendangkan setelah ia telusuri berasal dari bahasa Han, yaitu ka i ge ya  yi ka- i ge.
 
“Kabasaran sendiri juga berasal dari bahasa Han, yaitu ga ba sha ren. Memiliki arti kertak orang bertempur`atau membunuh,” katanya.
 
Untuk menemukan asal-usul leluhur Minahasa yang sejatinya berasal dari bangsa Han, Welliam melakukan penelusuran langsung hingga ke Tiongkok. Dengan usaha yang gigih, bahkan ia melakukan proses pengecekan ke para ahli sejarah maupun pakar bahasa di perguruan-perguruan tinggi terkemuka di Tiongkok. Dalam penelusurannya, ia banyak menemukan bukti keterkaitan Minahasa dengan Bangsa Han.
 

Kiri-kanan: Noufry Rondonuwu, Laksamana Madya TNI (Pur) Frits Mantiri dan Soetiadji Yudho.

 
Etnomusikologi dari Universitas Sam Ratulangi Manado, yaitu Prof Dr Perry Rumengan mengatakan, temuan-temuan yang telah dihasilkan oleh Welliam menjadikannya layak disebut sebagai ilmuwan. 
 
“Welliam memahami dengan benar bahasa dan sejarah bangsa Han secara teori dan praktik. Kemudian ia berkeliling ke seluruh negeri Tiongkok dan negara-negara yang berkaitan, kemudian juga beliau mengadakan studi pada literatur-literatur.  Apa yang beliau lakukan adalah out of  the box. Karena apa? Karena selama ini masalah ini buntu karena hanya berkutat pada aspek mitos,” katanya. 
 
Noufry Rondonuwu, Ketua K3S, mengatakan, ia sudah banyak mendengar cerita tentang mitos dan asal-usul orang Minahasa. Namun demikian, dengan adanya hasil penelitian Welliam H Boseke, siapa sebetulnya leluhur orang Minahasa tidak terbantahkan lagi dari bangsa Han. 
 
“Dalam acara juga hadir pihak-pihak yang menguasai Mandarin, di mana mereka juga menemukan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaan selama ini. Sekarang tinggal satu langkah lagi, yaitu tes DNA. Tes ini akan menjadi titik terang yang semakin tidak terbantahkan,” katanya. 
 
Noufry menambahkan, sebetulnya tes DNA sudah akan dilaksanakan. Sayangnya, munculnya pandemi covid-19 menjadikan usaha tes tidak terlaksana hingga saat ini. Jika pandemi sudah berakhir, tes DNA akan menjadi hal yang sangat dinanti-nantikan.
 
“Pihak yang nanti menjalani tes adalah Welliam H Boseke sendiri dan Prof Perry Rumengan. Menunggu masa demi,” katanya.  
 
Pihak lainnya yang hadir adalah mantan menteri BUMN, Dahlan Iskan. Ketika diminta sambutannya, Dahlan mengaku kagum terhadap penelitian yang dilakukan oleh Welliam, sekalipun ia bukan berasal dari kalangan akademisi. 
 
Berdasarkan temuannya tentang keterkaitan Minahasa dan bangsa Han sebagai leluhurnya, secara berkelakar ia mengusulkan agar diberikan gelar doktor kehormatan atau Honoris Causa. 
 
“Dan bapak Prof Perry Rumengan sebagai promotornya,” katanya disambut tepuk tangan peserta.
 
Sementara itu sesepuh K3S, Fritz Mantili mengatakan, apa yang dilakukan Boseke bagus sekali. Sulit untuk terbantahkan. Ke depannya bangsa kita harus benar-benar bhinneka tunggal ika.
 
“Mari kita membangun bibit unggul bangsa ini dengan membangun sekolah unggulan misalnya,” katanya.
 

Dahlan Iskan saat memberi sambutan.

 
Hal senada juga dikatakan Soetiadji Yudho, Penasehat Kehormatan K3S. “Penemuan ini sungguh luar biasa dan mencengangkan kita semua. Semua dipaparkan dengan gamblang oleh Bapak Boseke dengan data-data yang akurat. Ini yang membuat kita semua meyakininya, karena fakta dan data yang disampaikan sangat masuk akal,” katanya.
 
Pengusaha asal Surabaya ini lebih lanjut mengatakan, fakta-fakta tersebut tak bisa dibantah, karena mempunyai akurasi dan sangat mendetail serta sangat ilmiah.
 
“Tugas akhir kita yakni  bagaimana melakukan tes DNA. Dan itu tak lama lagi akan dilaksanakan. Mungkin yang akan di tes DNA pertama, yakni Bapak Boseke dan Prof. Perry,” katanya. (Taman, Erfandi Putra)