Kisah Pasien Covid-19 Sembuh Saat Isolasi Mandiri (1): Tidak Seseram yang Dibayangkan, Cukup Fokus Jaga Tubuh Selalu Sehat

Masdawi Dahlan (tengah) bersama temannya sesama wartawan.

Banyak kisah pasien Covid-19 sembuh. Tapi kebanyakan mereka pasien yang dirawat di rumah sakit dengan pengawalan tim medis. Namun, sejatinya banyak pula kisah pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di rumah. Mereka sembuh setelah fokus menjaga tubuh agar tidak drop alias harus selalu sehat. Salah satunya kisah Masdawi Dahlan, wartawan Global News perwakilan Pamekasan ini.   
SAYA tidak manyangka jadi bagian dari orang yang terpapar Covid-19. Sebab sejak pemerintah mengumumkan secara resmi bahwa Covid-19 ini sudah menjadi pandemi global, saya selalu berusaha untuk menjaga diri. Tiap keluar rumah terutama saat bekerja, saya selalu tidak lepas dari masker. Pada saat salat berjamaah di masjid pun, saya termasuk jamaah yang mengawali menggunakan masker.
Hingga saat ini saya juga tidak tahu di mana dan oleh siapa saya terjangkit virus Corona tersebut. Yang pasti kesempatan bertemu banyak orang bagi saya hanya terjadi pada saat bekerja hunting berita, saat di masjid atau mungkin saat ke pasar belanja bersama keluarga. Meski demikan saya tetap menggunakan masker.
Saya menghitung sejak pertama kali mengalami gejala Covid-19 hingga sembuh waktunya sekitar satu bulan. Gejala yang pertama kali saya rasakan adalah diawali dengan kelelahan. Mungkin itu terkait dengan mobilitas kesibukan saya. Tepatnya tanggal 31 Mei 2020 malam, saya mengalami deman badan panas dan sedikit batuk, tapi tidak berdahak.
Semalaman saya kurang sempurna tidur. Oleh keluarga saya diberi obat penurun panas lalu minum madu, royal jelley, dan produk herbal sehat lainnya. Keesokan harinya tepatnya Senin (1/6/2020) saya mulai baikan, meskipun kalau ke kamar mandi menyentuh air masih merasa sangat kedinginan.
Pada Senin (1/6/2020) malam saya sudah normal tidur dan pagi keesokan harinya Selasa (2/6/2020) saya kembali normal melaksanakan tugas hunting mencari berita ke lapangan. Namun saat itu kondisi fisik masih belum pulih seratus persen, tampak ada perasaan yang cepat lelah. Kondisi ini terjadi hingga hari ke-10 dari mulai saya terpapar demam tersebut.
Satu-satunya Reaktif
Lalu Jumat (12/6/2020) ada program rapid test gratis dari Pemkab Pamekasan bagi para wartawan, saya ikut di dalamnya. Ternyata dari 21 orang wartawan yang ikut rapid test itu, saya satu-satunya yang hasilnya reaktif. Mulai saat itu oleh Dr Syaiful Hidayat, Ketua Satgas Covid-19 RSUD Pamekasan, saya disarankan untuk isolasi mandiri di rumah, sambil menunggu hasil tes swab atau tes PCR untuk menentukan positif atau tidaknya  saya terpapar Covid-19.
Pada Jumat (18/6/2020)  saya mengikuti tes  PCR atau tes swab di RSUD Pamekasan. Sayang waktu itu hasilnya tidak bisa diumumkan langsung, tetapi harus menunggu seminggu kemudian, karena sampel tes swab harus diuji di laboratorium RSUD Dr Sutomo Surabaya. Dan hasilnya tanggal 25 Juni 2020 keluar:  saya dinyatakan positif Covid-19.
