Berharap pada Plasma Konvalesen Sembari Menunggu Vaksin

Ketika vaksin Covid-19 masih dalam proses penelitian dan diprediksi baru tersedia pada pertengahan 2021, sejumlah upaya terus dilakukan untuk mengobati pasien yang terjangkit Covid-19 yang jumlahnya terus meningkat. Salah satunya dengan terapi plasma konvalesen, yang sejak Selasa (8/9/2020) uji kliniknya juga dilakukan di RSAL Dr Ramelan Surabaya dan RSUD Sidoarjo.

Terapi plasma konvalesen (TPK) ini menjadi harapan baru karena prosesnya yang relatif mudah, seperti transfusi darah. Manfaat terapi ini adalah memunculkan kekebalan instan pada penderita Covid-19 yang sudah parah. “Zaman sekarang kan semuanya serba instan,” terang Theresia Monica Rahardjo, ahli genetika dan biologi molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha Bandung yang mengembangkan TPK di Indonesia.

Sejak Juli, uji klinik TPK ini sudah dilakukan di RSUD dr Soetomo bersama  sejumlah rumah sakit lainnya di berbagai kota di Indonesia. “Karena sifatnya masih uji klinik, kami memang tak berani gembar-gembor tentang terapi ini. Lagi pula ini di bawah Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset dan Teknologi, dan RSUD dr Soetomo menjadi salah satu center uji klinik,” ujar dr Betty Agustina Tambunan SpPK (K), kepala instalasi transfusi darah RSUD dr Soetomo, Rabu (9/9/2020).

Diungkapkan, ada kriteria tertentu bagi siapa saja yang bisa menjadi donor plasma dan siapa yang menjadi penerima. Dan karena masih uji klinik, kontrol darah dan foto thorax terus dilakukan. “Ini sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan Kemenkes dan Kemenristek,” ujarnya.

TPK adalah pemberian plasma dari pasien Covid-19 yang sudah sembuh kepada pasien Covid-19 yang masih menderita sakit sehingga antibodi (kekebalan) dalam plasma pasien yang sembuh dapat membantu pasien yang masih sakit untuk mengatasi penyakitnya. Bisa dikatakan plasma pasien yang sembuh memiliki efek terapeutik.

Saat ini terapi plasma konvalesen terhadap pasien Covid-19 ini sedang dicoba oleh beberapa negara, termasuk Indonesia. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, Abdul Kadir, mengatakan dalam konteks uji klinik ini, Balitbangkes mendukung untuk menggunakan terapi konvalesen pada pasien Covid-19 sebagai terapi. “Namun, produk plasma konvelesen ini masih perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut,” kata Abdul dalam Kick-off Meeting Uji Klinik Pemberian Plasma Konvalesen sebagai Terapi Tambahan Covid-19 melalui kanal Youtube BalitbangkesTV, Selasa (8/9/2020).

Terapi plasma konvalensen menjadi harapan pasien Covid-19 di dunia, mengingat selama ini belum ada obat yang terbukti aman dan efektif untuk mengobati Covid-19.  Dan para peneliti telah membuktikan penggunaan plasma darah dari pasien Covid-19 yang telah pulih bisa mengobati orang lain yang menderita penyakit ini.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri sudah memberi lampu hijau terapi plasma konvalesen bagi pasien Covid-19 . Dengan catatan, sebelumnya harus menjalani uji klinis dulu secara ketat.

Menyadari manfaatnya, Arlansya dengan sukarela mendonorkan plasma darahnya. Mantan pasien Covid-19 ini sudah dua kali mendonorkan plasma darahnya dan mengaku senang bisa berbagi.

Soal pendonor dan resipien di RS dr Soetomo, Betty lagi-lagi tak bersedia menyebutkan angkanya mengingat ini masih merupakan uji klinik dan menjadi kewenangan Kemenkes dan Kemenristek.

