Kenali dan Cegah Pneumonia pada Anak

SURABAYA (global-news.co.id) – Salah satu penyakit yang mengancam jiwa anak usia di bawah lima tahun (balita) adalah pneumonia. Pneumonia sendiri merupakan penyakit peradangan akut pada paru-paru yang membuat paru-paru dipenuhi dengan cairan dan sel radang.

Kondisi tersebut, sebagaimana dikatakan Dr dr Nastiti Kaswandani SpA(K), dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius dan tidak jarang menyebabkan kematian. Dikatakan peradangan akut karena terjadi dalam waktu singkat atau mendadak.

Peradangan ini bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, ataupun jamur. Umumnya, pneumonia terjadi saat kuman yang masuk ke dalam saluran pernafasan mengalahkan sistem kekebalan tubuh dan akhirnya menyebabkan infeksi.

Di Indonesia, pneumonia tercatat sebagai pembunuh balita nomor 2 setelah persalinan preterm. Dan menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2017 terdapat 25.481 kematian balita karena infeksi pernafasan akut atau 17% dari keseluruhan kematian balita. Kondisi ini sekaligus menempatkan Indonesia di peringkat 7 dunia sebagai negara dengan beban pneumonia tertinggi.

Kematian terjadi karena pneumonia sering terlambat disadari. “Karena gejala awalnya yang sulit dibedakan dengan penyakit pernafasan lain yang ringan seperti pilek dan selesma (common cold). Akibatnya, banyak anak-anak yang mengidap pneumonia tidak mendapatkan perawatan yang seharusnya dan berdampak fatal pada kesehatan mereka,” terang Nastiti, Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia dalam diskusi menyambut peringatan Hari Pneumonia Dunia, Kamis (5/11/2020).

Karena itu, lanjutnya, setiap orangtua yang memiliki balita perlu mencermati tanda-tanda anak mengidap pneumonia.

1.Batuk dan demam yang berkelanjutan. Gejala awal pneumonia adalah gejala yang menyerupai selesma (common cold) seperti batuk, pilek dan demam yang disertai lemas dan lesu yang berkepanjangan. Gejala pneumonia biasanya bertahan relatif lebih lama daripada gejala pilek dan batuk karena selesma.

Nastiti mengakui masyarakat masih rancu dalam menggunakan istilah flu. Yang disebutkan batuk, demam, pilek sebagai flu itu adalah selesma.  “Saluran pernafasan itu meliputi hidung, tenggorokan, pipa nafas, dan jaringan paru. Pneumonia itu kalau jaringan parunya terkena peradangan. Nah flu itu lebih ke penyebab, yaitu influenza virus –salah satu penyebab peradangan pada saluran nafas,” urainya.

2.Kesulitan bernafas. Anak-anak yang mengidap pneumonia sering mengalami kesulitan bernafas yang ditandai dengan frekuensi nafas lebih cepat, nafas cuping hidung, tarikan dinding dada dan perut, serta bibir dan kuku yang membiru akibat kekurangan oksigen dalam darah. Kesulitan bernafas pada bayi lebih mudah diketahui ketika beraktivitas atau makan. “Bayi yang mengalami kesulitan bernafas akan memprioritaskan mekanisme tubuhnya untuk bernafas sehingga ia akan makan lebih sedikit, gelisah, rewel, atau terlihat tidak nyaman,” terangnya.

Faktor-faktor penyebab penyakit ini berkaitan dengan belum terpenuhinya ASI eksklusif yang hanya 54%, berat badan lahir rendah (10,2%), dan belum imunisasi lengkap (42,1%), polusi udara di ruang tertutup dan kepadatan yang tinggi pada rumah tangga.

Pada 2019 terdapat 467.383 kasus pneumonia pada balita. “Karena itu pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan dan MPASI hingga usia 2 tahun sangat penting. Dan yang juga tak kalah penting adalah imunisasi,” katanya.

Diakui, di masa pandemi Covid-19 banyak orangtua yang khawatir membawa anaknya ke pusat layanan kesehatan untuk melakukan imunisasi. Karenanya selama delapan bulan angka imunisasi menurun. “Sangat dikhawatirkan setelah pandemi berlalu ada ancaman difteri, batuk pertusis, atau pneumonia lantaran cakupan imunisasi berkurang,” ujar Nastiti.

“Dampak negatifnya kalau tidak diimunisasi, terkena penyakit yang menurunkan imun tubuh. Dan pada akhirnya terpapar virus Covid-19,” lanjutnya.

Diingatkan, seiring adaptasi baru, rumah sakit sudah mempersiapkan diri untuk melakukan imunisasi dengan cara yang berbeda dengan sebelum ada pandemi. Karena itu orangtua tak perlu lagi khawatir untuk mengimunisasikan anaknya.

Berkaitan dengan Hari Pneumonia Dunia yang diperingati setiap 12 November, Save the Children Indonesia yang merupakan bagian dari gerakan global Save the Children Internasional kembali mengampanyekan “STOP Pneumonia” untuk penyadaran dan perubahan perilaku masyarakat. STOP yang dimaksud, S (ASI eksklusif 6 bulan, menyusui ditambah MPASI sampai 2 tahun), T (Tuntaskan imunisasi untuk anak), O (Obati ke fasilitas kesehatan jika anak sakit), P (Pastikan kecukupan gizi dan hidup bersih sehat).

“Melalui kampanye STOP Pneumonia, kami bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan dukungan Pfizer, mengajak masyarakat untuk menjadikan momen HPD yang kita peringati di tengah pandemi tahun ini, sebagai kesempatan untuk semakin meningkatkan pemahaman mengenai pneumonia dan mencegah lebih banyak kematian akibat penyakit mematikan ini,” ungkap CEO Save the Children Indonesia, Selina Sumbung.

Pfizer sendiri, kata Public Affairs Director Pfizer Indonesia, Bambang Chriswanto, memiliki komitmen untuk berkontribusi dalam menciptakan Indonesia yang lebih sehat. “Salah satu wujudnya, dengan mendukung upaya-upaya yang dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya orangtua, terhadap penyakit pneumonia serta mendorong pemahaman masyarakat tentang upaya pencegahannya,” ujarnya. ret