Setelah dipastikan positif Covid-19 saya sempat stres. Namun tidak terlalu lama saya kembali stabilkan kondisi kejiwaan saya. Saya pasrah apa yang saya alami ini adalah ujian dari Allah SWT. Sehingga membuat saya bisa lebih tenang, tinggal menunggu masa negatifnya. Yang juga membantu saya tenang saat itu adalah karena kondisi fisik saya yang tetap prima, tidak mengalami gangguan atau keluhan apa pun. Badan terasa sehat bugar.
Yang juga membuat saya semakin tenang adalah setelah saya menerima tabel fase masuk hingga matinya virus Corona dalam tubuh manusia. Saya mendapatkan tabel itu dari seorang teman saya yang juga sudah sembuh dari Covid-19. Isi tabel itu ternyata persis sama dengan yang pernah diumumkan oleh WHO.
Dalam tabel itu dijelaskan bahwa rentang waktu masuknya vius menyerang hingga matinya virus berlangsung sekitar 28 hari. Minggu pertama virus masuk, minggu kedua anti body manusia melawan virus hingga hari ke-14. Jika sampai  hari ke -14 fisik aman, maka berarti fisik atau antibody  menang melawan virus tersebut. Nah, pada hari ke-15 hingga hari ke- 28 adalah masa melemahnya virus hingga mati pada hari ke-28.
Saya semakin senang karena pengumuman bahwa saya positif Corona diketahui pada saat saya sudah berada di hari ke-25 dari sejak pertama kali terpapar demam.  Sehingga saya tinggal menunggu tiga hari saja untuk kemudian semua virus yang ada dalam tubuh saya sudah mati. Ternyata betul, ketika saya ikut tes swab yang kedua maka hasilnya negatif. Alhamdulillah.
Minyak Kayu Putih
Saat dipastikan saya positif Corona, saya berupaya untuk mengikuti saran dokter mengkonsumsi aneka vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Vitamin C, D, E dan multi vitamin lainnya. Saya juga mengkonsumsi susu kambing asli, madu asli dan telur ayam kampung rutin tiap hari.
Selain itu saya juga minum ramuan temu lawak dan kunyit yang dicampur madu. Lalu rajin meluberi badan dengan minyak kayu putih tiga kali sehari setelah mandi dan minum air hangat yang diberi tiga tetes minyak kayu putih. Minyak kayu putih saya juga sering saya gunakan untuk dihirup dengan menggunakan tisu. Dan yang tidak boleh dilupakan saya rajin berolahraga ringan atau berjemur di panas matahari antara jam 8 hingga jam 10 pagi.
Dalam keluarga, istri dan dua anak perempuan saya, juga saya yakini  tertular virus itu dari saya. Namun mereka tidak mengikuti prosedur tes seperti saya. Pihak Dinkes menyarankan istri dan dua anak saya dites nanti jika saya dipastikan positif covid-19.
Apa yang saya alami pada kondisi fisik saya juga sama dengan yang dialami oleh keluarga saya. Kami sekeluarga hanya sekitar empat hari saja merasakan pengaruh langsung dari demam yang saya alami. Setelah itu kami semua segar bugar seperti biasa.
Tes swab atau PCR yang kedua untuk mengetahui perkembangan virus pada tubuh saya dilakukan pada tanggal 6 Juli, dengan jarak rentang waktu sekitar 36 hari sejak saya pertama kali terpapar pada tanggal 1 Juni 2020. Saat itu diketahui hasilnya sudah negatif. Setelah diketahui negatif, pihak Dinkes Pamekasan lalu melakukan tes swab untuk istri dan anak anak saya, hasilnya juga negatif semua. Alhamdulillah.
Secara keseluruhan yang dirasakan saya dan keluarga, sepertinya terpapar Covid-19 itu, tidak seseram yang diberitakan di media atau di bayangan orang-orang selama ini. Kecemasan dan kekhawatiran memang ada. Tapi jika kondisi fisik aman dan tidak ada keluhan, maka itu menjadi bukti bahwa kita dalam keadaan aman dan tinggal menunggu masa negatifnya virus saja. (Gatot Susanto)