Fesyen Virtual, Siasat di Tengah Pandemi

Tangkapan layar peragaan busana yang digelar secara virtual.

Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal dalam kehidupan, termasuk juga wajah industri fesyen. Kondisi ini membuat para pelaku di dunia fesyen turut beradaptasi dengan kebiasaan baru agar karyanya bisa tetap diluncurkan di masa pandemi ini. Salah satunya lewat peragaan busana secara virtual.

PERHELATAN Indonesia Fashion Week 2020 kali ini berjalan tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Setelah mundur dari jadwal seharusnya, setiap kuartal I,  gelar busana yang melibatkan desainer dalam dan luar negeri termasuk dari kelompok usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ini akhirnya diselenggarakan pada November 2020 ini. Presiden IFW, Poppy Dharsono, mengatakan, setelah mundur beberapa waktu karena situasi pandemi, gelar busana tahunan ini akhirnya diputuskan digelar secara virtual.

“Dalam mengatasi situasi pandemi, kami merasa perlu memberi dukungan pada UMKM, terutama yang bergerak di bidang desain budaya. Agar mereka tetap bisa terhubung dengan pelanggan,” katanya.

Inovasi gelar busana secara virtual ini dilakukan karena sulitnya memasarkan karya di tengah kondisi seperti sekarang ini. Pandemi, diakui Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Sugeng Waskito, membuat teman-temannya kesulitan memasarkan karyanya.

“Makanya kita bikin fashion virtual ini agar kita bisa share ke media sosial Instagram, Facebook untuk iklan karya-karya masing- masing,” katanya.

Inovasi dalam penyelenggaraan gelar busana di media sosial Instagram, YouTube, atau Facebook itu sekaligus membuka sekat-sekat atau aturan tak tertulis dalam menyaksikan peragaan busana. Masyarakat penikmat dan pengamat busana bisa menyaksikan di mana pun tanpa harus khawatir terlambat, karena pintu sudah ditutup seiring dimulainya acara. Mau berdandan rapi atau pakai baju rumahan sambil nyemil gorengan juga boleh.

Sepanjang sinyal wifi lancar, penikmat busana bisa mengamati satu per satu karya busana yang diperagakan dengan nyaman. Bukan hanya peragaan di dalam negeri, para penggemar mode juga bisa melihat peragaan busana yang digelar virtual oleh rumah-rumah mode di Paris dan Milan lewat Paris Fashion Week atau Milan Fashion Week. Tak seperti pergelaran busana offline yang bisa dengan mudah menghadirkan suasana, pada pergelaran busana virtual harus ada konsep visualnya, sehingga “pengunjung” tak cuma melihat para peragawan peragawati melintas di catwalk.

“Kalau bikin format di gawai pasti harus ada detail, nuansa. Bukan sekadar orang memakai busana lalu bisa kita lihat di gawai, tapi harus ada konsep visualnya,” ungkap Jay Subiyakto, creative director Nusantara Fashion Festival (NUFF) 2020.

Tak Terbatas

Namun, di sisi lain, para sutradara mempunyai kreativitas tak terbatas yang bisa diwujudkan, yang mungkin sulit terwujud ketika pergelaran mode dilangsungkan secara offline. Mulai dari animasi, video mapping, hingga pengambilan gambar bergaya film. Hal ini menurut Jay dilakukan untuk mengantisipasi agar penonton tidak merasa bosan.

Jika merasa kehilangan suasana, pergelaran mode virtual ternyata bisa memberi nilai lebih. Penonton bisa melihat secara dekat detail baju dan aksesori yang dikenakan para model. Mulai dari detail tekstur bahan, aksen payet, hingga riasan wajah yang menyempurnakan penampilan para model.

Sementara CEO Samara Media & Entertainment, Ben Soebiakto, mengaku, pergelaran busana virtual ini adalah kesempatan untuk menjangkau lebih banyak penonton, ketimbang saat digelar secara offline.

“Kami melihat ada kesempatan baru di masa pandemi, kami dipaksa untuk transformasi, bukan cuma puluhan ribu tapi jutaan masyarakat, gelar busana dua hari ini bisa ditonton secara luas,” papar Ben.

