Merugi, Pertamina Tetap Gulirkan Bantuan ke UMKM Terdampak Pandemi (3-Habis)

Kesra Bordir, salah satu binaan MOR V Jatimbalinus yang berada di Kedurus Surabaya juga terimbas pandemi. Penjualan tas dan dompet aksesoris bordir turun drastis sejak Maret lalu.

 

Pelaku Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) termasuk kelompok yang rentan terdampak secara ekonomi untuk menjalankan usaha bisnisnya di tengah pandemi Covid-19. Meski merugi, PT Pertamina mengulurkan bantuan untuk membantu keberlangsungan bisnis UMKM.

 

Sejak pandemi, UKMM dibelit masalah nyaris seragam. Berkurangnya permintaan pasar sangat berimbas pada turunnya pendapatan. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pelaku UMKM di seluruh Tanah Air.

Berdasarkan data Lipi di akun Lipi.go.id, berbagai dampak pendemi terhadap UMKM di antaranya, penurunan penjualan yang dialami UMKM hingga 94,69 persen. Sebagian besar dialami pengusaha offline hingga 47,44 persen.

Sejumlah UMKM binaan Pertamina Jatimbalinus juga mengalami masalah yang sama.  Pemilik usaha NiO-el (bergerak di bidang aksesoris) Lydia Waskita mengatakan sejak pandemi dia terpaksa merumahkan karyawannya karena anjloknya penjualan. Ini hal yang tak pernah dialami sebelumnya.

“Permintaan aksesoris tiba-tiba drop seiring adanya pandemi, terpaksa satu karyawan saya rumahkan sementara. Order sepi, kalau ada permintaan saya garap sendiri. Sepinya penjualan masih terjadi sampai saat ini,” kata Lydia yang usahanya berada di kawasan perumahan Pondok Tjandra Indah Surabaya.

Dijelaskan Lydia NiO-eL dirintis sejak 2011, dimulai dari hobinya dengan membuat kerajinan tangan perhiasan. Setiap aksesoris yang dibuat dilakukan secara handmade, mulai proses desain sampai finishing design, art dan taste. Bahan-bahan yang digunakan mulai tembaga, bebatuan alam maupun sintesis, kristal svarosky, mutiara air tawar. Kebanyakan pelanggan dari kalangan menengah atas, mereka yang suka mengoleksi aksesoris yang unik-unik. “Aksesoris kami ada di beberapa butik dan hotel di Indonesia. Selama ini aksesoris kami juga sudah mengikuti pameran di dalam dan luar negeri seperti Aljazair dengan difasilitasi Pertamina,” katanya.

Aksesoris produksi NiO-el dibuat secara handmade, mulai proses desain sampai finishing design, art dan taste. Selama ini produk ini kerap mengikuti pameran di dalam dan luar negeri dengan difasilitasi Pertamina.

Pada 2018, kata Lidya, NiO-eL bahkan menjadi sponsor desainer baju salah satu brand untuk acara Indonesia Fashion Week di Jakarta dengan tema Borobudur. Sejak menjadi mitra binaan Pertamina pada 2019, Lidya mengaku tak hanya terbantu modal untuk pengembangan usaha, namun juga memiliki kesempatan   untuk mengikuti pameran di dalam dan luar negeri. “Selain bisa mengembangkan pemasaran, memperluas network, saya juga menimba pengetahuan untuk memperkaya pengetahuan dengan melihat tren yang disukai di pasar dalam dan luar negeri,” katanya.

Kesra Bordir, salah satu binaan MOR V Jatimbalinus yang berada di Kedurus Surabaya juga mengalami hal yang sama. Sejak pandemi melanda, penjualan aneka tas dan dompet aplikasi bordir turun drastis. Biasanya dalam sebulan rata-rata dapat pemasukan Rp 10 juta, selama pandemi untuk mendapatkan uang tak sampai Rp 2 juta sangat sulit. Untuk bertahan, dia merumahkan 3 karyawannya untuk sementara. “ Sistem kami ubah, tenaga kerja hanya mengerjakan jika ada pesanan karena penjualan masih relatif sepi hingga saat ini,” kata Harifah Adhar, pemilik Kesra Bordir.

Harifah bercerita pada 2016 dia mendapat bantuan kredit lunak dari Pertamina sebesar Rp 20 juta dengan tenor pengembalian 3 tahun. “Dengan jasa administratif hanya 3%, hal ini sangat meringankan pelaku UMKM dibandingkan dengan melakukan pinjaman uang kepada rentenir atau bank tithil,” tambahnya.

Modal itu dia gunakan untuk mengembangkan usahanya hingga dia mampu merekrut 10 pekerja, sebagian besar tetangga rumahnya. Jangkauan pemasaran tas dan dompet aplikasi bordir pun meluas hingga menjangkau hampir semua wilayah Indonesia. Sayangnya cobaan pandemi datang dan usahanya kena imbas.  Sejak pandemi Covid-19, produksinya hanya ditopang 7 pekerja untuk sementara. “Kami harus bersabar dengan kondisi seperti ini, semoga cobaan pandemi ini segera berakhir dan ekonomi pulih kembali. Pada sisi lain saya juga berharap pemerintah melalui Pertamina terus membantu UKM, jujur saat ini mereka membutuhkan perhatian untuk keberlangsungan usahanya,” harapnya.

Program Kemitraan

Guna mendukung keberlangsungan usaha UMKM, PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) V Jatimbalinus gencar menyalurkan bantuan modal. Melalui Program Kemitraan, MOR V menyalurkan dana Rp 2.705.000.000 kepada 25 UMKM Binaan yang berada di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur, Senin (21/9/2020).

