Bukti Konser Daring Bisa Menghasilkan Uang

Konser BTS Map of The Soul ON:E yang digelar secara virtual, Sabtu dan Minggu (10-11/10/2020) disaksikan hampir 1 juta penggemarnya dari 191 negara.

Menyanyi di depan ribuan bahkan jutaan penggemar dan mendapat sambutan meriah tentu jadi dambaan setiap musisi.  Pandemi Covid-19 mengubah semuanya, sekaligus menuntut semua orang berkreasi agar tetap survive, termasuk di dalamnya insan musik. Konser virtual menjadi salah satu cara yang dipilih untuk berekspresi di hadapan publiknya.

KONSER BTS Map of The Soul ON:E yang digelar Sabtu dan Minggu (10-11/10/2020) bisa jadi merupakan hasil kreativitas para insan musik untuk mewujudkan keinginan pemusik berunjuk karya. Protokol kesehatan di masa pandemi yang salah satunya mengharuskan menjaga jarak atau menghindari kerumuman –selain menggunakan masker dan mencuci tangan pakai sabun atau handsanitizer–  membuat boy band asal Korea Selatan ini tampil lewat konser virtual atau konser daring.

Hasilnya, hampir 1 juta penggemar BTS dari 191 negara dan kawasan bisa menyaksikan penampilan RM, Jin, Suga, J-Hope, Jimin, V, dan Jungkook yang tiketnya dibanderol Rp 600 ribuan tersebut dari rumahnya masing-masing. Kalau diselenggarakan seperti konser-konser lain sebelum adanya pandemi, bisa jadi penontonnya tak datang dari begitu banyak negara.

Awalnya, mendasarkan konser konser Map of the Soul ON:E ini akan digelar secara online dan offline hanya di Seoul Korea. Namun gelombang kedua Covid-19 di Korea Selatan memaksa Big Hit selaku penyelenggara menggelar konser itu hanya secara virtual.

Meski digelar secara virtual, konser itu tak hanya memuaskan artis tapi juga mampu mengurangi kerinduan ARMY –sebutan bagi penggemar BTS—menyaksikan idolanya yang seharusnya menggelar tur dunia Map of the Soul sejak April 2020 lalu. Tur tersebut terpaksa dibatalkan akibat pandemi Covid-19 dan diganti dengan konser live dari rumah yang disebut Bang Bang Con: The Live pada Juni lalu.

Konser live dari rumah juga menjadi pilihan almarhum Didi Kempot. Di tengah pandemi, penyanyi campursari itu berinisiatif mengumpulkan dana untuk disalurkan kepada masyarakat yang terdampak ekonominya akibat wabah Covid-19. Sebanyak Rp 7,6 miliar berhasil dikumpulkan dalam kegiatan yang ditayangkan KompasTV tersebut.

Bermusik secara virtual juga menjadi pilihan Donny Hardono.  Pendiri Don Sistem Suara (DSS) ini mengungkap, konser virtual ini merupakan konsep yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.  Selain untuk memenuhi keinginan masyarakat yang haus pertunjukan musik, konser virtual yang disebut Konser 7 Ruang ini dia selenggarakan juga sebagai upaya memberikan wadah bagi para pekerja seni serta tim produksi untuk tetap bisa bekerja di masa pandemi.

“Saya mengubah rumah saya menjadi delapan ruangan, yang satu saya pakai untuk control room, yang tujuh untuk semua musisi yang akan saya ajak bekerja sama. Karena dengan tidak dibagi tujuh, saya rasa saya melanggar protokol Covid-19,” ucap Donny yang mengembangkan teknik untuk melakukan konser secara virtual dengan kualitas baik sebagaimana dikutip kompas.com.

Menyesuaikan ruang, musisi yang diajak bekerja sama pun berjumlah tujuh orang, sehingga setiap ruangan hanya berisikan satu orang saja. Selain melakukan disinfeksi pada ruangan yang digunakan, setiap pihak yang bekerja sama pun harus menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Diungkapkan, Konser 7 Ruang ini terinspirasi dari kekurangan konser virtual yang biasa dilakukan melalui ruang digital dan mengalami keterlambatan audio serta gambar. Untuk menghindari hal tersebut, konser dapat dibuat dengan menggabungkan beberapa klip video dari setiap musisi.

Risikonya, konser tersebut tidak dapat berlangsung secara live karena harus melalui proses editing terlebih duhulu. “Kemudian saya buat tempat (tujuh ruangan) seperti ini, tanpa ada kelambatan, tanpa harus editing, kita bisa live sampai 10 jam nonstop,” lanjut Donny tentang asal usul dibuatnya Konser 7 Ruang.

