Si Janda Bolong…

 
 
ADA yang bergerak di masa pandemi  ini. Kali ini tanaman hias. Kelihatannya biasanya “dikuasahi” ibu-ibu, tetapi kalangan bapak-bapak juga menyenangi memelihara tanaman hias. Ada apa? Ada bisnis di dalamnya. 
 
Bagaimana tidak, ada tanaman hias yang dijual hingga puluhan juta rupiah. Benarkah itu?
 
 
Kelihatannya memang begitu. Tanaman hias memang lagi booming. Sebut saja, tanaman Aglonema kembali naik daun di masa pandemi COVID-19 ini. Di Sidoarjo, misalnya tanaman tanpa bunga ini dijual dengan harga yang tidak murah. Rata-rata beberapa jenis tanaman daun itu dijual mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 6 juta.
 
 
Aglonema atau yang dikenal dengan Sri Rejeki ini berasal dari Thailand. Tanaman ini sangat mudah dalam perawatannya. Yang terpenting tidak terkena sinar matahari secara langsung.
 
 
Tanaman ini sangat tepat menjadi pilihan sebagai hiasan ruangan, karena corak dari daunnya sangat unik dan cantik. Dengan warna daun yang coraknya sangat cerah dan menonjol itu membuat penghobi tanaman jenis aglonema merasa betah di rumah.
 
 
“Yang paling laris manis saat pandemi COVID-19 di Sidoarjo Sukson Jaipon Rp 400 ribu. Tiara Rp 500 ribu,” kata Khoirul di stand bunga Tanggulangin, Senin (5/10/2020).
 
 Untuk harga pun bermacam-macam. Dirinya menjual Goliat dengan harga Rp 5 juta, Esmi Golden Rp 4 juta, Tiara Mutasi Rp 3,5 juta, Romantik Love Rp 3 juta, Krisna Konon, Rp 3 juta, Muksom Lokal Rp 3 juta, Kansa Rp 2 juta. Widuri Rp 1,5 juta, Khanza Rp 2 juta. Mutiara Rp 1,5 juta dan Exotic Mutasi Rp 1,2 juta.
 
 
Yang paling banyak disebut dalam bisnis tanaman hias ini, yakni “Janda Bolong”. Jenias ini lagi melejit harganya memang.  Melejitnya harga janda bolong atau yang lebih dikenal dengan nama Monstera Adansonii Variegata membawa berkah tersendiri bagi petani di sentra perdagangan tanaman hias di sejumlah daerah. 
 
 
Harga tanaman hias janda bolong yang juga dianggap masyarakat Desa Ledug, Pasuruan  sebagai tanaman endemik yang hanya dapat dijumpat di desa mereka kini harganya melejit hingga puluhan juta rupiah. Sebelumnya, harga tanaman itu hanya dikisaran Rp 3 ribu per bunga.
 
 
Dulu harga janda bolong untuk bibit dengan tiga sampai lima daun harganya sekitar Rp 3 ribu, sekarang Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu, itu pun kecil. Tapi kalau janda bolong yang daunya berjumlah belasan, harganya Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu. 
 
 
Kalau sekarang lihat karakter var-nya, kalau var-nya sedikit atau sembur, berkisar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Tapi kalau varnya maksimal, ibaratnya separuh daun ini putih atau kuning, separuhnya lagi hijau, bisa sampai Rp 50 sampai Rp 80 juta.
 
 
Si Janda Bolong memang menggiurkan di kancah bisnis tanaman hias. Hanya saja, para pebisnis harus mengetahui bagaimana bisnis musiman ini terjadi. Ada juga yang mengatakan bisnis settingan, karena bisnis seperti ini tidak akan langgeng, dan selalu berputar. Kalau sekarang tanaman hias dengan bintangnya “Si Janda Bolong”, besok belum tentu. Mungkin ada komoditi lainnya.
 
 
Mari kita menoleh ke belakang. Dulu bagaiaman tanaman “Gelombang  Cinta” melejit harganya, bahkan sampai puluhan juta. Tak beberapa lama,  Ikan lohan. Burung Love Bird dan lainnya. Kini semuanya tumbang. Tumbang tak ada harganya lagi. Begitukah nasibnya Si Janda Bolong? Lihat saja nanti. (*)