Tanaman Hias, antara Bisnis dan Tingkatkan Imun

Tak perlu harus mengikuti tren untuk menyalurkan hobi menanam tanaman hias.

Janda bolong  tiba-tiba jadi buah bibir. Masyarakat awam pun jadi penasaran, sementara penghobi tanaman hias heran karena tanaman yang sebelumnya dianggap biasa-biasa ini harganya melambung.

Di masa pandemi Covid-19, banyak orang dilanda kejenuhan karena keterbatasan beraktivitas di luar rumah. Untuk mengatasi dan mengurangi stres, beberapa orang memilih menyalurkan hobinya yang sebelum masa pandemi tak sempat disalurkan karena kesibukan kerja.

Maraknya hobi menanam tanaman hias yang kini kembali digeluti banyak orang, seiring pandemi Covid-19, membuat beberapa jenis tanaman “digoreng” hingga harganya naik berlipat-lipat. Janda bolong (Monstera), tanaman dengan permukaan daun yang berlubang-lubang ini kini dibanderol Rp 250 ribu per pot yang berisi lima lembar daun kecil.

Nita yang memang hobi menanam tanaman hias mengaku heran tanaman-tanaman yang selama ini sudah dia koleksi jadi mahal harganya. Ditemui di Pasar Bunga Bratang, Rabu (7/10/2020), Nita yang datang bersama temannya mengatakan, dirinya ke pasar bunga untuk melihat-lihat dulu. “Barangkali ada yang cocok untuk nambah koleksi, tapi kalau lihat harga-harganya itu ngeri ya, jadi mahal banget.  Awal-awal beli dulu belum segitu,” ujarnya sambil menunjuk gerombolan aglonema.

Maraknya penghobi tanaman hias diakui Bambang.  Pedagang  tanaman hias di Pasar Bunga Bratang ini menyebut, belakangan semakin banyak orang yang berburu tanaman hias.  Janda bolong memang termasuk yang dicari, tapi tak selalu dibeli konsumen. “Selain yang sudah ratusan ribu nilainya, saya juga sedia yang harganya  masih di bawah seratus karena orang mungkin mau nyoba dulu, bisa tumbuh apa enggak,” tambah istri Bambang.

Menurut mereka, kalau harganya tidak stabil terkadang malah merugikan pedagang. “Kami jual misalnya Rp 125 ribu ke konsumen, besok kami kulak sudah Rp 150 ribu. Uang yang kita dapat dari jualan kemarin itu nggak nyucuk,” lanjutnya.

Di Indonesia, tren melambungnya harga tanaman hias sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, ada beberapa tanaman yang harganya pernah melambung tinggi, seperti gelombang cinta, adenium.  Yang terbaru, janda bolong, calathea, syamarora.

Pedagang tanaman hias di Jakarta, Vanda Fakhrozi, mengatakan, kenaikan harga tanaman janda bolong dipicu budaya latah setelah tanaman tersebut jadi tren para pemilik rumah elit dan rumah-rumah dengan desain minimalis.  “Ada yang menganggap kalau enggak ada monstera itu enggak keren rumahnya. Jadi faktor gengsi ini berperan,” kata Vanda seperti dikutip Kompas TV, Minggu (27/9/2020).

Booming tanaman janda bolong dengan cepat meluas karena efek viral di media sosial. Seketika banyak orang mencari tanaman ini sehingga harganya ikut melonjak dratis, dari puluhan ribu menjadi jutaan rupiah. “Tren paling kencang ini di media sosial. Instagramable kalau orang bilang untuk foto-foto agar rumah terlihat estetik,” kata dia.

“Banyak ternyata yang buat monstera itu jadi tren,” ujar Vanda.

Meski beberapa jenis tanaman hias sedang  naik daun, Yusuf memilih mengoleksi  sesuai yang diingini saja.  “Kalau saya lihat bagus dan unik, ya saya ambil. Nggak harus yang mahal-mahal. Yang penting saya bisa memuaskan hobi,” kata bapak tiga anak yang mengaku hobinya itu terinspirasi dari mertuanya.

Dia mengaku, di rumahnya di Bandung ada beragam tanaman. “Tapi karena selama pandemi ini lebih banyak di Surabaya,  hobi itu saya teruskan di sini,” lanjut pria yang kini membuat taman di halaman belakang rumah orangtuanya.

Berkebun juga menjadi pilihan Giring Ganesha. Lewat akun Instagram-nya, Plt Ketum Partai Solidaritas Indonesia ini mengungkap, berkebun hidroponik dan microgreens merupakan kegiatan barunya yang  dapat menghilangkan stres.

Mantan vokalis grup band Nidji ini bersyukur lantaran sang istri, Cynthia Riza, mendukung kegiatannya. “Karena yang ditanam bawang merah, bayam, kangkung, cabai, sawi, brokoli, biar ngga ke pasar,” lanjutnya.

Sistem hidroponik kian digemari karena menanam tumbuhan tak lagi memerlukan media tanah dan lahan yang luas. Terlebih lagi di kota-kota besar yang sudah jarang ada lahan kosong yang luas. Budidaya tanaman ini lebih mengutamakan media air yang di campur dengan nutrisi.

Seperti Giring yang menanam sayuran yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Edi Purwanto juga memilih menanam sayuran. Pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai jurnalis ini memilih budidaya kangkung dan ikan lele yang dilakukan dalam satu media air di ember atau budikdamper.  Teknik ini belakangan diminati  karena bisa mengatasi masalah lahan.

Edi mengaku baru sekali mencoba, meski begitu sudah mendapatkan hasil. “Masih untuk konsumsi sendiri. Ini lagi menyiapkan gelombang kedua, cuma bibit  lelenya belum dapat,” ujarnya.

Psikolog Hamidah melihat apa dilakukan masyarakat terkait hobinya itu bernilai positif. “Selain mengisi waktu, dia membuat alternatif kegiatan yang variatif. Kegiatan ini juga bisa menumbuhkan parasaan senang dan dari situ bisa juga ambil keuntungan finansial,” katanya.

Munculnya perasaan senang secara tidak langsung membantu meningkatkan imunitas atau daya tahan tubuh.  Menurut dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga ini, untuk menyalurkan hobi tersebut masyarakat tak perlu ikut-ikutan mencari tanaman yang lagi ngetren yang tentu saja harganya ikut melambung.  “Syukur kalau hidroponik-nya sayur dan buah, kan bisa untuk dikonsumsi sendiri juga. Jadi ada banyak nilai positifnya,” pungkas Hamidah yang mengisi waktu luangnya dengan membuka konseling secara online.ret