Sayangnya, tidak semua orang memiliki kualitas gawai dan pendukung yang sama. Mereka yang memiliki gawai dengan resolusi layar maksimal serta audio yang mendukung, tentu bisa menangkap suasananya secara lebih sempurna. Berbeda dengan orang-orang yang menonton lewat ponsel kelas menengah tanpa dilengkapi audio mumpuni.

Dalam peragaan busana secara virtual tersebut, APPMI sepakat menampilkan karya-karya ready to wear atau siap pakai. Dengan begitu, setiap orang bisa langsung mengenakan pakaian karya-karya desainer. Apalagi aktivitas masyarakat yang kini berpusat di rumah akibat pembatasan sosial, sehingga mereka lebih membutuhkan busana sehari-hari yang nyaman.

Dan meski bernama fashion show virtual, yang terlibat di dalamnya tak melupakan protokol kesehatan. Mereka tetap menerapkan menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan.

Model fashion show, Sheren Simamora mengaku sempat mengalami kesulitan saat pertama kali ikut acara ini. Menurutnya, peragaan busana yang selama ini diikuti lebih mudah, karena langsung dilihat oleh banyak orang. Sedangkan fashion show virtual lebih sulit, karena harus berhadapan dengan kamera dan detail pakaian harus lebih terlihat.

Perancang busana, Wahyu Septiana Dewi, menceritakan efek dari pergelaran busana secara virtual yang dirasakan sangat membantu mempromosikan produknya. “Kita bisa memperkenalkan brand kita dari virtual fashion show, dari videonya, dari foto-fotonya kita bisa bikin katalog dan bisa kita share di media sosial, marketplace, dan lain-lain,” katanya.

Sementara desainer asal Yogyakarta, Iffah M. Dewi yang membuat produk  lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat, masker kain, meraup keuntungan di luar dugaan. Pemilik Sogan Batik ini pada awal pandemi memproduksi masker tiga lapis dan dibagikan secara cuma-cuma.  Sebanyak 1.000 masker dibuat untuk diberikan secara gratis sedang 1.000 lainnya dijual. “Ternyata malah dapat 30.000 pieces pesanan,” ujarnya.

Kondisi pandemi membuat East Java Fashion Harmony 2020 dilangsungkan secara sederhana namun tetap indah dipandang. Kegiatan yang diikuti 12 desainer asal Jatim ini digelar berlatar belakang Pantai So Long Banyuwangi, Sabtu (14/11/2020. Peragaan busana bertema Batik Gringsing ini dihelat dengan menyulap kawasan Villa So Long menjadi catwalk para model.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, gelaran ini sengaja dilakukan tidak di dalam gedung melainkan di ruang terbuka. Hal ini dilakukan karena saat ini masih suasana adaptasi baru pandemi Covid-19.

Karenanya Pantai So Long dipilih karena tempat terbuka ini dinilai aman dari penyebaran Covid-19.

Boneka Tali Moschino

Peragaan busana virtual tak selalu melibatkan peragawan atau peragawati. Seperti inovasi yang dilakukan rumah mode Moschino dalam Milan Fashion Week. Sang desainer Jeremy Scott menggelar fashion show dengan peraga dari boneka tali atau marionette. Ini berarti dia harus pula membuat replika busana koleksi musim semi dan panas 2021 dalam ukuran boneka, 30 inci.

Selain model, Moschino juga menciptakan karakter marionette yang duduk di front row seperti Anna Wintour yang kepala editor Majalah Vogue Amerika dan Edward Enninful, editor Majalah Vogue Inggris serta pemimpin industri fashion lainnya yang membuat show ini nampak semakin nyata.

Pendemi memang telah membuat semua orang belajar. Belajar agar bisa tetap bertahan. “Kita semua belajar sesuatu yang baru, harus beradaptasi dengan kehidupan baru, perilaku baru, dan langkah baru di pandemi ini,” ujar Poppy. (Retno Asri)