Penyerapan Anggaran PEN Lamban, Dunia Usaha Terancam Kolaps

Dunia usaha membutuhkan suntikan dana untuk tetap eksis di Tanah Air di tengah pandemi.

JAKARTA (global-news.co.id) –  Penyerapan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) disorot oleh berbagai pihak. Pasalnya, hingga kini dana itu baru terserap Rp 192,5 triliun dari pagu anggaran senilai Rp 695,2 triliun.

Ekonom CORE Indonesia Piter Abdullah menyebut bila anggaran itu tak segera direalisasi dikhawatirkan bisa membuat pelaku usaha kolaps. Karena, kini mereka membutuhkan suntikan dana untuk tetap eksis di dunia usaha Tanah Air.

“Seharusnya pemerintah meningkatkan penyerapan, agar bantuan bisa didistribusikan secara cepat dan tepat. Masyarakat dan dunia usaha bisa terbantu, tidak kolaps,” kata Piter, Selasa (1/9/2020).

Menurut dia, pemerintah harus berani mengambil risiko agar dana itu cepat tersalurkan. Salah satu strateginya adalah dengan memangkas birokrasi. “Harus ada terobosan kebijakan, memangkas birokrasi. Syaratnya ada keberanian mengambil risiko,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Adi Budiarso menyebut, realisasi dana PEN itu cukup menggembirakan.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat ((DPR), Adi Budiarso merinci realisasi PEN di sejumlah sektor seperti kesehatan yang sudah mencapai Rp 12,3 triliun dari pagu Rp 87,55 triliun, perlindungan sosial Rp101,06 triliun dari pagu Rp 203,9 triliun.

“Kemudian, realisasi di pos sektoral kementerian dan lembaga (KL) dan Pemda (pemerintah daerah) mencapai Rp 14,91 triliun dari pagu anggaran Rp 106,11 triliun, kemudian insentif usaha mencapai Rp 17,23 triliun dari pagu Rp 120,61 triliun,” ujarnya.

Sementara itu angka penularan pandemi virus Corona di Indonesia belum menunjukkan adanya tren penurunan. Fenomena itu pun akan berlanjut kepada pertumbuhan perekonomian di Tanah Air yang akan terus bergerak melambat. “Selama wabah masih berlangsung seperti sekarang ini, perekonomian jelas pasti tetap akan melambat, di bawah normal,” kata Piter.

Menurut dia, anggaran stimulus sebesar Rp 695,2 triliun dalam Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tak akan berguna bila kasus COVID-19 tetap tinggi. Sehingga, dibutuhkan keseriusan dari pemerintah dalam penanganan wabah ini. “Anggaran stimulus itu utamanya untuk meningkatkan daya tahan saja, agar tidak mati duluan,” ujarnya.

Pemerintah kembali melaporkan jumlah kasus positif COVID-19 di Tanah Air. Tercatat kasus positif virus Corona (COVID-19) hingga 31 Agustus 2020 bertambah 2.743 kasus. Sehingga akumulasi sebanyak 174.796 orang.

Jumlah ini merupakan hasil tracing melalui pemeriksaan sebanyak 15.305 spesimen yang dilakukan dengan metode real time Polymerase Chain Reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).  dja, wah, sin, ins