Di Tengah Pandemi Covid-19, Dinkes Jatim Tetap Galakkan Pencegahan Polio

Imunisasi polio penting untuk mencegah penyakit polio

SURABAYA (global-news.co.id) – Di tengah pandemi Covid-19, Dinas Kesehatan Jawa Timur tetap  menggalakkan program pencegahan penyakit polio. Di antaranya dengan melaksanakan imunisasi polio, surveilans Acut Flaccid Paralysis (AFP), dan pemeriksaan laboratorium polio.

“Program ini sangat penting, sebab polio masih mengancam,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jatim, dr Herlin Ferliana, Rabu (18/11/2020).

Diungkapkan,  target imunisasi polio atau vaksinasi  pada 2020 ini adalah 79,17%. Dari target tersebut, data per 31 Oktober 2020 mencatat,  imunisasi polio jenis OPV1 pada anak usia 0 hingga 1 bulan mencapai 82,54%.

Kemudian cakupan imunisasi polio jenis  OPV2 untuk anak usia 2 bulan mencapai 82,17%, OPV3 untuk anak usia 3 bulan mencapai 81,16% dan OPV4  untuk anak usia 4 bulan mencapai 79,79%. Terakhir pada cakupan IPV yang dilakukan bersamaan dengan OPV4 mencapai 30,33%.

“Artinya meskipun dalam keadaan seperti sekarang, kami masih tetap prioritaskan polio pada anak,” ujar mantan Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur ini.

Herlin juga mengingatkan bahaya polio karena bisa menyebabkan kelumpuhan.

Virus polio menginfeksi tubuh melalui mulut ketika seseorang makan atau minum sesuatu yang sudah terkontaminasi feses penderita polio. Setelah itu, virus berkembang biak di usus dan ditularkan kembali melalui kotoran.

Ada tiga tipe virus polio dan ketiganya dapat menyebabkan kelumpuhan. Ketiga tipe virus tersebut adalah tipe Brunhilde, tipe Lansing, dan tipe Leon. Sehingga penting dilakukan imunisasi sebagai pencegahan.

Mengapa imunisasi dilakukan pada anak usia di bawah lima tahun (balita)?  Sebab virus polio ini rata-rata menyerang mereka yang berusia di bawah 15 tahun.

“Gejalanya adalah demam lebih dari 38 derajat Celcius, batuk, pilek, myalgia (nyeri pada otot), dan selanjutnya dalam 14 hari berikutnya terjadi kelumpuhan yang bersifat layuh (lunglai). Masa inkubasi poliomeylitis antara tiga sampai enam hari,” kata Herlin.

Organ tubuh yang paling rentan diserang virus ini adalah alat gerak  yaitu tangan dan  kaki. Tingkat kematian akibat polio memang sangat rendah, sebesar 2-5%. Namun dampak kecacatannya yang hebat adalah kelumpuhan yang bersifat permanen.

Herlin berharap semua pihak saling mengedukasi pentingnya imunisasi polio bagi anak. Tak hanya pada cakupan OPV1 saja, tapi harus lengkap hingga IPV.

Meski kasus polio sudah jarang ditemui di Jatim, tapi ancaman itu masih ada. Pada 2005 lalu, ada sebanyak 45 kasus polio di Madura bersamaan KLB nasional dengan total kasus 302 kasus.  “Maka segera laporkan ke puskesmas bila menemukan keluarga atau tetangga yang memiliki anak usia kurang dari 15 tahun yang secara mendadak lumpuh. Tujuannya agar puskesmas menindaklanjutinya dengan verifikasi ke lapangan,” ujarnya.ret,ara