Krisis Finansial, All England 2021 Terancam Batal Digelar

Ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti  juara  All England 2020

SURABAYA (global-news.co.id) – Turnamen bulutangkis All England 2021 terancam batal digelar. Krisis finansial akibat pandemi Covid-19 yang dialami Asosiasi Bulutangkis Inggris menjadi alasan tersendatnya keberlangsungan turnamen bulutangkis tertua di dunia tersebut.

Kepala eksekutif Asosiasi Bulutangkis Inggris, Adrian Christy, mengatakan kebijakan pemerintah yang melarang kehadiran penonton pada setiap kejuaraan olahraga hingga enam bulan ke depan dapat membuat asosiasinya merugi jika tetap memaksa menggelar All England tahun depan.

“Sayangnya, setelah pengumuman terbaru dari pemerintah, kami melihat adanya kemungkinan jika Yonex All England 2021 tidak dapat digelar untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II,” ujar Christy dalam laman resmi All England Badminton, Selasa (29/9/2020).

Padahal menurutnya, All England merupakan salah satu ajang olahraga dengan jumlah penggemar yang luar biasa. Kurang lebih 31.000 penonton setiap tahunnya bisa memenuhi National Indoor Arena, Birmingham. Namun situasi pandemi Covid-19 membuat penyelenggaraan All England 2020 harus digelar tanpa penonton. Praktis, penyelenggara harus kehilangan salah satu sumber pemasukan utama mereka.

Jika situasi Covid-19 belum mereda dan aturan larangan penonton masih berlaku hingga enam bulan ke depan, Asosiasi Bulutangkis Inggris merasa tak sanggup jika harus kembali kehilangan pendapatan dari tiket pada kompetisi yang biasa diselenggarakan pada Maret itu. “Kami telah mengalami kerugian pendapatan yang sangat besar yakni 1,75 juta pound karena tidak adanya penonton saat kejuaraan. Kondisi ini membuat organisasi kami kesulitan untuk bisa bertahan.”

Christy meminta pemerintah untuk memberikan dukungan finansial sebesar 1 juta pound demi menyelematkan turnamen All England dari pembatalan tahun depan. “Prioritas utama adalah keberlanjutan bulutangkis di Inggris, dan All England merupakan bagian utama dari perekomian kami,” ujarnya.

“Maka saya sekarang meminta pemerintah untuk memberikan dukungan finansial sebesar 1 juta pound untuk menyelematkan All England,” pungkasnya.

Apabila All England benar-benar batal digelar tahun depan, maka itu akan menjadi peristiwa bersejarah. Ini merupakan kali pertama All England dibatalkan sejak Perang Dunia II. Kejuaraan bulutangkis yang sudah diadakan sejak 1899 itu pernah mengalami pembatalan dua kali saat Perang Dunia II.

Pada turnamen bulutangkis All England Open 2020 yang diselenggarakan tanpa penonton pada 11-15 Maret 2020 lalu, Indonesia hanya menyabet satu gelar juara yaitu ganda campuran (Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti). Sedang di kategori ganda putra, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menjadi runner up setelah ditumbangkan oleh unggulan ke-enam dari Jepang Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe.

All England Open 2020 menjadi rangkaian terakhir turnamen BWF Super Series karena Federasi Bulu tangkis Dunia (BWF) telah mengeluarkan keputusan mengenai penangguhan terhadap seluruh turnamen berkaitan dengan penyebaran Covid-19 di berbagai belahan dunia.

Sejumlah turnamen yang terkena dampak dari keputusan penangguhan tersebut, di antaranya Swiss Open 2020, India Open 2020, Orleans Masters 2020, Malaysia Open 2020 dan Singapore Open 2020, serta beberapa turnamen internasional lainnya.ret