WHO Berharap Pandemi Corona Berakhir Kurang dari 2 Tahun

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus

JENEWA (global-news.co.id) — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)  berharap dunia dapat mengakhiri pandemi virus Corona dalam waktu kurang dari dua tahun atau lebih cepat dari yang dibutuhkan untuk menghentikan pandemi flu Spanyol pada 1918.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menggambarkan COVID-19 sebagai krisis kesehatan sekali dalam satu abad. Ia mengatakan bahwa sementara globalisasi telah memungkinkan virus menyebar lebih cepat daripada flu Spanyol pada tahun 1918, sekarang ada juga teknologi untuk menghentikannya yang tidak tersedia seabad yang lalu.
“Kami berharap pandemi ini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari dua tahun, terutama jika kami dapat mengumpulkan upaya kami,” katanya dalam jumpa pers seperti dikutip dari AP, Sabtu (22/8/2020).
Sementara itu Kepala Darurat WHO Dr Michael Ryan mencatat bahwa pandemi flu Spanyol pada 1918 menghantam dunia dalam tiga gelombang berbeda dan gelombang kedua, yang dimulai pada musim gugur 1918, adalah yang paling menghancurkan. Tetapi dia mengatakan tampaknya COVID-19 tidak mengikuti pola yang sama.
“Virus ini tidak menunjukkan pola seperti gelombang yang serupa. Saat virus tidak terkendali, ia melompat kembali ke atas,” jelasnya.
Ryan mengatakan bahwa meski virus pandemi sering menetap dalam pola musiman, tampaknya tidak demikian halnya dengan virus Corona.

Tembus 23 Juta
Sementara itu angka kasus infeksi virus Corona global terus merambat naik di tengah perlombaan sejumlah negara menemukan vaksin penyakit mematikan ini.
Dikutip dari situs pemantau online, worldometers.info, Sabtu (22/8/2020), jumlah kasus virus Corona di seluruh dunia telah mencapai angka 23.010.446. Dari jumlah itu, sebanyak 799.640 orang dilaporkan meninggal dan 15.628.664 dinyatakan sembuh.
Virus corona COVID-19 telah menyebar ke 213 negara dan wilayah di seluruh dunia dan 2 kendaraan internasional. Amerika Serikat (AS) masih menjadi negara yang paling terpukul pandemi global ini. Total kasus COVID-19 di AS telah mencapai 5.767.704 dengan total kematian mencapai 177.791 dan 3.102.002.
Brasil mengikuti dibelakangnya dengan jumlah kasus mencapai 3.513.039 dengan angka kematian mencapai 112.670. India menjadi satu-satunya negara Asia yang masuk dalam lima besar jumlah kasus infeksi COVID-19 tertinggi di dunia dengan 2.972.235 dengan total kematian mencapai 55.921 dan 2.217.241 dinyatakan sembuh.
Dua negara yang masuk dalam lima besar negara dengan jumlah kasus COVID-19 terbanyak adalah Rusia dengan 946.976 dengan total kematian mencapai 16.189 dan 761.330 dinyatakan sembuh. Terakhir ada Afrika Selatan dengan jumlah kasus 599.940 dengan angka kematian mencapai 12.618 dan 497.169 dinyatakan sembuh.
Sejumlah negara saat ini tengah berlomba untuk menemukan vaksin untuk penyakit mematikan ini. Rusia telah memperkenalkan vaksin Sputnik V dan akan mulai melakukan uji coba massal pada minggu depan.
Meski begitu, kemujaraban vaksin buatan Rusia masih dipertanyakan karena tidak melewati fase III uji coba.
Menurut WHO ada enam vaksin virus corona eksperimental, termasuk tiga kandidat dari Tiongkok telah memasuki uji klinis fase 3. Tiga vaksin COVID-19 Tiongkok yang telah masuk ke dalam kandidat adalah dari Sinovac, Institut Produk Biologi Wuhan/Sinopharm dan Institut Produk Biologi Beijing/Sinopharm. Tiga kandidat terkemuka lainnya dikembangkan oleh Oxford/AstraZeneca, Moderna/NIAID dan BioNTech/Fosun Pharma/Pfizer.
Sementara itu, dalam laporan terakhirnya, WHO memperingatkan virus Corona banyak disebarkan oleh orang pada usia antara 20 dan 40-an tahun yang sebagian besar tanpa gejala.
Itu artinya bahaya yang ditimbulkan pada kelompok rentan semakin besar. Pejabat WHO menjelaskan proporsi orang muda yang terinfeksi terus meningkat secara global sehingga menambah risiko pada kelompok rentan seperti warga lanjut usia dan orang sakit di populasi padat penduduk dengan layanan kesehatan buruk. tri, ap, sin