Kisah dr. Ninoek Kehilangan Suami di Depan Mata karena Covid-19: ‘Al-Quran Menjadi Obat Tegar bagi Saya’ 

Kiri-kanan: Hafidz, dr. Ninoek, Helmi, Syahnaz (menantu), almarhum Tri Yanuar dan Hanif.

Sebagai tenaga kesehatan, dr. Ninoek Pudjiasih bersama keluarga berusaha konsisten untuk menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Protokol kesehatan untuk tidak tertular Covid-19 benar-benar diterapkan. Namun entah dari mana keluarga ini tertular. 
PADA hari Sabtu (29/8/2020) dan Minggu (30/8/2020) malam, suami dr. Ninoek menggigil dan sedikit batuk.  Beliau mencoba untuk memberi obat demam yang ada di rumah, namun nggak bisa turun demamnya. Beliau mulai was-was, jangan-jangan ini covid-19. Senin (31/8/2020) pagi menyusul, dr. Ninoek mulai demam dan kepala pusing, ditambah batuk sedikit-sedikit.
Akhirnya pagi itu juga suami istri ini ke RS PHC untuk swab. Esok paginya dapat WA dari RS PHC, ternyata hasilnya positif. Karena mereka berdua positif, akhirnya anak kembarnya diperiksakan swab di RS PHC, si kembar tanpa demam dan hanya batuk kadang-kadang saja.
Ternyata hasilnya positif juga. Rabu (2/9/2020) pagi mereka berempat minta tolong ke teman sejawat , dr Lita SpPD, beliau menganjurkan untuk segera ke RS aja, lebih aman, sebab beliau mengkhawatirkan suaminya.
Akhirnya mereka berempat dirawat di RS Husada Utama Surabaya. Di lantai 14 dengan ruangan sudut berukuran kurang lebih 5×12 m. Ternyata Allah Maha Berkehendak, setelah seminggu dirawat, suami tercinta dipanggil Yang Maha Kuasa.
Selanjutnya, tinggallah mereka bertiga di ruangan tersebut yang terus saling menguatkan satu sama lain  guna melawan penyakit yang mematikan itu. Berikut penuturan dr. Ninoek  Pudjiasih, secara lengkap:
Keluarga kami menempati rumah di Wisma Permai Waru, Sidoarjo. Kami mempunyai 3 anak, yang pertama bernama Helmi (24 tahun) sudah menikah dan tinggal di Jakarta. Adiknya kembar yakni Hafidz dan Hanif (19 thn). Suami saya bernama  Tri Yanuar (52 th) sehari-hari bekerja di BNI Malang. Saya sendiri sebagai dokter dan buka praktek di rumah.
Kami tidak tahu Covid-19 itu dari mana asalnya sebab kami merasa sudah menjaga protokol kesehatan dengan ketat di rumah. Alhamdulillah, yang dekat dengan saya seperti teman satgas, asisten di rumah, hasil swabnya negatif. Juga demikian di kantor suami di Malang, hasil swabnya negatif juga.
Berikut saya akan menceritakan awal-awal suami mulai sakit. Saat itu, Sabtu, 29 Agustus malam 2020,  suami terasa nggreges dan batuk kering. Langsung aku pijat. Saya beri Azitromisin, obat flu dan probiotik untuk diminum. Paginya sudah enakan. Suamiku subuhan ke Masjid Raudlatul Jannah yang ada di kompleks perumahan kami, Perum Wisma Permai, Desa Pepelegi, Waru, Sidoarjo Jawa Timur.
Malam harinya, tiba-tiba suamiku menggigil lagi. Obat demam setiap 4 jam yang saya berikan tak bisa menurunkan demamnya. Di sinilah, saya mulai curiga. “Wah…. Covid-19 ini,” gumamku  dalam hati.
Pada Senin pagi , 31 Agustus 2020, saya ikutan demam. Kepala pusing dan batuk kering. Setelah itu, kami berdua bersama suami langsung ke Rumah Sakit PHC, Perak, Surabaya untuk swab, setelah saya kontak seorang teman, dan sang teman yang juga dokter itu menyarankan berbagai obat.
Pada Selasa, 1 September 2020 hasil swab kami berdua positif . Seketika saya bertindak langsung anak kami yang kembar ( Hafidz dan Hanif) kami swabkan, karena mereka ada batuk-batuk ringan tanpa demam.
Hari Rabu pagi, 2 September 2020, suamiku bertambah demamnya. Saya kontak teman. Alhamdulillah temanku sudah menyiapkan segalanya untuk keluargaku, termasuk ruangan keluarga di RS Husada Utama dan dokternya.