Lewat Konser 7 Ruang  yang biasa digelar saban akhir pekan di channel YouTube ini, dia melalui musisi yang tampil mengajak masyarakat berdonasi.  Donasi itu lantas dibagikan kepada 77 karyawan perusahaannya, pekerja seni dan tim produksi yang terlibat. Namun tidak menutup kemungkinan untuk siapa yang jadi sasaran pemusik yang tampil.  Seperti konser yang menampilkan para alumni SMAN 3 Malang, para alumni  di berbagai kota dalam dan luar negeri bergotong royong mengumpulkan dana untuk para guru mereka.

Menariknya, lewat media ini para penonton dan pemusik yang tampil bisa saling menyapa melalui kolom chat. Dan dari belahan bumi mana pun bisa terhubung sepanjang ada jaringan internet.

Menanggapi fenomena konser virtual ini, pengamat musik Frans Sartono mengatakan, karena menikmati musik tidak cukup hanya mendengar dari CD/kaset/ materi auditif saja. “Orang butuh suguhan hidup yang dimainkan langsung.  Nah yang mereka nikmati itu bukan hanya unsur auditif saja, tapi juga visual. Bagaimana yang auditif itu diekspresikan oleh si artis. Itu menjadi kebutunan penikmat,” ujar mantan Direktur Bentara Budaya Jakarta ini.

Dia menyebut, dalam konser tersebut muncul interaksi langsung antara artis dan penikmat. “Maksudnya apa yang dimainkan artis saat itu langsung direspons oleh penikmat,” lanjutnya.

Sebagai penikmat musik, Utiek mengaku cukup terhibur seiring kerap munculnya konser daring.  “Asal sound-nya bagus ya enak, apalagi kalau mendengarkan pakai headphone.  Akan lebih asyik lagi kalau tayangan YouTube itu dibuka lewat layar TV dan disambungkan ke speaker dan subwoofer tambahan, wah itu makin asyik, karena gambarnya jadi lebih bisa dilihat,” ujar ibu satu anak ini.

Pada dasarnya bukan seni musik saja yang bisa disaksikan secara virtual, seni teater, seni tari pun bisa ditampilkan.  Dicontohkan teater yang dimainkan Butet Kertaradjasa di Galeri Indonesia Kaya yang terbukti ada penontonnya.

“Namun mungkin baru grup musik atau penyanyi yang disukai umum atau artis yang punya basis penggemar yang  berpotensi untuk berkonser online secara berbayar,” ujarnya.

BTS adalah salah satu contoh artis yang punya basis penggemar, tak heran jika penikmat konsernya bisa mendekati 1 juta meski mereka harus merogoh kocek dalam untuk pertunjukan secara virtual.

Di Indonesia,  Erwin Gutawa menjadi salah satu musisi yang awal mula mengadakan konser virtual berbayar di tengah pandemi. Konser bertajuk “Orkestra di Rumah” yang digelar Mei lalu, menghadirkan 50 musisi lain.

Erwin bekerja sama dengan Loket.com yang menyediakan platform untuk menyiarkan konser. Harga tiket dibanderol mulai dari Rp50 ribu sampai Rp2 juta yang sebagian keuntungannya disalurkan ke tim medis dan masyarakat terdampak corona.

VP Commercial Loket, Ario Adimas, mengatakan,  Orkestra di Rumah menjadi konser dengan penjualan tiket dan penonton terbanyak di Loket.com. Total penjualan tiket kurang lebih mencapai Rp 400 juta dengan sekitar 6.000 penonton.  “Konser ini cukup membuka mata musisi yang awalnya berpendapat bahwa konser virtual tidak menghasilkan. Buktinya ini menghasilkan,” kata Dimas sebagaimana dikutip cnnindonesia.com.

Alternatif pertunjukan musik yang digelar terkait pandemi ini adalah Drive in Concert yang diselenggarakan di JI Expo Kemayoran Jakarta pada Agustus lalu dengan penampil Kahitna serta Armand Maulana dan Afghan. Lewat konser ini, meski membayar tiket berbanderol Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta ini penonton harus puas menyaksikan artis idolanya dari dalam mobil yang hanya boleh memuat 2 orang.

Frans mengakui, konser daring ini memiliki “hambatan”. Karena interaksi antara atis dan penikmat terpisah oleh ruang. “Akan tetapi karena ini situasi pandemi, model show daring ini menjadi pilihan,” pungkasnya. retno