Lenyapnya Virus-virus Mematikan, Kapan Covid-19 Menyusul?

Virus Covid-19, mungkinkah lenyap seperti virus SARS?

Sudah sembilan bulan ini perhatian masyarakat dunia tertuju pada Covid-19, penyakit  baru yang ditemukan pertama kali di Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019. Banyak yang berubah sejak satu per satu pasien Covid-19 ditemukan di berbagai negara. Bahkan di antara mereka meninggal dunia.  Maka banyak yang bertanya kapan virus corona baru, SARS-CoV-2, yang menimbulkan pandemi ini lenyap dari muka bumi? 

LENYAPNYA  virus memang dimungkinkan, dan itu terjadi pada beberapa virus.  Sebut saja virus SARS, cacar, dan rinderpest. Para ilmuwan mengungkapkan beberapa jenis virus menghilang tanpa jejak, sedangkan lainnya masih bertahan hingga berabad-abad.

Menghilangnya beberapa virus begitu saja, memunculkan misteri dan tanda tanya bagi para ilmuwan. Salah satunya virus cacar kuno yang ditemukan para ilmuwan Inggris yang terdapat pada 37 kerangka, yang diduga para korban eksekusi lebih dari seribu tahun lalu. Kerangka-kerangka ini ditemukan di lahan St John’s College di Oxford dan saat para ilmuwan menganalisis DNA jasad-jasad ini, di antaranya menderita cacar.

Menariknya, sebagaimana ditulis BBCIndonesia, virus cacar yang ditemukan dalam beberapa jasad tersebut, bukan jenis yang sama di sepanjang sejarah modern. Sebab, virus cacar di masa yang lebih modern telah punah pada tahun 1970-an, ketika program vaksinasi dilakukan secara masif.

Jauh sebelum Covid-19 merebak dan jadi pandemi, dunia pernah dihebohkan SARS (Severe acute respiratory syndrome) atau infeksi saluran pernapasan berat disertai dengan gejala saluran pencernaan yang disebabkan oleh coronavirus.

Keberadaan virus ini pertama kali diketahui pada 10 Februari 2003, setelah kantor Badan Kesehatan Dunia (WHO) di Beijing menerima surat elektronik (surel) berisi cerita tentang “penyakit menular aneh” yang telah menewaskan 100 orang dalam kurun sepekan. Kasus-kasus pertamanya terjadi di Guangdong, sebuah provinsi di pesisir tenggara Tiongkok yang terkenal dengan banyak restoran yang menyajikan daging eksotis. Dua tahun kemudian, virus tersebut telah menginfeksi sedikitnya 8.096 orang, 774 di antaranya meninggal dunia.

Seperti kerabat dekatnya Covid-19, SARS punya banyak potensi untuk mendominasi dunia. Ia adalah virus RNA, yang artinya, mampu berevolusi dengan cepat dan penularannya melalui percikan air atau droplet yang dikeluarkan saat orang bernapas maupun berbicara dan ini sulit dihindari.

Pada waktu itu banyak ilmuwan khawatir virus tersebut berpotensi menyebabkan kehancuran dalam skala yang sama dengan krisis HIV atau bahkan pandemi flu 1918 yang menginfeksi sepertiga populasi dunia dan menewaskan 50 juta jiwa.

Akan tetapi yang mengejutkan, tiba-tiba SARS menghilang secepat kemunculannya. Pada Januari 2004, hanya ditemukan sedikit kasus. Dan pada akhir bulan, dugaan infeksi alami terakhir diumumkan.

Sarah Cobey, ahli epidemiologi di University of Chicago, mengatakan, SARS akhirnya punah berkat kombinasi tindakan penelusuran kontak yang canggih, serta sifat unik dari virus itu sendiri. Virus SARS adalah salah satu virus mematikan, sebab, saat pasien terinfeksi maka akan mengalami sakit yang parah. Tingkat kematian akibat infeksi virus tersebut sangat tinggi, hampir  satu dari lima pasien meninggal.

