Meski Ada Vaksin, Jangan Tinggalkan 3M!

Memakai masker dan mencuci tangan, selain menjaga jarak tetap akan menjadi perilaku yang wajib dijalankan meski vaksin Covid-19 telah ada.

Provinsi Jawa Timur disebut-sebut menjadi salah satu dari tiga provinsi prioritas yang mendapatkan vaksin Covid-19. Yang jadi pertanyaan, apakah dengan adanya penyuntikan ini berarti pandemi berakhir dan kita bisa menjalani hari seperti sebelum pandemi? 

SAAT rapat terbatas Selasa (20/10/2020), Presiden Joko Widodo sudah mewanti-wanti agar para menteri menyiapkan komunikasi yang baik soal vaksin yang rencananya mulai disuntikkan pada akhir November tersebut. Harapannya agar tidak terjadi kegaduhan seperti Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja.

“Saya minta terkait dengan vaksin jangan tergesa-gesa, karena sangat kompleks, menyangkut nanti persepsi di masyarakat kalau komunikasinya kurang baik bisa kejadian seperti UU Cipta Kerja. Saya minta benar-benar disiapkan, mengenai komunikasi publik terutama yang berkaitan dengan halal dan haram, berkaitan dengan harga, kualitas, dan distribusi seperti apa. Semuanya harus detail,” tandasnya.

Jokowi menambahkan, titik kritis dari vaksinasi adalah implementasi. Ini tidak mudah dan harus dijelaskan ke publik. Termasuk juga siapa yang akan dapat vaksin gratis dan vaksin mandiri. Nantinya vaksin Covid-19 gratis akan ditangani Kemenkes sedang vaksin mandiri atau berbayar akan diurus oleh BUMN.

Rencana penyuntikan vaksin Covid-19 yang juga dinantikan banyak negara tersebut mendapat sambutan positif Ketua Satgas Covid-19 PWNU Jatim, dr Edi Suyanto SpF SH MH. Dengan pemberian vaksin itu kekebalan tubuh akan terbentuk, sehingga ketika ada virus yang masuk,  tubuh sudah memiliki benteng.

Namun ditegaskan, vaksin bukan jalan keluar, lebih bagus lagi kalau setiap individu disiplin menjalankan 3 M sebagai pola hidup baru, menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Ketaatan masyarakat dalam menjalankan 3 M dan upaya pemerintah yang menjalankan 3T yaitu testing, tracing, dan treatment secara masif berperan dalam menurunkan angka Covid-19.

Menurut Edi, 3M itu mutlak harus  dilakukan masyarakat.  Kalau sudah ada sosialisasi masih ada yang melanggar bisa diberlakukan sanksi teguran, melakukan kerja sosial  atau denda. “Bisa juga sanksi administratif misalnya izinnya dicabut,” ujarnya.

Yang terpenting lagi, lanjutnya, membangun sistem ke masyarakat yaitu sistem informasi dan komunikasi. “Jadi masyarakat ditekan untuk disiplin tapi juga harus diberi solusinya, seperti tidak boleh ke luar rumah kalau tidak perlu, solusinya kegiatan sekolahnya dilakukan secara online,” kata Edi.

Pelibatan Satpol PP, TNI, juga Polri dalam operasi yustisi protokol kesehatan ini diakui sangat membantu dalam menurunkan angka kasus Covid-19 di Jatim. Mantan pasien Covid-19, Endah Hariyani, mendukung rencana pemerintah yang akan melakukan vaksinasi Covid-19 pada akhir November. Menurut ibu empat anak ini, vaksinasi bisa saja diterapkan, asal belum telanjur parah.

“Sebenarnya Covid-19 itu mudah ditaklukkan,  yaitu dengan meningkatkan imunitas. Yang jadi masalah, masyarakat kita sering abai. Mereka tidak segera waspada bila mengalami gejala sakit,” ujarnya Rabu (21/10/2020).

Endah mengungkap, ketika dirinya tak bisa merasakan masakan enak kalau makan, tak bisa membau meskipun baunya menyengat, badannya lemas, muncul kecurigaan ada yang tidak beres pada tubuhnya.  Dia pun berkonsultasi pada putrinya yang berprofesi sebagai dokter.

“Karena obat untuk sakit Covid 19 belum ada,  saya disarankan minum vitamin C, vitamin B, vitamin D yang semuanya dosis tinggi, juga vitamin E. Supaya nggak lemas, setiap makan, saya juga mengonsumsi telur rebus 3 sampai 5 butir,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, walau nantinya ada vaksin, yang terpenting tetap bagaimana kita menjaga daya tahan tubuh dan meningkatkan imunitas ketika tubuh merasa ada yang tidak beres. Vaksin itu tidak murah, bisa jadi nantinya tidak  dilakukan sekali seumur hidup tapi harus diulang.

“Menjalankan protokol kesehatan 3M cukup membantu mencegah penularan dan kalau merasakan tubuh tidak beres, segera waspada Covid, jangan sampai telanjur parah,” tandasnya.

Sementara terkait Jatim menjadi salah satu provinsi prioritas yang memperoleh vaksin Covid-19, Gubernur Khofifah Indar Parawansa belum berani berkomentar.  “Kita menunggu pemerintah pusat. Saya dengar Jatim menjadi satu dari tiga provinsi yang mendapatkan prioritas vaksin ini. Tapi setelah klir ada surat resmi dari pemerintah kita dapat berapa, maka kita baru bisa sampaikan,” katanya Minggu (18/10/2020).

Anggota Tim Satgas Covid-19 IDI Jatim, Dr dr Achmad Chusnu Romdhoni SpTHT, menyarankan masyarakat agar mau mengikuti program vaksinasi Covid-19. Harapannya, kalau seluruh penduduk sudah tervaksin, tingkat infeksi baru jadi zero atau nol yang berati pula pandemi berakhir.

“Pandemi dikatakan selesai kalau secara epidemiologi sudah tidak ada yang sakit, atau tingkat infeksi barunya 0 atau nol,” ujarnya Rabu (21/10/2020) malam. Berakhirnya pandemi, lanjutnya, bukan berarti kita semua bisa hidup normal seperti sebelum ada pandemi.

“Nggak bisa, makanya disebut New Normal. Kita semua harus tetap menjalankan protokol kesehatan 3M karena virus akan tetap ada di sekitar kita,” tandasnya. ret