Bukan hanya di Indonesia, di Korea Selatan, warga yang telah sembuh dari Covid-19 pun berbondong-bondong mendonorkan plasma darahnya. Setidaknya 1.000 anggota dari organisasi keagamaan dari Gereja Yesus Shincheonji berpartisipasi dalam mendonasikan plasma darah untuk pengobatan Covid-19. Kegiatan ini dilaksanakan sesuai undangan dari otoritas-otoritas kesehatan di Korea Selatan sebagai upaya untuk pengembangan vaksin. Man He Lee dari Shincheonji mengungkap, tantangan besar dari meneliti efektivitas dan pengembangan pengobatan plasma dari orang yang telah pulih adalah jumlah persediaan donor yang terbatas dari orang-orang yang sudah pulih dari virus.

Hermina, salah satu pasien Covid-19 yang sembuh setelah menjalani TPK di RSPAD Gatot Subroto.  Perempuan berusia 54 tahun ini mengaku awalnya mengeluh lambungnya sakit, selalu mual dan tidak memiliki nafsu makan. Dia tidak memiliki keluhan batuk atau sesak nafas, namun dari hasil tes PCR didapati dirinya positif Covid-19.

Di Indonesia, sejauh ini baru ada 29 rumah sakit yang telah bersedia dan mau untuk melakukan kerjasama dalam penerapan uji klinik TPK untuk Covid-19. Empat rumah sakit yang menyusul kemarin, selain RSAL Dr Ramelan dan RSUD Sidoarjo adalah RS Fatmawati Jakarta dan RS Hasan Sadikin Bandung. Abdul menuturkan, pihaknya tetap mengajak seluruh rumah sakit lainnya di Indonesia untuk bergabung dalam uji klinis plasma konvalesen ini.

Abdul Kadir menambahkan, proses uji coba klinis ini melibatkan banyak pihak. Balitbangkes Kemenkes merupakan koordinator nasional uji coba klinis terapi konvalesen, lalu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai pengawas dan Palang Merah Indonesia (PMI) selaku penyedia plasma.

Wakil Kepala Bidang Penelitian Translasional di Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof dr David H Muljono SpPD FINSASIM FAASLD PhD mengungkap, sejauh ini dari 364 sampel subjek penelitian terbagi antara psien yang menerima dan yang dikontrol dengan tiga tahap penilaian, per 30%. “Karena itu kita harapkan rumah sakit berbondong-bondong agar dapat mencukupi secara statistika agar datanya mencukupi sebagai kajian ilmiah yang dapat digunakan sebagai protocol production,” kata David yang juga peneliti utama terapi plasma konvalesen ini.

Uji klinik terapi plasma konvalesen ini juga ditargetkan dapat selesai paling lambat 30 Desember. Namun, jika data dan target subjek sampel penelitian tercukupi dengan baik, dan hasil keamanan dan efikasi (khasiat), serta pengujian netralisasi plasma bisa dilakukan dengan lebih cepat dan lebih baik. “Kita targetkan November sudah selesai, supaya bisa diberikan pada Desember untuk pasien sesuai dengan protokol production-nya (hasil evaluasi dan analisis uji klinik fase 2/3 terapi plasma konvalesen),” ujarnya.

Sementara itu, melansir data Mayo Clinic, orang yang berhasil pulih dari Covid-19 mengandung antibodi. Antibodi merupakan molekul yang telah mengenali dan mampu melawan patogen, seperti virus, yang menyebabkan penyakit.

Itu sebabnya, peneliti berharap plasma darah dari orang-orang yang telah pulih dari infeksi virus corona bisa meningkatkan kesembuhan orang yang masih berjuang melawan virus tersebut. Cara ini diharapkan dapat membantu sistem kekebalan tubuh pasien untuk memerangi virus dengan lebih efisien.

Terapi pemberian plasma darah ini juga diklaim bisa mencegah komplikasi dari infeksi Covid-19. Maka dari itu, para ahli kesehatan berharap mereka yang telah pulih dari Covid-19 bisa mendonorkan darah mereka untuk menekan angka kematian infeksi virus ini.