‘Jangan Ngeyel, Virus itu Ada’

Penggali kubur kewalahan menguburkan jenazah yang terpapar Covid-19

Anjuran untuk menerapkan protokol kesehatan selama masa pandemi Covid-19 tak henti-hentinya digaungkan demi memutus mata rantai penularannya. Di sisi lain, di masyarakat banyak beredar narasi yang kerap mengecilkan bahaya virus Corona bahkan menyebut virus itu tidak ada.

Situs resmi Satgas Penanganan Covid-19 menyebutkan, hingga Rabu (23/9/2020) pukul 12.00, kasus baru Corona di Indonesia bertambah sebanyak 4.465. Penambahan itu menyebabkan jumlah total kasus Covid-19 di Indonesia ada 257.388 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020. Sementara jumlah yang meninggal 9.977, dan sembuh sebanyak 187.958. Provinsi DKI Jakarta masih tetap menjadi penyumbang kasus baru terbanyak, yakni 1.133 kasus, terbanyak kedua dan ketiga terjadi di Jawa Barat (516 kasus) dan Jawa Timur (338 kasus).

Terus meningkatnya kasus Covid-19, menurut Sita Tyasutami merupakan imbas dari kelalaian bersama. Menurut pasien 01 Covid-19 ini, Corona bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.

“Menurut aku, kasus ini jadi banyak banget karena kelalaian publik, sih. Karena mereka menuntut pemerintah nyelesain, tapi nggak membantu memutus rantai penularan,” tuturnya.

Untuk memutus rantai penularan demi mencegah laju pertambahan kasus, juru bicara Satgas Penanganan Covid-19, dr Reisa Broto Asmoro, mengajak masyarakat bersama-sama mematuhi protokol kesehatan, mengingat pandemi belum berakhir. Gerakan 3M menggunakan masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir perlu sering dilakukan saat beraktivitas di luar rumah. Sementara pemerintah melakukan 3T, testing, tracing, dan treatment atau pemeriksaan, pelacakan, dan perawatan dalam menghadapi Covid-19.  “Pemerintah 3T kita 3M, Indonesia pasti bisa,” ujarnya dalam suatu konferensi virtual dari Kantor Presiden, Jumat (18/9/2020).

Sita menyayangkan masih banyak beredar narasi yang kerap mengecilkan bahaya virus. Bahkan menyebut virus itu tidak ada.

Pandemi yang di Indonesia berlangsung sejak Maret diikuti pula oleh badai misinformasi. Informasi sesat, rumor yang belum terverifikasi, stigma, dan teori konspirasi banyak beredar di ruang daring.

Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho, mengatakan, sepanjang Januari sampai September 2020, ada setidaknya 609 kabar bohong soal pandemi Covid-19 atau misinfodemik di Indonesia. Kabar bohong terkait Covid-19 ini nyatanya tak hanya muncul di negara kita, tapi di 87 negara. Artikel bertajuk Covid-19 Related Infodemic and Its Impact on Public Health: A Global Social Media Analyst yang ditulis Md Saiful Islam di The Journal of Tropical Medicine and Hygiene (2020) menyebutkan, dari 87 negara itu Indonesia menduduki peringkat ke-5 terbanyak setelah India, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Spanyol.

Dalam kesimpulan artikel itu disebutkan, informasi sesat dan rumor bisa menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat pada para petugas medik. Akibatnya juga bisa fatal pada kesehatan masyarakat. Upaya memutus penularan Covid-19  juga semakin sulit.

Bisa jadi informasi sesat itu yang mengakibatkan adanya masyarakat yang mencuri jenazah pasien Covid-19 atau membuka jenazah bahkan menciumnya sebagaimana terjadi di Malang, mengintimidasi dokter dan perawat, bahkan memercayai Covid-19 tidak ada, hanya diciptakan media atau untuk kepentingan rumah sakit.

Sita menuding orang yang kerap mengaitkan Corona dengan konspirasi adalah orang yang egois. “It’s not about you and me. It is about us. Jadi kalau kalian mengaitkan ini dengan konspirasi dan tidak memperhatikan protokol kesehatan, ya kalian sangat egois,” ujarnya sebagaimana dikutip detikcom.

Dia pun menilai kasus Corona yang terus meningkat ini merupakan imbas dari kelalaian bersama. Kelalaian itu juga menyebabkan 117 dokter meninggal dunia karena terinfeksi Covid-19. Belum lagi perawat dan tenaga medis lainnya yang berjibaku menangani pasien Covid-19.

Menurut Sita, corona bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Sebagai penyintas Corona, Sita kerap ikut bergerak mengedukasi orang-orang di sekitarnya. Menurutnya, masih banyak orang yang tidak percaya akan keberadaan virus Corona.

Endi, salah satunya. Pedagang pasar tradisional di Kota Bogor ini jarang menggunakan masker. Katanya, sebelum bekerja dan keluar rumah selalu berserah pada Tuhan dan meminta perlindungan. Karena itu dia dan tak mengenakan masker.

Dalam mengedukasi masyarakat, Sita juga membagi-bagi masker ke orang di sekitarnya. “Banyak orang yang nggak percaya virus ini ada. Tapi ini kan menyangkut hidup semua orang ya. Keluarga kita. Rakyat Indonesia. Jadi kalau nggak percaya, telen-telen aja sendiri. Tapi tetap terapkan health protocol,” tegasnya.

“Virusnya itu beneran ada. Bukan diada-adain untuk konspirasi dan politik. Virusnya beneran ada. Kalau nggak ada, ngapain kakakku sampai donor plasma buat dijadiin riset untuk vaksin,” kata Sita yang bersama ibu dan kakaknya tercatat sebagai pasien 01, 02, dan 03 Covid-19.

Kesaksian virus Covid-19 itu nyata juga disampaikan Achmad Bachtiar. Alumni Universitas Al Azhar Indonesia ini  menyebut virus Corona bisa saja menyerang siapa saja dan memang nyata adanya.

“Awalnya aku ga percaya sama pandemi Covid-19 ini. Sampai aku dan kakak aku dinyatakan positif Covid-19 pada akhir bulan Juli lalu,” sebut Achmad dalam videonya.

Saat itu Achmad tak bisa merasakan indra penciuman, indra pengecapan, batuk, dan flu. Ia menyebut makanan full di kulkas, tapi ia tidak bisa menikmatinya. Mi rebus saat dimakan tidak ada rasa, dan minum jamu pun nggak ada rasa. “(Minyak) Kayu putih diteteskan ke lidah juga nggak ada rasanya, kumur-kumur pakai B*** juga nggak ada rasanya. Makan buah dan madu juga nggak ada rasanya,” tambah pria yang di saat harus berjuang melawan Covid-19 juga tengah berjuang untuk lulus dari sidang skripsinya.

Kayakinan virus itu ada juga disampaikan penggali kubur TPU Pondok Ranggon, Adang.  Dari waktu ke waktu jumlah galian yang dibuat terus bertambah. Peningkatan itu terjadi mulai Juni dan pada Agustus semakin banyak. Dalam sehari bisa menggali 40 liang lahat dan penguburan jenazah itu berlangsung dari pagi pukul 07.00 hingga 22.00. “Jam 5 sore sudah antre 8 mobil jenazah,  kasihan banyak jenazah telantar. Jadi tolong patuhi aturan. Jangan ngeyel, virus itu benar ada,” ujarnya.eno