Alhamdulillah di RSHU kami diterima dengan baik dan ditangani dengan cepat.
Saat itu menyusul hasil swab si kembar positif pula.  Alhamdulillah, kami belum terlambat. Kami ditangani dengan baik. Hanya saja suamiku BB >100 kg dan ada diabet 330. Tapi foto rontgen kami berempat sudah ada pneumoninya.
Pada Kamis, 3 September 2020, kami berempat membaik. Semua keluhan sudah  hilang. Demam dan batuk sudah tak  ada lagi. Jumat, 4 September 2020 pagi, visite dokter menyatakan kami baik-baik saja. Tapi mendadak setelah Ashar, suamiku batuk-batuk dan sesak yang datang tiba-tiba . “Ya Allah…Tiba-tiba saturasi oksigen suamiku 80%”.
Para suster bergerak menangani suamiku. Saya pun juga ikut membantu. Saya kuatkan suamiku. Saya pegangi tangannya. Saya tenangkan suamiku.
Saat itu sempat diambil darah dari arteri untuk pemeriksaan.
Ya Allah, pasti sakit ini. Dan tak terasa saya limbung juga. Pandanganku mulai gelap. Saya sudah tak mampu membantu suamiku. Saya direbahkan suster. Dan sampai akhirnya suamiku harus diberangkatkan ke ICU.
Ya Allah… doa kami menyertai keberangkatan suamiku ke ruang ICU.
“Tolong doakan ayah,” kata suamiku ketika didorong menuju ruang ICU.
“Iya ayah…,” kata kami bertiga, waktu itu.
Saat itu juga aku drop lagi. Badanku panas lagi, kepala pusing, mual dan diare. Dan aku tidak mampu  untuk makan sama sekali, karena hilang bau serta rasa. Minyak kayu putih yang selalu kupakai, sudah tak bisa aku hirup baunya. Aku tak mampu “membaca” bau waktu itu.
Si Hanif muntah-muntah. Si Hafidz yang lebih kuat meski pun tampak sedih. Si Hanif yang menempati tempat tidur ayahnya terus memberikan semangat saya. Dia terus mengatakan padaku untuk makan. Untuk lebih kuat. “Ibuk, ibuk harus makan buk,” kata Hanif.
Saat itu aku sudah menyanding  Al-Qur’an di tempat tidurku. Hanya saja, aku tak mampu membacanya. Kepalaku terasa berat dan mata ini melihat huruf seperti dobel.
Ya Allah…aku memohon kepada Allah. Aku hanya istighfar. Memohon kepada Allah dengan membaca doa Nabi Yunus : La illa ha illa anta subhanakainnikuntu minal dzolimin. Serta Hasbunallahwanikmal wakil….
Sementara di sampingku, anak-anakku memanggil aku terus-menerus. “Buk.. ibu.. ibu tak boleh sakit,” kata si kembar.
“Iya le… ibu semangat,” sahutku.
Saya terhentak lagi, setelah petugas ICU pada hari Sabtu 5 September 2020 menelepon untuk minta izin pemasangan NIV ventilator pada suamiku.
“Ya Allah …,” kataku lirih.
Dua hari kemudian mulai bisa berdiri. Aku harus bangkit. Aku doakan suamiku.
Aku minum lagi madu dan probiotik yang ada di meja. Anak-anak, disuapin juga. Semangat. Aku harus bangkit. Suamiku sudah diamanahi Allah untuk mendidik kembarku. Aku sudah merasa bahwa sudah waktunya menerima estafetnya. Kusampaikan kepada anak-anakku bahwa kita harus survive dan kompak.
Pada 7 September kami diswab yang kedua. Hasilnya masih positif.
Tibalah telepon dari ICU berdering yang mengabarkan bahwa suamiku harus pasang ventilator dan izin untuk dibius total. Kami ikhlaskan semoga itu yang terbaik.
Dan kabar itu datang pada Rabu  9 September 2020, pukul  21.00, saya ditelepon petugas  ICU, kondisi suamiku sudah harus resusitasi jantung.
Ya Allah…aku harus ikhlaskan.
Dan jam 21.15 suamiku kembali ke Rahmatullah.
Innalillahiwainnailaihirojiun.
Aku datang ke ICU bersama si kembar. Kulihat suamiku , aku doakan. “Semoga Allah memaafkan kamu ayah, dan menempatkanmu di Jannah-Nya,”doaku.
