Kakek Dibunuh PKI, Badrut Tamam Selalu Sedih Jika Tiba Hari-Hari Akhir September 

PAMEKASAN (global-news.co.id) – Bupati Pamekasan Badrut Tamam mengajak masyarakat untuk menjaga persatuan demi kejayaan bangsa Indonesia sebagai negara kesatuan. Karena itu dia menilai perlu menghindari tindakan tindakan yang bisa meretakkan kesatuan dan persatuan bangsa.
Ajakan itu disampaikan Badrut Tamam terkait dengan sejarah gerakan kelam G30S/PKI. Badrut Tamam adalah sosok yang mengaku selalu terkenang dan sedih jika memasuki hari hari terakhir tiap bulan September dan awal Oktober. Karena dalam sejarah kelam PKI itu kakeknya bernama KH Jufri Marsuki, jadi korban pembunuhan PKI.
“Sedih dan berduka atas peristiwa itu, karenanya kami mengajak kepada semua masyarakat untuk menjaga persatuan demi kejayaan Indonesia sebagai negara kesatuan. Ayo hindari tindakan tindakan yang bisa meretakkan kesatuan dan persatuan kita sebagai satu bangsa yang beradab,” ujarnya Kamis 1 Oktober 2020 mengenang tragedi PKI 30 September 1965.
Hari ini 1 Oktober 2020 bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peristiwa sejarah di mana Pancasila sakti mampu melewati ujian menghadapi rongrongan ideologi komunisme dari PKI.
“ Kakek saya tewas karena dibunuh orang suruhan PKI dalam perjalanan pulang dari pengajian. Beliau orang yang keras menentang PKI di Madura. Sebelumnya beliau juga orang yang keras menentang penjajahan,” imbuhnya.
Saat ini, kata Badrut Tamam, yang harus dilakukan oleh seluruh elemen bangsa Indonesia adalah mengisi nikmat dan bersyukur dalam bentuk menjaga dan mengisi pembangunan yang menyejahterakan. Sebab dia mengaku keluarganya sebagai bagian dari keluarga yang merasakan pedihnya konflik antara ideologi di Indonesia.
Badrut Tamam menegaskan persatuan dan kemajemukan Indonesia adalah nikmat yang tak terbatas. Karena itu perlu disyukuri dengan menjaga persatuan dan mengisi pembangunan agar semakin maju, serta mendorong kemakmuran yang merata dan berkeadilan.
Dengan cara bersyukur dan menikmati serta mengisi pembangunan secara kompak dan penuh kebersamaan, kata Badrut Tamam, maka bangsa Indonesia ini akan semakin kuat dan memiliki kesempatan besar untuk bisa menjadi bangsa yang maju dan beradab.
Kakek Badrut Tamam almarhum KH Djufri Marzuki, adalah tokoh NU Madura yang tewas dibunuh simpatisan PKI. KH Djufri Marzuki merupakan Rais Syuriah PCNU Pamekasan. Ia dikenal sebagai seorang penceramah sekaligus orator ulung di Pamekasan.
KH Djufri adalah ulama yang disegani di masanya. Tak hanya di Pamekasan dan pulau Madura, melainkan juga dikenal hingga level nasional. Orang tua KH. Marzuki dan Nyai Rofiah itu adalah keturunan Kiai Zubair, pendiri Pondok Pesantren Sumber Anyar Tlanakan, Pamekasan
Ketokohan KH Djufri terlihat ketika pemakamannya, hampir seluruh ulama di Madura hadir. Bahkan tokoh nasional KH. Idham Chalid juga hadir mewakili PBNU. Kiai Idham Chalid menyebut Kiai Djufri wafat karena membela kebenaran, membela NU dan wafat demi Islam. Karena itu dia menilai KH Djufri Marzuki wafat syahid. (mas)