Guru Besar Unair Gugur karena Covid-19

Prof Boediwarsono dan Farida, meninggal di hari yang sama karena Covid-19.

SURABAYA (global-news.co.id) –  Guru besar Universitas Airlangga, Prof Dr dr Boediwarsono SpPD K-HOM, meninggal dunia di RS Darmo pada Minggu (6/9/2020).  Spesialis penyakit dalam khusus kanker ini merupakan dokter ke-29 di Jatim yang meninggal karena Covid-19.

Minggu sore, sang istri, Farida, yang sebelumya juga dirawat di RS Darmo karena Covid-19, akhirnya menyusul menghadap sang khalik.

Jenazah Boedi sudah dimakamkan pagi tadi sekitar pukul 09.00 di TPU Keputih. Sebelum diberangkatkan ke pemakaman, beberapa perawat RS Darmo menggelar shalat jenazah untuk almarhum dengan protokol Covid-19.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya, dr Brahmana Askandar SpOG, membenarkan Boedi meninggal dunia karena Covid-19. Almarhum juga memiliki komorbid atau penyakit penyerta, namun Brahmana enggan membeberkan komorbid tersebut.

Diungkapkan, Boedi tidak bertugas langsung di ruang perawatan Covid-19, tapi membuka praktik sendiri. Kemungkinan, almarhum tertular saat praktik dan menerima pasien yang membawa virus Corona. “Beliau umurnya 75 tahun dan memang ada komorbid. Tapi beliau tidak bertugas di ruangan khusus perawatan Covid-19,” jelas Brahmana.

Dalam webinarnya bertajuk Hidup Sehat Menanggulangi Covid-19 di Surabaya pada 25 Juli lalu,  Boedi yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Covid-19, mengingatkan masyarakat untuk senantiasa mengikuti saran Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya drg Febria Rachmanita dalam upaya menekan angka Covid-19. Agar memudahkan dalam mengingat, Boedi membuat jembatan keledai. “Pokoknya ingat-ingat saja McD, 3E, dan 5R,” ujarnya saat itu.

McD yang dimaksud masker, cuci tangan, dan distancing, 3E lakukan exercise, eating well, dan enjoy life, sedang 5R adalah hindari rapat, ruangan tertutup, ramai-ramai, rumpi dan ribut.

Prof Boedi yang kelahiran Blitar menikahi dengan Farida pada 22 Otkober 1972 setelah menjalani pacaran selama 3 bulan. Mereka kemudian dikaruniai 3 orang anak laki-laki yang semuanya juga berprofesi sebagai dokter.ret

 

              Dokter di Jatim yang gugur terinfeksi Covid-19:

      1. dr Berkatnu Indrawan Janguk (IDI Surabaya)
      2. dr Boedhi Harsono (IDI Surabaya)
      3. dr Soeharno (IDI Kediri)
      4. dr Ignatius Tjahjadi SpPD (IDI Surabaya)
      5. dr Hilmi Wahyudi (IDI Gresik)
      6. dr Miftah Fawzy Sarengat (PPDS FK Unair, RS Soetomo, IDI Balikpapan)
      7. dr Bendrong Moediarso, SpF, SH (IDI Surabaya)
      8. dr H. Dibyo Hardianto (IDI Bangkalan)
      9. dr Anang Eka Kurniawan (IDI Bangkalan)
      10. dr Deny Dwi Yuniarto (IDI Sampang)
      11. dr Gatot Prasmono (IDI Sidoarjo)
      12. dr Sukarno (IDI Sidoarjo)
      13. dr Arief Basuki SpAn (IDI Surabaya)
      14. dr Putri Wulan Sukmawati (PPDS Anak FK Unair/RS Soetomo Surabaya)
      15. dr Agus Pramono (IDI Sidoarjo)
      16. dr Pepriyanto Nugroho (IDI Blitar)
      17. dr Abdul Choliq (IDI Probolinggo)
      18. dr Budi Luhur (IDI Gresik)
      19. dr Deni Chrismono Raharjo (IDI Surabaya)
      20. dr Arif Agoestono Hadi (IDI Lamongan)
      21. dr Djoko Wiyono (IDI Surabaya)
      22. dr M. Ali Arifin (IDI Sidoarjo)
      23. dr Sony Putrananda (IDI Blitar)
      24. dr Edi Suwasono (IDI Kota Malang)
      25. dr Sulis Bayu Sentono, MKes, SpOT (K) (IDI Surabaya)
      26. Prof Dr dr R. Mohammad Muljohadi Ali, SpFK (IDI Malang Raya)
      27. dr Ach. Chusnul Chuluq Ar, MPH (IDI Malang Raya)
      28. dr Riyanto SpOG (IDI Tuban)
      29. Prof Dr dr Boediwarsono SpPD, KHOM, FINASIM (IDI Surabaya)