Konflik Memanas, Armenia Ancam Serang Azerbaijan dengan Rudal Rusia

 

Reuters
Perang di Nagorno-Karabakh pecah mulai Minggu kemarin dan berlanjut hingga saat ini.

YEREVAN (global-news.co.id)- Armenia mengancam akan mengerahkan sistem rudal Iskander-M buatan Rusia untuk menyerang Azerbaijan dalam perang di Nagorno-Karabakh. Senjata itu akan dioperasikan jika Turki mulai menggunakan pesawat jet tempur F-16 buatan Amerika Serikat (AS) untuk membela Azerbaijan.

Ancaman itu dilontarkan Duta Besar Armenia untuk Rusia Vardan Toganyan dalam wawancaranya dengan kantor berita RIA yang dilansir, Selasa (29/9/2020).

Menurutnya, sejauh ini pihak Armenia memiliki sistem pertahanan udara yang cukup untuk melumpuhkan drone Turki dan Azerbaijan.

Perang di Nagorno-Karabakh pecah mulai hari Minggu dan berlanjut hingga Senin kemarin. Pihak Armenia menuduh Azerbaijan menggunakan jet tempur F-16 Turki untuk menyerang pasukannya dan pasukan Nagorno-Karabakh. Puluhan orang tewas dalam konflik tersebut.

“Pimpinan militer telah berulang kali menyatakan bahwa jika pedang Damocles dalam bentuk F-16 Turki menggantung di atas rakyat Nagorno-Karabakh, semua tindakan akan diambil, termasuk Iskander. Artinya, Angkatan Bersenjata Armenia harus menggunakan seluruh persenjataannya untuk memastikan keamanan,” ancam Toganyan.

Pihak Armenia mengklaim bahwa 4.000 militan bertempur di pihak Azerbaijan, yang telah dipindahkan Turki dari Suriah. Sekadar diketahui, sistem misil taktis Iskander pertama kali terlihat di Yerevan pada 16 September 2016 saat parade militer untuk memperingati ulang tahun ke-25 kemerdekaan Armenia. Pada musim dingin 2016-2017, sejumlah pejabat Armenia, termasuk Presiden Serzh Sargsyan, secara resmi mengonfirmasi bahwa militer republik itu memiliki kompleks sistem rudal buatan Rusia tersebut.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Armenia Artsrun Hovhannisyan mengatakan dalam jumpa pers hari Senin bahwa Yerevan dapat menggunakan persenjataan berat jika “logika pertempuran” menyerukannya.

Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Azerbaijan Azeri Jeyhun Bayramov menanggapi dengan mengatakan bahwa Baku memiliki tanggapan yang memadai dan siap untuk segala potensi eskalasi dari pihak Armenia. Namun, dia tidak memberikan penjelasan spesifik tentang respons yang akan diambil.

Presiden Armenia Armen Sarkissian menuduh Turki secara langsung memasok Baku dengan drone kelas militer, tentara bayaran, dan bahkan jet tempur F-16. Namun, Azerbaijan menyatakan bahwa Turki tidak ikut serta dalam pertempuran apa pun di Nagorno-Karabakh.

PBB Desak Akhiri Bentrokan

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Minggu mendesak Azerbaijan dan Armenia untuk segera mengakhiri bentrokan di wilayah Karabakh Atas, atau Nagorno-Karabakh.

Mengutuk penggunaan kekuatan dan kematian warga sipil, Guterres meminta semua pihak untuk segera menghentikan pertempuran, mengurangi ketegangan dan kembali ke negosiasi tanpa penundaan.

Dia mengatakan akan berbicara melalui telepon dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev dan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan.

Dalam sebuah pernyataan, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga mengutuk tindak kekerasan tersebut dan meminta kedua negara untuk segera mengakhiri bentrokan. “Amerika Serikat khawatir dengan laporan aksi militer skala besar di sepanjang Garis Kontak di zona konflik Nagorno-Karabakh yang telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan, termasuk warga sipil. Kami menyampaikan belasungkawa kami kepada keluarga korban yang tewas dan terluka,” tulis pernyataan itu.

Pernyataan tersebut menekankan bahwa Wakil Menteri Stephen Biegun menghubungi Menteri Luar Negeri Azerbaijan Jeyhun Bayramov dan Menteri Luar Negeri Armenia Zohrab Mnatsakanyan untuk mendesak kedua belah pihak untuk segera menghentikan permusuhan.

Amerika Serikat yakin partisipasi dalam kekerasan yang meningkat oleh pihak luar akan sangat tidak membantu dan hanya memperburuk ketegangan regional.

“Kami mendesak kedua pihak untuk bekerja dengan Ketua Bersama Minsk Group untuk kembali ke negosiasi substantif secepat mungkin. Sebagai Ketua Bersama OSCE Minsk Group, Amerika Serikat tetap berkomitmen untuk membantu kedua pihak mencapai penyelesaian konflik yang damai dan berkelanjutan,” tambah pernyataan itu.

Bentrokan perbatasan meletus Minggu pagi setelah pasukan Armenia menargetkan pemukiman sipil dan posisi militer Azerbaijan.

Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan Armenia sekali lagi membuktikan bahwa mereka adalah hambatan terbesar bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan dan menambahkan bahwa Turki akan mendukung Azerbaijan dengan segala cara.  “Baku memiliki hak pertahanan diri untuk melindungi rakyat dan wilayahnya,” tegas kementerian.

Hubungan antara kedua negara bekas Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Karabakh Atas, atau wilayah Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.

Empat Dewan Keamanan PBB dan dua resolusi Majelis Umum PBB serta banyak organisasi internasional menuntut penarikan pasukan pendudukan dari wilayah tersebut.

OSCE Minsk Group – diketuai bersama oleh Prancis, Rusia dan AS – dibentuk pada 1992 untuk menemukan solusi damai bagi konflik tersebut, tetapi tidak berhasil. zis, ria, sin, ins