Jovan Zachary, Pria Asal Surabaya yang Jadi Tentara di AS

Jovan Zachary

Ketika semua orang sedang menunggu kabar, siapa yang jadi orang Nomor 1 di Amerika Serikat dalam Pemilu yang berlangsung Selasa (4/11/2020), ada cerita menarik tentang Jovan Zachary. Masih berkaitan dengan Amerika, karena pria asal Surabaya ini menjadi prajurit Angkatan Laut di negeri adidaya tersebut.

Menjadi abdi negara di satuan tentara, menjadi impian sebagian besar pemuda Tanah Air.  Banyak di antara mereka yang antusias mengikuti serangkaian tes yang dijalankan dengan ketat. Berbeda dengan Jovan Zachary.

Lewat kanal YouTube-nya, pria yang sejak kecil tinggal di Surabaya ini mengaku bisa menjadi  prajurit Angkatan Laut Amerika ini karena tak sengaja. “Banyak yang tanya, gimana sih kehidupan tentara, kesehariannya ngapain aja,” kata Jovan yang lahir di Amerika.

Jovan yang kini sedang  bertugas di kapal USNS Burlington dan berada di wilayah Ekuador ini mengatakan, dirinya mengenal Amerika karena orangtuanya pernah tinggal di sana sekitar 5 tahun.

Dengan logat yang medok khas orang Jawa, dia mengungkap dirinya sejak kecil tinggal di Surabaya setelah kepulangan orang tuanya.  “Ketika umur saya hampir setahun, saya dibawa pulang ke Surabaya. Makane ngomong e medok gini (makanya ngomongnya mendok begini). Aku yo bingung, arep  ngomong Indo (Indonesia, red) medok, ngomong Inggris yo gak lancar. Wes dipahami wae,” ujarnya saat memerkenalkan diri di kanal YouTube-nya.

Setelah beranjak dewasa, Jovan memutuskan merantau ke Amerika. Sesuai dengan keinginan orang tuanya. Meski sempat mengalami kendala, tapi semangatnya untuk memenuhi amanah orang tua, tidak pernah pudar.

“Semua keluargaku di Surabaya, jadi saya sendirian merantau. Kosek ini aku iki ngomong e ambek baca ini, soale ora lancar, ndadak menyesuaikan (sebentar ini aku ngomongnya sambil baca, karena tidak lancar, harus menyesuaikan),” papar Jovan yang saat bercerita mengenakan kostum tentara dengan label nama Winarno.

Dia mengungkap,  Juli tahun lalu berunding dengan kedua orangtuanya. Diakui sempat ada masalah di keimigrasian. “Puji Tuhan, dua bulan kemudian bisa berangkat. Pertama kalinya pergi jauh sendirian,” ceritanya.

Awalnya, Jovan berkeinginan hidup seperti orang biasa, melanjutkan sekolah ke jenjang kuliah dan bekerja. Sebagai permulaan dan niat belajar bahasa Inggris lebih dalam, dia memutuskan jadi pelayan rumah makan.

“Sampai di LA, wes aneh, takut. Soale dari Surabaya ke Amerika beda jauh. Kayak excited, opo sing tak lakoni (apa yang harus aku lakukan) selanjutnya. Pengen hidup biasa, sekolah, ambek kerja. Karena Inggris-ku nggak lancar, aku kerjo ndisik ning (kerja dulu di) restoran,” ucap Jovan.

Diajak Daftar Tentara

Tak disangka, dia mendapat ajakan dari anak teman ayahnya.  Pekerjaan yang ditawarkan menjadi tentara . Tentu saja Jovan menolak, sebab takut.

Enek anak-e temen-e papa ku (ada anak temennya papa). De’e ngajak aku dadi tentara. Nggak gelem lah jadi tentara. Terus kok ditawari terus. Lama-lama jadi kepingin, banyak benefit-e,” papar Jovan.

Setelah dipikir lebih matang, ternyata menjadi tentara dirasa menguntungkan.  “Pertama, dapat asuransi, nek nggak salah seumur hidup. Kedua, sekolah dibiayai pemerintah. Terus akhire aku mutusno masuk tentara, bulan depannya saya ke San Fransisco nemuin anaknya temen-e papa,” ujarnya.

Rasa takut menyelimuti Jovan saat mengikuti serangkaian tes masuk Tentara Angkatan Laut Amerika atau United States Navy (USN).

Tak disangka, ia merasa berkah Tuhan tengah menghampiri. Dia bisa mengikuti training selama dua bulan, sebagai tes selanjutnya. “Prosesnya panjang banget. Ngomongku nggak lancar, jadi rada takut juga masuk tentara. Terus habis itu, setelah tes terakhir, saya diterima buat training selama dua bulan,” ucap Jovan.

Selama empat bulan sebelum waktu training, para peserta diberi waktu libur. Jovan menyempatkan diri kembali ke Surabaya untuk memohon doa restu keluarga dan teman-temannya.  Itu dilakukan karena dia khawatir begitu menjadi tentara tak bisa bebas lagi.

Kini Jovan tengah merangkak menyusun kesuksesannya. Sembari mengenyam pendidikan di kampus, ia juga ikut pelatihan militer. Sayangnya selama di lokasi, ia tidak bisa banyak mengabadikan momen latihan, karena dilarang.

“Setelah liburan, pamitan semua, balik lagi ke sini, stres lagi. Saya training dua bulan, stresnya minta ampun. Untungnya saya lulus, Puji Tuhan. Sekarang saya sekolah untuk education, sekolah untuk mesin kapal,” katanya.ret,ins