Biden Unggul Sementara dengan 129 Suara Electoral, Trump 94 Suara

Kandidat Presiden Amerika Serikat , Donald Trump Joe Biden

WASHINGTON (global-news.co.id) – Kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat Joe Biden sejauh ini unggul sementara dengan 129 suara electoral. Adapun calon presiden dari Partai Republik Donald Trump meraih 94 suara.

Donald Trump menambah suara dengan memenangkan Arkansas. Kemenangan ini sudah diprediksi sebelumnya dalam berbagai survei. Dengan demikian, Trump menambah kemenangan setelah sebelumnya menguasai Oklahoma, Tennessee, Mississippi dan Alabama. Pengumuman ini baru saja dilansir AP, Selasa (3/11/2020) waktu setempat.

Untuk suara populer, Biden mendapatkan 25 juta suara dan Trump memperoleh 25,7 juta suara, menurut data yang dikumpulkan Fox News. Joe Biden sudah menang di tujuh negara bagian, termasuk di tempat tinggalnya Delaware.

Calon presiden dari Partai Demokrat itu meraih kemenangan di Rhode Island, New Jersey, Massachussetts, Maryland, Illinois, Delaware  dan Connecticut.  Joe Biden baru saja memenangkan Virginia dan meraih 13 electoral yang diperebutkan di sana.  Virginia merupakan swing state saat kampanye Barack Obama pada 2008 dan 2012, tapi telah menjadi kandang Partai Demokrat dalam beberapa tahun terakhir.

Tak mau ketinggalan, Donald Trump raih kemenangan di West Virginia. Kemenangan Trump di sana tak mengejutkan. Trump pun mendapat tambahan lima suara electoral. Trump juga memenangkan South Carolina dan mendapat tambahan sembilan suara electoral. Trump pun unggul di Oklahoma, Tennessee, Missisippi, dan Alabama.

Beberapa saat setelah pemungutan suara ditutup di Kentucky, AP mendeklarasikan Donald Trump memenangkan delapan suara electoral di sana. Kemenangan Trump di Kentucky sudah diprediksi sebelumnya. Tak hanya di Kentucky, Trump juga menang di Indiana menurut laporan Reuters. Di Indiana, Trump meraih 11 suara electoral.

Adapun Joe Biden telah mengamankan kemenangan pertamanya di Vermont yang menyediakan tiga suara electoral. Ini menjadi kemenangan perdananya. Pesta demokrasi kali ini memang berbeda dari sebelumnya karena selama kampanye rakyat AS mengalami polarisasi yang sangat dalam.

Masker wajah yang dikenakan banyak pemilih dan toko-toko yang ditutup papan di beberapa pusat kota menjadi pengingat dua masalah besar yang membentuk pemilu 2020, yakni Covid-19 dan kerusuhan saat protes mengecam kebrutalan polisi dan rasisme. Sejumlah kelompok hak-hak sipil mengatakan mereka sedang memantau tanda-tanda tekanan pada pemilih. Lembaga penegak hukum juga waspada terhadap gangguan selama pemungutan suara. Namun ketakutan terburuk mereka tidak terjadi hingga sore hari waktu setempat.  sin, ins