Kuurus sendiri surat-surat kematiannya. Aku telepon Pak Yunus bagian pemakaman Desa Pepelegi, Waru, Sidoarjo. Juga saya telepon Masjid Raudlatul Jannah tempat kami berjamaah.
Alhamdulillah, Allah mudahkan segalanya. Kami pasrahkan kepada Desa Pepelegi dan masjid Raudlatul Jannah untuk mengurusnya. Alhamdulillah suamiku masih sempat disholatkan.  Alhamdulillah suamiku diterima di Desa Pepelegi, tempat kami tinggal.
Alhamdulillah.
Ya Allah, serampungnya berita pemakaman, saya baru bisa menangis. Saya ditelepon beberapa ustadz untuk memberi kekuatan ke kami.
Alhamdulillah. Saat itu , kusampaikan ke anak-anakku.. ayo kita semangat. Kita harus survive dan kompak. Ayah perlu doa-doa kita. Sedekahkan bacaan Al-Qur’anmu untuk ayah, sedekahkan sholatmu untuk ayah. Kita waktunya balas budi sama ayah. Ayah sudah menjaga amanah-Nya agar kalian jadi anak yang soleh. Jadi amalan kalian saat ini ditunggu ayah.
Si Hafidz keesokannya harus pulang, sebab dia ada kuliah dan praktikum online. Ada praktikum yang  harus diselesaikan. Alhamdulillah dr. Heru mengizinkan. Beliau memberi semangat ke Hafidz dan memberikan no HP-nya, dan berpesan,”Bila ada sesuatu atau perlu apa-apa, silahkan hubungi saya ya Fidz,”.
Hafidz pulang sendirian. Dia di rumah sendirian. Alhamdulillah kami punya tetangga yang baik-baik. Alhamdulillah .
Tinggalah kami berdua, saya dan Hanif di RS. Saya nurut sama dokter. Saya tidak boleh pulang, sebab dokter tidak mau kecolongan seperti suamiku yang terkena Happy Hipoksia akibat Covid-19.
Di mejaku selalu ada probiotik, madu, minyak kayu putih, minyak zaitun dan VCO. Dokterku menyarankan semua dikonsumsi , bahkan beliau lagi penelitian Pemanfaatan VCO. Memang Covid-19 belum ada obatnya, setelah azitromicin dan aseltamivir selesai paketannya ya sudah. Tak  ada obat lagi yang dikonsumsi selain vitamin-vitamin saja.
Yang menjadi obat bagi saya yang tak pernah selesai tinggallah  Al-Qur’an. Alhamdulillah Allah masih memberi kami kesempatan untuk membacanya. Ini obat terkuat kami.
Ya… Allah berilah kami hidayah-Mu, bimbinglah kami, jangan Engkau lepaskan kami walaupun hanya sekejap mata. Al-Quran menjadi obat kami bertiga setelah suami dinyatakan meninggal, sementara kami masih berbaring di rumah sakit. Karena Al-Quran lah, kami bisa tegar dan siap menjalani sisa-sisa hidup ini.
Saya mendengar dan membaca, tidak sedikit kematian suami istri karena covid-19. Sangat bisa jadi kalau suaminya yang meninggal duluan, sementara si istri sama-sama di rawat juga di rumah sakit kemudian menyusul, karena disebabkan terlalu berat berfikir ditinggal suami.
Alhamdulillah, aku diberi ketenangan seusai suami berpulang.
Awal-awalnya shok. Itu sudah pasti. Alhamdulillah aku langsung “lari” ke Al-Quran. Saya membaca Al-Quran sebisanya. Sekali lagi, Alhamdulillah, kekuatan itu datang.
Pesan saya bacalah Al-Qur’an karena di saat sakit, di saat tubuh ini tak mampu membacanya, maka yang tersisa hanya apa yang bisa diucapkan dan diyakini saja. Selebihnya berserah diri untuk memohon kepada-Nya.
Alhamdulillah, kami punya kerabat, tetangga, teman  desa, pasien-pasien, sobat-sobat yang sangat-sangat baik hati ke kami. Mereka mensupport dan mendoakan. Kami tak tahu doa siapa saja yang diijabah hingga kami bisa sehat. Semoga Allah membalas semua kebaikannya, memberikan berkah dan senantiasa melindungi semuanya.
Aamiin.
Sekarang percayalah Covid-19 itu masih ada. Jagalah dirimu dan keluargamu. Kalau bukan kamu yang menjaganya, siapa lagi. Haruskah kamu mengalami seperti yang saya alami? Jangan lupa berdoalah. (*)
( ditulis oleh dr. Ninoek Pudjiasih)