Mayoritas UMKM Binaan tersebut berasal dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). UMKM tersebut sebagian besar bergerak di sektor industri kreatif seperti tenun dan rotan, juga dari sektor industri rumahan, perdagangan, hingga peternakan. Total penyaluran yang disalurkan untuk UMKM Binaan di Kabupaten Bima berjumlah Rp 1.560.000.000 untuk 14 UMKM Binaan. Penyaluran yang dimaksud guna mendukung Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) yang ditetapkan oleh Pemerintah. Di mana salah satunya berada di Nusa Tenggara Barat, yaitu Mandalika.

Program Kemitraan (PK) sendiri merupakan program untuk meningkatkan kemampuan UMKM menjadi Mitra Binaan Pertamina agar menjadi tangguh dan mandiri, sekaligus memberikan multiplier effect bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar wilayah operasi perusahaan khususnya, maupun masyarakat Indonesia pada umumnya guna mendukung kegiatan Pertamina dan juga mitra bisnis.

Intan H Makka, pemilik UMKM Rumah Tenun Nggusu Waru menyampaikan bahwa Program Kemitraan dari Pertamina sangat membantu keberlangsungan usahanya. “Dana yang diberikan tentunya akan langsung dieksekusi untuk modal pembelian bahan baku dengan distributor serta penambahan anggota pengrajin tenun untuk membantu perekonomian pengrajin di tengah pandemi ini,” ujarnya.

Ia berharap, ini merupakan langkah awal untuk keberlangsungan bisnisnya. Di mana nantinya akan mendapatkan pengalaman yang baik serta akses pelatihan dan pemasaran produknya agar lebih luas dan dikenal oleh masyarakat.

Kepala Bidang Pemasaran dan Ekonomi Kreatif  Dinas Pariwisata Kota Bima Sulistiyo juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pertamina atas atensi yang diberikan kepada pelaku UMKM di Kabupaten Bima. “Program ini sangat membantu dalam pengembangan usaha yang dilakukan UMKM, terutama saat situasi pandemi Covid-19 yang sangat berpengaruh di segala aspek kehidupan, khususnya di perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Dengan bantuan modal ini ia berharap dapat bermanfaat dan meningkatkan perekonomian di Kabupaten Bima serta dapat menyejahterakan masyarakat yang berada di wilayahnya.

Unit Manager Communication & CSR MOR V Jatimbalinus Rustam Aji menyampaikan bahwa Pertamina memahami bahwa pelaku UMKM berisiko tidak dapat melanjutkan usahanya di saat pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tren penurunan. “Dengan adanya bantuan akses permodalan ini, UMKM binaan Pertamina juga bisa mendapatkan pendampingan dan bimbingan dalam menyiasati pengelolaan model usaha untuk menjadi lebih tangguh,” ujar Rustam.

Misalnya sosialisasi dan pelatihan yang tetap berlangsung di masa Pandemi Covid-19, Pertamina tetap menjalankan tugasnya dengan mengadakan webinar series dengan menghadirkan narasumber atau praktisi di bidang UMKM.

Dikatakannya webinar yang tetap dilakukan di tengah Pandemi Covid-19 ini diharapkan dapat bermanfaat bagi UMKM dalam menjalankan bisnisnya di tengah Pandemi Covid-19.

Pada 2019 lalu, lanjut Rustam, Pertamina MOR V telah menyalurkan dana PK sebesar Rp 23,3 miliar. “Sedangkan pada tahun ini hingga September 2020, Pertamina telah menyalurkan bantuan permodalan sebesar Rp 11 miliar kepada 149 Mitra Binaan untuk pengembangan UMKM. Mitra binaan ini tersebar di 4 Provinsi yang berada di wilayah MOR V, yaitu Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur,” kata Rustam.

Sementara itu VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menambahkan bila masyarakat pelaku UMKM memiliki rencana pengembangan usaha dan berminat untuk bermitra dengan Pertamina dapat memperoleh informasi mengenai Program Kemitraan Pertamina, melalui situs resmi https://www.pertamina.com/id/program-kemitraan dan juga melalui telepon ke Call Center Pertamina di nomor 1 500 000.

Upaya pengembangan dan kemandirian UMKM tersebut dilakukan Pertamina lewat CSR dan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Di tahun 2019, Pertamina telah membangun 29 Rumah Kreatif BUMN (RKB) di berbagai daerah di Indonesia. Di mana RKB ini membawahi lebih dari 2.100 UMKM. “Lewat RKB ini, kita ingin UMKM di Indonesia bisa meningkatkan knowledge dan bisnis mereka sesuai dengan perkembangan zaman. Bagaimana mereka bisa siap berkompetisi menjangkau pasar seluas-luasnya,” ujar Fajriyah Usman.

Fajriyah mengatakan, Pertamina telah memfasilitasi pemasaran Mitra Binaan melalui 24 pameran baik di dalam maupun luar negeri. Tidak hanya itu, para Mitra Binaan juga dibina dengan lebih sistematis sesuai dengan tahapan menuju Mitra Binaan naik kelas. “Selama tahun 2019, Pertamina juga melakukan program business matching serta perluasan pasar global dengan total penjualan mencapai Rp 11,92 miliar,” jelasnya.

Selain itu, Pertamina juga melakukan kurasi produk binaan Mitra Binaan Bersama dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) dalam bentuk buku katalog SME 1.000. tis