Konflik Nagorno Karabakh, OKI Kutuk ‘Agresi’ Armenia

 

OKI mengutuk serangan Armenia terhadap Azerbaijan dan menyerukan solusi politik untuk konflik kedua negara.

JEDDAH (global-news.co.id)  – Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengutuk serangan Armenia terhadap Azerbaijan dan menyerukan solusi politik untuk konflik kedua negara.
“OKI mengutuk keras provokasi dan agresi berulang oleh pasukan militer Republik Armenia, OKI memperbarui solidaritasnya dengan Republik Azerbaijan dan menarik kembali resolusi dan keputusan terkait OKI dan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata OKI dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Anadolu, Selasa (29/9/2020).
Organisasi itu mengatakan sedang memantau dengan keprihatinan yang mendalam atas agresi Armenia dalam menargetkan beberapa lokasi di tetangganya di timur dan melanggar gencatan senjata dan menyebabkan korban sipil.
“(OKI) menyerukan penarikan penuh dan tanpa syarat pasukan Armenia dari wilayah Azeri yang diduduki dan untuk dialog guna mencapai solusi politik untuk konflik antara kedua negara berdasarkan penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Republik Azerbaijan, dan perbatasan yang diakui secara internasional tidak dapat diganggu gugat,” kata OKI.
Sekretariat Jenderal OKI juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para martir, serta pemerintah dan rakyat Azerbaijan dan berharap mereka yang terluka segera sembuh.
Bentrokan di perbatasan meletus pada Minggu pagi ketika pasukan Armenia menargetkan pemukiman sipil Azerbaijan dan posisi militer, yang menyebabkan jatuhnya korban.
Parlemen Azerbaijan kemudian mengumumkan keadaan perang di beberapa kota dan wilayahnya menyusul pelanggaran perbatasan Armenia dan serangan di wilayah Nagorno-Karabakh yang diduduki.
Hubungan antara kedua negara bekas Soviet itu dipenuhi ketegangan sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Karabakh Atas, atau Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.
Empat Dewan Keamanan PBB dan dua resolusi Majelis Umum PBB, serta banyak organisasi internasional, menuntut penarikan pasukan pendudukan.
OSCE Minsk Group – diketuai bersama oleh Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat (AS) – dibentuk pada tahun 1992 untuk menemukan solusi damai atas konflik tersebut, tetapi tidak berhasil. Meski begitu gencatan senjata disepakati pada  1994.
Prancis, Rusia dan NATO, antara lain, mendesak penghentian segera bentrokan di wilayah pendudukan.

Perang Makin Meluas
Hampir 100 orang, termasuk warga sipil, tewas saat pertempuran berkecamuk antara pasukan Armenia dan Azerbaijan atas wilayah Nagorno-Karabakh yang disengketakan.
Daerah kantong pegunungan itu diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, tetapi telah dikelola oleh orang-orang Armenia sejak perang berakhir pada tahun 1994.
Armenia telah melaporkan 84 kematian anggota militernya, serta korban sipil, sejak perang pecah pada Minggu kemarin. Sedangkan Azerbaijan belum mengungkapkan kerugian yang diderita militernya, tetapi telah mengonfirmasi tujuh kematian warga sipil seperti dilansir dari BBC, Selasa (29/9/2020).
Pertempuran yang pecah tiga hari lalu sekarang tampaknya meluas di Nagorno-Karabakh.
Kementerian Pertahanan Armenia mengatakan sebuah bus penumpang telah diserang oleh pesawat tak berawak Azerbaijan di Kota Vardenis di Armenia Timur Selasa kemarin. Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Sementara Azerbaijan sebelumnya mengatakan dua warga sipil tewas dalam serangan yang dilakukan oleh Armenia pada Senin, menyusul kematian lima orang dari keluarga yang sama sehari sebelumnya.
Pertempuran itu adalah yang terberat yang pernah terlihat dalam konflik kedua negara sejak 2016, dan Selasa malam Dewan Keamanan PBB akan mengadakan pembicaraan darurat tentang masalah tersebut.
Baik Armenia maupun Azerbaijan – yang telah memobilisasi lebih banyak tentara dan mengumumkan darurat militer di beberapa daerah – saling menyalahkan karena memulai pertempuran.
Ada kekhawatiran yang berkembang bahwa negara lain mungkin terlibat langsung dalam konflik di kawasan strategis Kaukasus itu. Turki telah secara terbuka mendukung Azerbaijan, sementara Rusia – yang memiliki pangkalan militer di Armenia – telah menyerukan gencatan senjata segera. tri, ana, bbc, sin