Di E-Talkshow TVOne, Badrut Tamam Puas Jika Rakyat Tersenyum

PAMEKASAN (global-news.co.id) – Bupati Pamekasan Badrut Tamam kembali mendapatkan kesempatan tampil dalam acara E-Talkshow di TVOne, Jumat (18/9/2020) malam. Dalam acara bincang santai dan cerdas yang dipandu oleh host Wahyu Muryadi itu, Badrut Tamam mengungkapkan tentang kesiapan dirinya hingga obsesi hidup dan apa yang dilakukannya setelah menjadi Bupati Pamekasan.

Badrut Tamam yang hingga kini baru sekitar dua tahun memimpin Pamekasan bersama Wakilnya, Raja’e, menegaskan, bahwa menjadi pemimpin ukurannya adalah membantu masyarakat. Jika masyarakat sudah bisa tersenyum dengan apa yang dilakukannya, maka di situlah sebagai seorang pemimpin baru merasa puas.
“Misal orang yang sebelumnya rumahnya tidak layak jadi layak, tidak mampu untuk sekolah jadi mampu sekolah. Itulah kepuasan bagi seorang pemimpin, dan jauh sebelum itu cita-cita menjadi bupati ini sebenarnya tidak ada pada diri saya,” ungkapnya.
Dia mengaku cita citanya sederhana, membantu orang. Sebagai keluarga pesantren di sebuah desa di Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, dalam keluarganya selalu ditamankan tekad membantu, memberi solusi, dan tidak pernah berharap bayaran dari orang.

“Ini pelajaran dari orang tua, rezeki itu dari gusti Allah, itu yang disampaikan selalu, dan ini akhirnya menjadi kepribadian,” akunya.
Sebagai keluarga pesantren dia sempat belajar di sejumlah pesantren dan akhirya memutuskan juga menempuh studi formal Fakultas Psikologi di UMM Malang. Dia juga aktif di beberapa organisasi kajian dan kelompok diskusi. Dari situlah lahir pemikiran yang tidak terbayangkan sebelumnya bahwa yang bisa mengubah kehidupan itu dengan kepemimpinan.
“Nah cara berfikir itulah yang kemudian menjadi tempat saya untuk belajar politik lebih dalam dan kemudian di 2009 terpilih menjadi anggota DPR Jawa Timur termuda waktu itu dari PKB. Di tahun 2018 kemarin berkat kehendak dari rakyat terpilih jadi Bupati,” katanya.
Saat kuliah Badrut Tamam senang membaca dan akhirnya bakat memnulis. Dengan menulis dia mendapat honor untuk menunjang biaya hidupnya. Dia mengaku ditinggal sang ayah sejak usia SD karena itu harus mandiri termasuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Saya pernah jualan kerupuk. Jadi di Madura itu ada krupuk enak, saya bawa ke Malang, saya titipkan ke beberapa pasar. Karena mungkin rezeki anak saleh, akhirnya laku banget, sampe ada yg digoreng baru kemudian dikirim ke warung-warung. Waktu itu lumayan pendapatan dari jualan, termasuk bisa lanjutin S2,” ungkapnya.
Selain semangat memberikan bantuan bagi kehidupan, katanya, ada kalimat luar biasa yang diterima dari temannya sesama aktifis bahwa bahwa menjadi pemimpin itu dan membangun daerah atau negara akan dikenang dalam sejarah, dan amalnya itu sampai ke generasi selanjutnya.
Lalu apa yang dilakukan setelah jadi Bupati?
Untuk menjadikan sebuah daerah menjadi luar biasa, kata Badrut Tamam, maka harus membangun dengan cara yang luar biasa juga. Berbagai upaya dilakukan di 100 hari pertama kepemimpinannya, di antaranya membangun Mall Pelayanan Publik (MPP) dan membranding seluruh mobil dinas dengan batik tulis khas Pamekasan.
Dan dari dua gebrakan itu dia mendapatkan dua penghargaan sekaligus dari MURI. Branding mobil dinas dengan batik tujuannya promosi batik Pamekasan yang dikenal sebagai batik terbaik dan MPP dibuat untuk memberikan pelayanan public yang cepat mudah dan murah.
Di pemberdayaan ekonomi, sesuai janji politiknya, Badrut Tamam membuat program 10 ribu pengusaha baru yang kemudian bernama Program Sapu Tangan Biru. Anak anak muda yang mau mengembangkan desanya dilatih, dibantu alat produksi, dibantu modal baru, kemudian dicarikan pasarnya. Untuk jaga atmosfer semangat menjadi pengusahanya lalu dibuatlah millenial talent hope.
“Jadi anak-anak muda yang punya bakat di situ kita kembangkan tetapi spiritnya adalah menjadi entrepreneur baru. Saya iri kalau peci sandal sepatu tidak ada yang diproduksi di Madura. Akhirnya saya berpikir perlu dong ada desa yang produksi sandal, sepatu, peci. Saya dorong desa tematik, ada desa tema sandal, tema sepatu dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Syarat untuk menjadi kabupaten maju, kata Badrut Tamam, cukup penuhi tiga hal. Pertama pemimpinnya punya komitmen membangun perubahan luar baisa, aparatur sipilnya keluar dari kebiasaaan lama menuju kebiasaan baru dan kemudian mendapatkan partisipasi masyarakat. “Yang paling berat mendorong partisipasi masyarakat. Kendala mesti banyak untuk mendorong partisipasi public karena membangun habit baru ini bukan hal mudah,” tandasnya.
Sebagai seorang santri Badrut Tamam mengaku ada yang luar biasa dalam diri santri yang bisa dipakai untuk membangun negeri. Karena ada ciri kepribadian santri yakni sederhana, semangat juang, ikhlas dan jujur dan amaliyah, bagus moralitasnya. Terkait dengan itulah lalu Pemkab Pamekasan mulai tahun anggaran 2020 ini membuat program beasiswa santri. (mas)