Pilkada Surabaya, Figur Calon Jadi Kekuatan Krusial untuk Menang

Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Bangkalan Surokhim

SURABAYA (global-news.co.id) –
Pilkada Surabaya yang rencananya akan digelar pada 9 Desember 2020, meninggalkan dua kandidat yang akan bertarung. PDIP tanpa koalisi  mengusung Eri Cahyadi-Armuji, sedang PKB yang berkoalisi dengan  Demokrat, Golkar, NasDem, PKS, PPP dan PAN mengusung Machmud Arifin-Mujiaman.
Menurut Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Bangkalan Surokhim  jika  dalam  pilkada langsung, banyaknya partai tidak menjamin kandidat bisa menang, namun kekuatan figur akan menjadi poin krusial karena voters sedang memilih pemimpin. FIgur untuk memimpin Kota Surabaya tidak hanya butuh plus saja,  tetapi butuh plus plus lebih banyak karena kompleks dan heterogennya voters Surabaya.
“Artinya dalam pemilu langsung, saya pikir kader partai tidak terlalu menjadi faktor krusial karena mereka telah melewati kandidat seleksi alam dan seleksi oleh partai yang relatif ketat. Bahkan menurut saya semestinya hal itu harus dijadikan faktor plus guna menguatkan dukungan ceruk-ceruk voters di luar basis partai yang selama ini menjadi angka bebas dan pemilih liar,” katanya, Kamis (3/9/2020).
Itu artinya, tambah Surokhim, MA dan Eri sejatinya sedang berkontes untuk meyakinkan kepada voters yang beragam dan kompleks itu dengan berlomba-lomba memperlihatkan surplusnya sehingga bisa menarik voters yang kian bebas dan sulit. Baik  MA maupun  Eri masing masing punya keunggulan juga punya kelemahan yang bisa disandingkan.
Bagaimana agar keunggulan itu menjadi daya saing dan kelemahan itu, lanjutnya bisa diminimalisasi sehingga bisa menarik perhatian pemilih golput 11% dan pemilih undecided dan swing voters yang masih relatif tinggi di kisaran 35%. “Butuh ekstra kerja keras untuk bisa menarik voters Surabaya sebanyak 2,1 juta yang beragam dan lagi-lagi itu usaha yang tidak akan mudah bagi para kontestan,”lanjutnya.
Lalu bagaimana dengan support penuh Walikota Surabaya Tri Rismaharini pada  pasangan Eri- Armuji, masih menurut Surokhim  biasanya yang selama ini terjadi  dan jika menilik tren data memang begitu linear antara tingkat kepuasan kinerja dengan tingkat dukungan voters, kendati kadang ada sedikit anomali dan tidak selalu baku seperti kasus Ahok di DKI.
Menurutnya figur Risma tetap punya pengaruh apalagi jika  Risma kian terbuka menyampaikan dukungan secara verbal tentu bisa menjadi reinforcement penguat suara sebagaimana peran influencer dan aktor patron untuk pasangan tertentu.
Sementara  terkait identifikasi itu kadang pemilih rasional bisa membandingkan antara kapasitas kapabilitas dan kompetensi , sehingga ini juga akan menjadi hal menarik nanti untuk insentif elektoral jika kandidat yang didukung Risma bisa menunjukkan kapasitas kapabilitas dan kompetensi sesuai ekspektasi voters.
“Saya pikir akan menjadi insentif, tetapi jika tIdak sesuai harapan maka tentu akan menjadi faktor pemberat. Jadi semua akan sangat tergantung pada kandidat yang ikut kontes seberapa kuat bisa memenuhi ekspektasi pemilih Surabaya,  khususnya pemilih rasional yang tumbuh signifikan,” ujarnya.
Bagaimana dengan pendukung Whisnu Sakti (WS) yang kecewa atas keputusan DPP PDIP dan kemungkinan adanya penggembosan terhadap pasangan Eri-Armuji, menurut Surokhim di mana- mana partai selalu ada friksi dan faksi, semua itu hal yang lumrah.  Apalagi semua berharap bisa ikut kontestasi. Tapi jika melihat tipikal dan ciri kekhasan parpol PDIP  termasuk parpol yang relatif lebih mudah monyolidkan dukungan internal karena tipikal partai komando. “Jika pun ada riak-riak kekecewaan saya pikir tidak akan disampaikan terbuka dan laten sifatnya. Saya pikir fenomena pengembosan internal itu kecil peluangnya. Mengingat struktur partai yang mapan dan sistem komando pusat yang kuat yang tidak memungkinkan PDIP mendapat  perlawanan dari bawah,” katanya.
Dikatakan Surokhim, kekuatan kepemimpinan simbolik PDIP relatif sangat kuat saat ini. Apalagi jika kemudian Wishnu Sakti dikompensasi dengan penugasan khusus, akan memudahkan kembali konsolidasi kultural dan struktural di PDIP Kota Surabaya.
“Saya pikir penyataan terbuka  WS secara tersirat akan cukup meredam kekecewaan pendukungnya dan Bu Mega harus bisa memberi penugasan khusus untuk WS untuk penguatan dukungan kader arus bawah PDIP Kota Surabaya,” ungkapnya. cty