Namun, masa inkubasi virus SARS relatif lebih lama, sehingga para tenaga kesehatan memiliki banyak waktu untuk melakukan tracing untuk menemukan siapa saja yang tertular dan mengarantina mereka. Kendati demikian, tanpa upaya global untuk mengeliminasi SARS, dan sifat bawaan dari virus tersebut yang membuatnya lebih mudah dihadapi, hampir dipastikan pandemi itu akan memburuk dan tidak terkendali.

Selain SARS, ada dua virus lain yang didorong ke ambang kepunahan, yakni cacar dan rinderpest, yang menginfeksi hewan ternak. “Tidak mudah, sangat sulit saat Anda mendapat virus yang telah beradaptasi dengan baik,” ujar Stanley Perlman, ahli mikrobiologi di Universitas Iowa.

Akhir perang dengan kedua virus tersebut telah dilakukan dengan vaksin, yang juga dipastikan akan mengeliminasi polio. Angka kasus polio dikabarkan telah menurun hingga 99% sejak tahun 1980-an.

Tampaknya, virus campak juga akan menyusul virus polio menuju kepunahan, meski saat ini upaya itu terhambat oleh perang, yaitu gerakan antivaksin dan Covid-19.

Beberapa Tidak Punah

Sayangnya, beberapa virus kemungkinan tidak akan punah, karena manusia bukan satu-satunya inang mereka. Pada manusia, wabah Ebola telah berakhir beberapa kali. Setidaknya ada 26 wabah di Afrika sejak virus tersebut ditemukan pada 1976, dan ini wabah yang menyebabkan cukup banyak kasus untuk dicatat oleh otoritas kesehatan.

Wabah cenderung terjadi ketika virus melompat dari hewan – biasanya kelelawar – ke manusia, yang kemudian menginfeksi manusia lain. Selama ada kelelawar, virus itu mungkin akan selalu ada, terlepas dari apakah ada satu orang pun yang terinfeksi di seluruh planet ini.

Ilmuwan mengungkapkan dari enam spesies Ebola, hanya ada satu vaksin untuk satu spesies, yakni yang menewaskan 11.000 orang di Afrika Barat antara 2013 dan 2016.

“Pada SARS menghilang karena tidak ada inang yang jelas,” kata Perlman.

SARS diduga melompat ke manusia dari musang palem, mamalia hutan yang dianggap sebagai makanan lezat di Tiongkok. Meski begitu, Perlman menyebut virus tidak begitu saja kembali ke spesies ini, karena inang tersebut juga biasanya tidak terinfeksi. Kemungkinan saja, kelelawar menjadi salah satu dari penyebab penularan ke manusia.

Namun, hal ini tidak dapat dikatakan sama pada Covid-19, yang diperkirakan juga berasal dari kelelawar. “Dengan Covid-19, reservoar-nya sekarang adalah kita (manusia),” imbuh Perlman.

Faktanya, SARS-CoV-2 telah menjadi virus yang begitu khas manusia, sehingga para ilmuwan bertanya-tanya apakah virus ini malah akan menular dari manusia ke satwa liar dan ini akan membuatnya menjadi lebih sulit dibasmi. Dugaan ini membawa kita ke skenario lain yang mungkin, yakni virus yang terus menerus ada pada manusia. Meskipun mereka bisa jadi ada bersama spesies kita selamanya, ternyata garis keturunan virus individu menghilang secara teratur.

Tentu saja, ini tidak berarti upaya kita membasmi virus tidak ada gunanya. Bahkan, Cobey berpikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk berfokus mengurangi patogen manusia.

“Saya harap waktu ini kita bisa memikirkan, penyakit apa yang akan kita usahakan untuk dimusnahkan. Ada banyak patogen di luar sana – kebanyakan orang tidak paham seberapa banyak,” ujarnya.

Siapa tahu, mungkin Covid-19 akan menginspirasi revolusi ilmiah baru. Dan gagasan terkena beberapa jenis demam atau flu setiap tahun akan menjadi asing buat kita seperti halnya penyakit cacar. * ret