Lewat PBOX, Mahasiswa ITS Bantu Salurkan Logistik Kemanusiaan

Wahyu Nur Hidayatun Nisa dan Maulidia Putri Azuningrum, mahasiswa ITS yang membuat inovasi Pelra Box (PBOX), berupa alat angkut untuk penyaluran logistik kemanusiaan di wilayah kepulauan.

SURABAYA (global-news.co.id) –
Masa pandemi Covid-19 saat ini bukanlah halangan untuk terus berinovasi. Seperti halnya yang dilakukan oleh dua mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang membuat inovasi Pelra Box (PBOX), berupa alat angkut untuk penyaluran logistik kemanusiaan di wilayah kepulauan.
Kedua mahasiswa tersebut adalah Wahyu Nur Hidayatun Nisa dan Maulidia Putri Azuningrum. Lewat kompetisi bertemakan Peran Bidang Kemaritiman untuk Mewujudkan Indonesia Berintelektual pada Masa Pandemi, mahasiswa Departemen Teknik Transportasi Laut (DTTL) ini membawakan esai dengan judul Desain Konseptual Pelra Box (PBOX): Alat Angkut Penyaluran Logistik Kemanusiaan di Wilayah Kepulauan.
Wahyu menuturkan, PBOX merupakan alat yang terbuat dari kayu dan triplek melamin yang berfungsi layaknya petikemas. PBOX dapat dilipat ketika tidak berisi muatan, sehingga dapat memudahkan operasional karena tidak memakan tempat ketika kosong. “Penggunaannya sama dengan petikemas biasa, hanya saja dalam desain yang kami bawa itu lebih kecil dan ringan,” ujarnya, Senin (21/9/2020).
Menurut Wahyu, ide untuk membuat inovasi tersebut bermula dari persebaran virus Corona di Indonesia yang tak kunjung reda dan menyebar ke seluruh negeri, tak terkecuali di wilayah kepulauan. Maka sangat penting untuk melakukan pemerataan bantuan logistik kemanusiaan yang menyeluruh ke pelosok negeri.
Sebelum pandemi terjadi, segala jenis kebutuhan untuk wilayah kepulauan disalurkan melalui jalur laut dari Jawa ke pelabuhan-pelabuhan besar di luar Jawa. Kemudian disalurkan dengan kapal yang lebih kecil menuju pulau-pulau kecil. “Hal ini terjadi karena tidak semua wilayah di Indonesia itu dapat disinggahi oleh kapal besar (petikemas atau general cargo), terutama wilayah kepulauan,” jelas Wahyu.
Selain disebabkan tidak memiliki pelabuhan untuk bersandar, lanjutnya, kedalaman perairannya juga tidak memungkinkan untuk dilintasi kapal besar. Sehingga hal tersebut cukup memakan banyak waktu. “Karena pada dasarnya bantuan logistik kemanusiaan seharusnya didatangkan dengan cepat, namun tidak semua wilayah dapat disinggahi oleh kapal besar,” ungkap Wahyu.
Sehingga, imbuhnya, dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan atau mendatangkan bantuan logistik itu masyarakat menggunakan Kapal Rakyat yang memiliki draft pendek. Oleh karena itu, Kapal Rakyat diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Namun, sambung Putri, masih terdapat beberapa permasalahan, mulai dari ukuran hingga kapasitas alat bongkar muat yang dimiliki. “Selain itu, penggunaan kapal rakyat ini juga memiliki peluang kerusakan dan kehilangan muatan yang cukup tinggi,” terang Putri.
Melihat kondisi tersebut, maka dirancanglah inovasi PBOX ini. Karena berdasar pada fungsinya, PBOX akan dapat meminimalisir kerusakan dan kehilangan muatan hingga 1,5 persen serta mempercepat proses bongkar muat 25 persen dari total waktu eksisting.
Angka ini didapatkan dari hasil membandingkan antara perhitungan tingkat kerusakan dan kehilangan muatan kondisi eksisting dan setelah inovasi. Pada kondisi eksisting itu ada tingkat kerusakan dan kehilangan muatan dengan rata2 1,5 – 8 persen. “Setelah adanya inovasi, kehilangan muatan itu hampir tidak ada karena semua barang sudah dikontainerkan sejak sebelum tiba di pelabuhan,” jelas Wahyu lagi.
Selain itu, tambah Wahyu, tuntutan karakteristik lead time yang pendek dari sisi logistik kemanusiaan menyebabkan perlunya efisiensi handling muatan. Utamanya dalam proses bongkar muat jika dengan proses inovasi ini yang akan lebih cepat hingga 25 persen dari kondisi eksisting.
Wahyu menuturkan bahwa PBOX memiliki ukuran 1,5 x 1 x 1 dalam satuan meter. Jika dalam perhitungan, alat ini mampu diisi dengan 180 kilogram (setara dengan 12 kardus sembako/bantuan). “Alat ini diprediksi memiliki umur ekonomis satu tahun,” tuturnya.
Inovasi PBOX ini sudah diakui secara nasional, terbukti ketika berkompetisi dalam lomba esai kemaritiman di Kompetisi Nasional Kemaritiman (KONKA) 2020, gagasan ini berhasil menyabet juara pertama. Wahyu dan Putri berhasil memamerkan idenya dalam kompetisi yang diadakan oleh Universitas Hasanuddin, awal September lalu.
Tak hanya dari segi teknis, Wahyu dan Putri juga berharap PBOX dapat berperan dalam mendukung kebijakan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19 dengan meminimalisir penularan melalui kontak antara muatan – disinfektan, muatan – Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), dan sesama TKBM.
Harapan ke depannya, desain ini dapat disempurnakan mulai dari material yang cocok digunakan, kekuatan, dan lain-lain. Lalu dibuatlah prototipe untuk diujikan di lapangan, sehingga bisa diketahui kelayakan dari inovasi ini secara nyata. “Harapannya juga kegiatan keilmiahan seperti ini bisa diikuti oleh lebih banyak mahasiswa lagi dalam rangka mengisi waktu luang selama pandemi,” pungkasnya. tri